Oleh: Lin Yan

Hingga sekarang, para astronom masih bingung terhadap sistem bintang Eta Carinae di galaksi, karena dikenal memiliki perilaku yang unik dan pernah meledak setidaknya tiga kali pada abad ke-19. Tetapi sampai saat ini belum mengetahui apa sebabnya, terutama pada 1998 dan 1999, kecerahan Eta Carinae tiba-tiba meningkat dua kali lipat.

Eta Carinae adalah luminous blue variable-variable biru terang, terletak di rasi Carina, berisi benda langit paling terang di galaksi, berjarak 7.500 sampai 8.000 tahun cahaya dari Bumi. Setidaknya terdapat dua bintang di dalamnya, massa dari salah satu bintang tersebut sekitar 150 kali dari massa matahari, dengan kecerahan lebih dari 1 juta kali dari matahari. Sementara bintang satunya lagi memiliki massa yang sangat besar, yakni sekitar 30 kali dari massa matahari.

Para ilmuwan di University of Arizona mendapati bintang Eta Carinae ini mengalami setidaknya tiga kali ledakan, tapi belum diketahui apa sebabnya.

Para ilmuwan menganalisis kondisi ledakan bintang dalam dua pola. Pertama, aktivitas fusion bintang itu berhenti, tidak dapat mempertahankan bentuk bintang sehingga mengalami kehancuran. Kedua volume bintang menyusut menjadi bintang cebol putih, hingga akhirnya meledak dan mati karena kepadatan ekstrim, demikian dilansir dari laman Gizmodo.co.au, Senin (5/9/2016).

Sistem Eta Carinae adalah sebuah Nebula terbesar dan paling terang di galaksi, berjarak sekitar 7.500 tahun cahaya dari Bumi. (NASA)
Sistem Eta Carinae adalah sebuah Nebula terbesar dan paling terang di galaksi, berjarak sekitar 7.500 tahun cahaya dari Bumi. (NASA)

Namun, para ilmuwan menemukan bahwa penyebab ledakan bintang Eta Carinae itu sama sekali tidak cocok dengan kedua pola tersebut di atas. Sementara menurut catatan sejarah, pada abad pertengahan ke-19, Eta Carinae mengalami ledakan, dengan kecerahan yang meningkat tajam, yang membuat kecerahannya nyaris melebihi kecerahan bintang-bintang lainnya di angkasa, sehingga oleh ilmuwan disebut “Great Eruption” dan membentuk Homonculus nebula di sekitarnya.

Namun, sistem Eta Carinae belum mati, pada 1990-an abad ke-19, dan pertengahan abad ke-20, Eta carinae menjadi lebih terang. Terutama pada 1998 dan 1999, kecerahan Eta Carinae tiba-tiba meningkat tajam dua kali lipat.

Menurut laporan terkait, faktor yang menyebabkan Eta Carinae mengalami ledakan berkali-kali itu masih belum terpecahkan, namun, diyakini erat hubungannya dengan peristiwa lain yang terjadi di alam semesta. Mungkin juga pada 7.000 tahun silam, ia mengirim pesan tertentu pada manusia, yang tak tahu artinya.

Untuk saat ini, para peneliti mengatakan, tidak ada bukti yang menunjukkan kematian bintang ini. Mereka menjelajahi data periastron 2014 untuk membuat prediksi terbaru, dan akan diuji lagi ketika bintang-bintang ini berinteraksi bersamaan pada Februari 2020. (Epochtimes/joni/rmat)

Share

Video Popular