Oleh Liu Yi

Sebuah delegasi ekonomi Jepang yang terdiri dari 230 orang anggota pada Kamis (22/9/2016) lalu mengunjungi Tiongkok. Dalam kunjungan itu mereka meminta pemerintah Tiongkok menyederhanakan prosedur divestasi perusahaan Jepang yang beroperasi di Tiongkok.

Ada kalangan industri Tiongkok menilai bahwa bila saja penarikan besar-besaran investasi Jepang  terjadi, maka hal itu dapat mempercepat keterpurukan lingkungan investasi di Tiongkok.

Laporan ‘Nihon Keizai Shimbun’ menyebutkan bahwa delegasi ekonomi Jepang yang terdiri dari para eksekutif perusahaan Jepang dalam forum tukar pendapat dengan pejabat Departemen Perdagangan Tiongkok di Beijing itu, ada mengajukan proposal.

Proposal berisikan: Pertama, memohon pihak Tiongkok melakukan upaya-upaya untuk memperbaiki lingkungan ekonomi. Kedua, memohon pihak Tiongkok memberikan kemudahan prosedur bagi perusahaan Jepang yang hendak melakukan devastasi dari Tiongkok.

“Untuk lebih meningkatkan jumlah transaksi perdagangan dan investasi antata Jepang dengan Tiongkok, lingkungan bisnis mutlak perlu diperbaiki,” kata Ketua Federasi Ekonomi Jepang, Sadayuki Sakakibara.

Menurut salah seorang delegasi Jepang bahwa perusahaan asing yang beroperasi di Tiongkok bila hendak menarik diri dari pasar Tiongkok perlu mengurus perijinan yang prosedurnya tidak mudah dan melalui berbagai departemen, memakan waktu lama dan sulit untuk dipantau sejauh mana kemajuannya.

Laporan menunjukkan, pemerintah Tiongkok memanfaatkan proses perijinan yang rumit itu untuk menghambat divestasi dan mengulur waktu penarikan dana dari perbankan. Hal ini jelas memicu keluhan dari pihak yang bersangkutan. Selain itu juga disebutkan bahwa komunikasi tingkat perusahaan saat itu sudah tidak berlaku/mempan kecuali dibicarakan dengan pejabat tinggi pemerintah Tiongkok.

Media resmi Tiongkok dalam laporan kunjungan delegasi ekonomi Jepang menyebutkan, bahwa  Wakil Perdana Menteri Tiongkok Zhang Gaoli pada Rabu (21/9/2016) menerima kedatangan delegasi dan mengadakan beberapa diskusi dengan mereka. Sayangnya media belum memperoleh isi pembicaraan dalam pertemuan itu.

Divestasi perusahaan Jepang dari Tiongkok dapat mempercepat kerusakaan lingkungan bisnis

Artikel tulisan industriawan yang dimuat dalam sebuah forum di Tiongkok menyebutkan bahwa, selama 30 tahun terakhir ini, ekonomi Tiongkok berkembang pesat dengan mengambil keuntungan dari besarnya minat investasi perusahaan asing, dan keuntungan yang diperoleh tidak sampai mengalir keluar.

Namun akibat merosotnya ekonomi Tiongkok, perusahaan yang didanai asing mulai berbondong-bondong hengkang dari Tiongkok. Sedangkan cadangan devisa akan sulit untuk mendukung penuntutan penukaran mata uang asing yang mau ditarik. Setelah cadangan devisa itu habis, maka mata uang Tiongkok Renminbi terpaksa harus melepas patok dengan Dollar AS. Contohnya seperti beberapa negara, Zimbabwe, Venezuela, Rusia, mata uang mereka sudah lepas patok dengan USD.

Seperti halnya di bagian selatan provinsi Jiangsu di mana divestasi perusahaan asing sudah terjadi, meskipun pemerintah terus berupaya untuk menghambat. Akhirnya situasi itu membuat investor baru tidak berani datang tetapi investor lama tetap saja menghentikan operasinya.

Berkembangnya ekonomi daerah bagian selatan propinsi Jiangsu atau delta sungai Yngtze karena  di sana banyak perusahaan asing.

60 – 70 % output industri dan ekspor Tiongkok itu dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan asing yang berada di daerah bagian selatan provinsi Jiangsu atau delta sungai Yangtze. Sementara itu, sekitar 60 % dari perusahaan lokal di sana hanya berfungsi sebagai pelengkap bagi industri modal asing tersebut. Mereka umumnya dijadikan pemasok atau bagian dari mata rantai yang menghasilkan output.

Dengan kata lain, hidup matinya perusahaan-perusahaan milik warga Tiongkok itu sangat tergantung kepada perusahaan asing. Maka begitu perusahaan asing hengkang dari Tiongkok, satu per satu perusahaan lokal juga sulit bertahan, angka ekspor pun langsung  anjlok karenanya.

Pada saatnya seluruh ekonomi delta sungai Yangtze akan runtuh. Padahal delta sungai Yangtze itu sudah menjadi mesin penggerak nomor 1 bagi ekonomi Tiongkok. Maka sudah bisa diramalkan bagaimana ekonomi Tiongkok nantinya.

Menurut laporan Departemen Perdagangan Tiongkok pada 17 Agustus lalu bahwa nilai total investasi langsung Jepang di Tiongkok sejak Januari hingga Juli 2016 adalah sebesar USD. 1,91 miliar, turun 10.9 %.

Selama beberapa dekade terakhir,  Jepang telah menjadi salah satu sumber utama investasi asing di Tiongkok. Investasi langsung Jepang di Tiongkok mencapai puncaknya pada 2012, tetapi dalam 3 tahun berikutnya penurun berturut-turut terjadi dan tahun ini penurunan itu masih terjadi.

Sarjana: Divestasi borongan yang diusung delegasi bukanlah hal yang boleh dianggap remeh

Seorang sarjana ilmu ekonomi dan sejarah, Wang Sixiang pada 25 September menulis artikel di Phoenix blog, katanya kalau perusahaan Jepang berencana untuk bersama-sama menarik modal investasi mereka di Tiongkok, maka itu menjadi peristiwa yang sangat penting, karena itu akan membuat ekonomi Tiongkok yang melemah menjadi semakin terpuruk.

Hengkangnya perusahaan-perusahaan Jepang akan jauh berbeda dengan dipindahkannya jalur produksi milik perusahaan Foxconn dari Tiongkok ke Vietnam, India, karena pemindahan jalur produksi Foxconn yang sebelumnya diprediksi dapat mengancam ekonomi Tiongkok sudah tidak lagi berbahaya. Tetapi divestasi yang dilakukan Jepang ini bukan cuma satu atau dua perusahaan tetapi besar-besaran.

Bila saja benar besar-besaran, maka itu adalah peristiwa yang sangat penting, karena akan membuat pertumbuhan ekonomi Tiongkok menurun lebih jauh. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular