Belakangan ini Korea Selatan mengalami beberapa masalah runyam, dari kasus “Perintah Pelarangan Budaya Korsel” dan menarik kembali seluruh produk Samsung Galaxy Note 7 yang beredar di dunia berhubung kerap terjadi kasus peledakan, hingga percobaan nuklir Korea Utara yang gila-gilaan. Segala peristiwa itu selain mengakibatkan Korsel mengalami kerugian ekonomi besar, juga keamanan negara sangat dipertaruhkan. Suka dan duka bermuara pada sebab-akibat.

Pada awal Agustus lalu Dinas Umum Siaran Radio, Film dan TV  daratan Tiongkok melaksanakan “Perintah Pelarangan Budaya Korsel”, membatasi pementasan bintang Korsel dan shooting film di RRT, walau tidak terlihat dokumen resminya, namun tindakan regulasi itu telah terjadi, bintang Korsel di RRT dihentikan kegiatannya atau terjadi penggantian peran, pemotongan gambar, tidak dapat tampil diacara TV dan lain sebagainya.

Pengaruh atas tindakan itu adalah, saham perusahaan hiburan besar Korsel sejak 2 Agustus itu menjadi anjlok, data menunjukkan, dalam tempo 3 hari terjadi penguapan nilai pasar berkisar US$ 324.87 juta (4,25 triliun rupiah) dari 4 perusahaan hiburan besar Korsel.

Pada 2 Agustus perusahaan Samsung mengumumkan HP keluaran terbarunya Galaxy Note 7, tak lama setelah tersiar kejadian kebakaran yang disebabkan oleh peledakan HP ketika pengisian daya atau sesudahnya, menimbulkan kepanikan kalangan penggemarnya di seluruh dunia.

Pada 31 Agustus Samsung mengumumkan menarik 2,5 juta buah Galaxy Note 7 dari seluruh dunia. Selanjutnya saham Samsung anjlok sebesar 2.04% dan dalam tempo satu malam nilai pasar sahamnya menguap sebesar US$ 7 miliar (91,6 triliun rupiah). Pada 8 September otoritas penerbangan federal Amerika Serikat mengusulkan kepada penumpang untuk tidak menggunakan atau mengisi daya Galaxy Note 7 di atas pesawat dan tidak boleh meletakkannya dalam bagasi.

Menurut laporan “Wall Street Journal”, setelah dikeluarkannya peringatan itu, pada 9 September saham Samsung pada waktu penutupan anjlok sebesar 3,9% dan telah menguap sebanyak US$10 Miliar (131 triliun rupiah).

Pada 9 September, musuh bebuyutan Korsel yakni Korea Utara, telah melakukan percobaan nuklir kali ke 5, presiden Park Geun-hye yang sedang mengunjungi Laos (pasca KTT G20 Hangzhou) terpaksa kembali lebih awal. Park selain mengecam tindakan Korut tersebut, juga menyatakan “akan mengambil segala tindakan untuk memberi tekanan yang lebih besar terhadap Korut”.

Dalam bidang konomi terpukul dan bidang keamanan mengawatirkan, benar-benar suatu kerunyaman. Mengenai pencekalan RRT terhadap dunia hiburan Korsel, pada umumnya orang menganggap itu adalah tindakan pembalasan Partai Komunis Tiongkok/PKT atas penempatan sistem anti rudal “THAAD” AS-Korsel.

Provokasi permanen Korut terhadap Korsel merupakan sebuah masalah yang sulit dihadapi. Sedangkan kasus HP Samsung, nampaknya tidak ada sangkut-pautnya dengan dua masalah tadi, namun sesungguhnya tidak ada masalah yang eksis sendirian atau kebetulan, segala sesuatu memiliki hubungan internal, unsur penggerak dibelakangnya yang lebih mendalam patut diteliti secara mendalam.   (Gao Tian Yun/sud/whs)

BERSAMBUNG

Share

Video Popular