Di hari penutupan KTT G20, media berbahasa Jerman menyoroti G20 dan melakukan analisis, serta memberitakan secara luas sejumlah masalah.

Radio Free Asia mengutip pemberitaan media stasiun TV dan radio Jerman mengatakan, RRT ingin membentuk citra tuan rumah KTT yang terbuka dan terasa nyaman bagi seluruh dunia. Demi mewujudkan hal ini ribuan relawan dipekerjakan untuk menebar senyum di mana-mana. Media massa yang dikendalikan pemerintah menyatakan KTT ini akan digelar sebagai pesta rakyat yang mendunia. Tapi masyarakat dengan mudah bisa melihat, dibalik semua ini tersembunyi ketegangan luar biasa.

Reporter stasiun TV Swiss yang menetap di RRT juga mengatakan, pemerintah RRT beberapa bulan lalu telah mempersiapkan konferensi ini, dan telah  memperbaiki jalan raya, mengecat ulang bangunan serta papan rambu.

Kota berpenduduk 6 juta jiwa itu, pemerintahnya secara khusus memberikan liburan seminggu bagi warga yang berdiam di dekat lokasi dan menyediakan bantuan dana senilai lebih dari 1 milyar Euro (14, 7 triliun rupiah) bagi warga agar berwisata ke luar kota.

Sekitar 2 juta warga telah meninggalkan kota. Di saat yang sama, 1,5 juta orang diorganisir memberi pelayanan keamanan selama konferensi. Menurut pihak kepolisian RRT, di seluruh ruas jalan di Hangzhou terdapat 172 pos pengawasan, seluruh kota tidak ada sudut mati. Untuk memastikan tidak terjadi apa pun selama konferensi, pabrik dan mobil dalam radius 300 kilometer dibatasi secara ketat.

Deutsche Welle mengutus 3 orang reporter ke RRT untuk meliput KTT G20 Hangzhou, tapi pihak RRT menolak untuk memberikan kartu ijin kerja untuk masuk ke lokasi konferensi, sehingga mereka tidak bisa masuk untuk meliput. Wakil juru bicara pemerintah Jerman Ulrike Demmer beberapa waktu silam, mengecam perlakuan pihak RRT. Dia mengatakan, pemerintah Jerman berkali-kali telah mengutus pejabat tinggi untuk berunding dengan pihak RRT.

Harian Jerman “Tageszeitung” merilis artikel bahwa RRT menggelar karpet merah bagi semua pejabat asing setiap negara yang datang ke Hangzhou, kecuali untuk Presiden Obama. Artikel itu kemudian menyinggung perselisihan antara penasihat keamanan nasional AS Susan Rice dengan pejabat keamanan bandara RRT.

Mayoritas media Jerman berpendapat, selain meratifikasi “Perjanjian Perubahan Iklim Paris” bersama, antara RRT dan AS tidak ada prestasi politik dan ekonomi yang menggembirakan.

Di Luar Dugaan Putin Bawakan Es Krim untuk Xi Jinping dan Bayonet untuk Abe

Putin adalah sosok yang penuh kontroversi, berlatar belakang KGB dan kebijakan luar negeri yang tangan besi, membuat Putin tidak terduga. Pada KTT G20 dan Konferensi Vladivostok memberikan dua hadiah masing-masing kepada pemimpin RRT dan Jepang, juga tindakan tak terduga. Menurut AFP, Presiden Putin yang menghadiri KTT G20 di Hangzhou membawakan sekotak besar es krim Rusia sebagai bingkisan untuk Xi Jinping.

Xi Jinping menyambut Putin di Wisma Tamu Negara Xihu di Hangzhou, Putin berkata, “Saya telah berjanji membawakan es krim (kepada Anda), kali ini datang saya bawakan sekotak.”

Menurut informasi, Xi Jinping sangat menyukai es krim Rusia, setiap kali Xi Jinping ke Rusia pasti membeli es krim itu. Xi menyatakan terima kasih kepada Putin atas pemberian hadiah yang istimewa itu.

Putin mengatakan, seorang pengusaha RRT saat menghadiri Forum Ekonomi Timur di Vladivostok ketika berbincang dengannya mengeluh, ia sangat menyukai es krim Rusia tapi tidak boleh dibawa keluar dari Rusia. Terhadap hal ini, Putin menyatakan dirinya baru pertama kali mendengar hal ini, oleh karena itu ia memutuskan untuk membawakan sekotak bagi Xi Jinping sebagai “bingkisan istimewa”.

Menteri Ekonomi Rusia Akayev yang ikut serta dalam konferensi mengatakan, meskipun tidak tahu merek es krim yang disukai Xi Jinping, tapi tahu “Ia sangat senang, dan sangat suka es krim”.

Dua hari menjelang G20, Putin dan PM Jepang Shinzo Abe telah bertemu di Forum Ekonomi Timur yang diselengarakan di Vladivostok, serta telah bertukar hadiah. Putin menghadiahkan sebilah pedang samurai kepada Shinzo Abe, dan Abe menghadiahkan satu set baju jirah Bushido kepada Putin.

Menurut informasi pedang itu sangat berharga, merupakan salah satu dari 12 bilah pedang yang digunakan pada upacara penobatan Kaisar Hirohito pada 1928.

Desember tahun lalu ketika PM India Mody tiba di Moskow dalam kunjungannya, ia juga menerima hadiah istimewa dari Putin: sebilah pedang. Waktu itu Mody memberikan sebuah kotak berwarna coklat pada Putin, di dalamnya terpatri foto bapak negara India Gandhi dan Putin memberikan sebilah pedang pada Mody, sarung pedang dililit dengan tali biru. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular