Pada penelitian 2014 lalu, peserta didik yang berusia lanjut memiliki fleksibitas mental yang diperlukan untuk melakukan tugas persepsi visual tetapi tidak sebaik orang yang berusia muda dalam menyingkirkan informasi yang tidak relevan.

Temuan ini menepis anggapan selama ini bahwa otak orang berusia lanjut kurang fleksibel atau “kurang lentur”. Temuan ini menyoroti alasan yang berbeda mengapa orang berusia lanjut lebih sulit untuk belajar: karena orang berusia lanjut belajar melebihi yang perlu dipelajari. Peneliti menyebut hal ini sebagai “dilema kelenturan dan kestabilan”.

“Kelenturan masih dipelihara dengan baik pada orang berusia lanjut. Hal ini bertolak belakang dengan tinjauan banyak peneliti terhadap efek penuaan yang mengatakan bahwa tingkat kelenturan pada orang berusia lanjut menurun,” kata Takeo Watanabe, profesor di Universitas Brown, dan penulis penelitian Current Biology.

“Namun, kami menemukan masalah dalam stabilitas. Kemampuan pembelajaran dan memori manusia terbatas. Anda tidak ingin informasi dahulu kala yang masih penting dan berlaku digantikan dengan informasi yang tidak penting.”

Untuk mengadakan penelitian tersebut, Takeo Watanabe dan timnya membuat dua kelompok, yaitu satu kelompok terdiri dari 10 orang yang berusia antara 67 tahun sampai dengan 79 tahun dan satu kelompok yang lain terdiri dari 10 orang yang berusia antara 19 tahun sampai dengan 30 tahun untuk melakukan suatu eksperimen.

Titik pengganggu

Selama 9 hari, peserta penelitian dilatih untuk melakukan latihan visual yang sederhana: melihat sekilas urutan enam simbol, yang terdiri dari empat huruf dan dua angka, kemudian peserta disuruh melaporkan urutan angka yang mereka lihat. Penampilan mereka diuji pada akhir pelatihan yang akan dibandingkan dengan skor pra-uji mereka.

Peserta diperlihatkan suatu urutan huruf dan angka dengan latar belakang berupa titik-titik yang bergerak untuk mengalihkan perhatian peserta. Di belakang angka, pergerakan titik-titik menjadi lebih rapat (ditunjukkan oleh tanda panah pada citra di atas).

Peserta penelitian disuruh hanya memperhatikan dua angka, di mana setiap simbol yang mereka lihat mempunyai latar belakang titik-titik yang bergerak.

Peserta penelitian tidak mengetahui bahwa titik-titik tersebut bergerak dengan berbagai derajat kerapatan. Pada pra-uji dan pasca-uji, peneliti juga meminta kepada peserta untuk melaporkan arah pergerakan titik-titik ketika mereka melihat angka.

Peserta berusia lanjut melakukan kemajuan yang sama dengan peserta yang berusia muda dalam mengenali dua angka.

“Hasilnya menunjukkan pembelajaran sesuai tugas yang diberikan kepada peserta penelitian yang berusia lanjut sama seperti peserta yang berusia muda. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pada manusia usia lanjut bermasalah dalam hal kelenturan,”demikian dikatakan oleh penulis.

Sebelumnya Takeo Watanabe dan rekannya menerbitkan penelitian yang memperlihatkan kelenturan pada saat pembelajaran visual pada orang berusia lanjut adalah sama dengan orang muda.

Orang berusia lanjut juga mempelajari keterampilan yang ada hubungannya dengan arah dominan yang selektif dari pergerakan titik-titik.

Orang yang berusia muda hanya memperlihatkan kemajuan pada pergerakan yang selektif yang sulit dimengerti. Ketika pergerakan menjadi jelas, mereka mengenalinya.

Stimulus yang tidak relevan

Gagasan bahwa sinyal yang paling jelas adalah yang paling mudah disingkirkan, menunjukkan adanya perbedaan antara peserta yang berusia lebih tua dengan yang berusia lebih muda yang merupakan hal yang harus diperhatikan.

Oleh karena itu peneliti menyuruh peserta untuk melakukan uji lainnya untuk mengetahui kemampuan untuk mencari rangsangan yang berhubungan di antara sejumlah pengacau.

Hasilnya peserta yang berusia lanjut melakukan lebih buruk daripada peserta usia muda, yang memperkuat bukti bahwa sistem perhatian untuk menyingkirkan rangsangan yang tidak perlu lebih lemah pada pelajar yang berusia lanjut. Penting untuk diketahui bahwa semakin buruk kemampuan peserta usia lanjut untuk menyingkirkan rangsangan yang tidak diperlukan, maka semakin banyak rangsangan yang tidak diperlukan yang dipelajarinya.

Takeo Watanabe mengatakan bahwa temuan ini bukanlah berita yang mematahkan semangat, karena penyingkiran rangsangan yang tidak perlu dapat diperbaiki dengan melakukan beberapa jenis pelatihan.

“Harapannya adalah apa yang harus dilakukan oleh orang berusia lanjut adalah belajar keterampilan untuk menyingkirkan pembelajaran yang tidak perlu,” kata Takeo Watanabe.(Epochtimes/Vivi/Yant)

Share

Video Popular