Wanita Ini Ditabrak dan Dua Kali Dilindas Mobil, Puluhan Orang yang Melintas Tak Ada yang Menolong, Akhirnya Wanita itu Tewas, Miris!

Dalam tulisannya, kritikus terkenal Feng Qing-yang memberikan komentar.  Hal yang paling menyedihkan dari peristiwa itu adalah, dari satu menit di awal pertama wanita itu ditabrak hingga dilindas lagi untuk kedua kalinya, ada lebih dari 10 kendaraan yang lewat dan sekitar 20 pejalan kaki, tapi tak seorang pun yang tergerak hatinya untuk menolong.

Hal ini mau tidak mau membuat kita merenung, dimana ketika ketidakpedulian ini menjadi pilihan sebagian besar orang-orang. Lantas siapa yang akan menolong anda ketika anda mengalami hal serupa?

Ketika mencela orang-orang yang cuek tidak peduli, harus diakui kalau di Tiongkok kerap terjadi kondisi seperti ini, yakni orang yang baik hati tapi tidak mendapatkan balasan yang baik.

Kritikus ini mengutip pesan dari salah seorang netizen, “Ada yang terluka parah dan cedera serius karena berani membela kebenaran, sementara hidupnya sendiri memprihatinkan. Di satu sisi kehilangan kemampuan untuk bekerja, kehilangan satu-satunya sumber penghasilan. Di satu sisi harus menghadapi biaya pengobatan yang sangat besar, ibarat di depan ada harimau, belakang dikejar singa, benar-benar memaksa seseorang menuju ke jurang maut.”

Menurut Feng Qing-yang, dengan tidak adanya perlindungan sosial, biaya/modal untuk menjadi seorang ‘pahlawan’ itu sangat tinggi, jadi tidak heran kalau masyarakat seperti di Tiongkok ini menunjukkan sikap dingin dan tidak peduli.

Mereka yang berbuat baik harus membayarnya dengan harga yang tinggi, mereka yang melakukan kejahatan tidak mendapatkan hukuman yang semestinya.

Realitas dari lingkaran setan yang terus menerus membengkokkan dan mengasingkan nilai-nilai moral masyarakat.

Peristiwa tentang  “orang yang baik tidak mendapatkan balasan baik” itu kerap terjadi. Berikut beberapa contoh aktualnya.

20 Mei 2017, seorang dokter di Qingyuan County, Zhejiang, kemalingan sebesar 8,000 yuan (sekitar Rp.16 juta) ketika sedang menyelamatkan seorang pria epilepsi mendadak.

19 Maret 2017 di Zhangpu County, Fujian, seorang warga bermarga Lan mengejar seorang pencuri ayam, tapi naas bagi si pencuri itu, ia tewas terjatuh karena panik saat dikejar.

Akibat peristiwa itu, pria bermarga Lan ini pun ditangkap dengan dakwaan menyebabkan kematian pada korban karena kecerobohannya.

Ilustrasi. (sumber: thumbs.dreamstime.com)

9 Februari 2017 sekitar pukul 8 pagi waktu setempat, seorang pemuda berseru lantang sambil menunjuk kawanan jambret yang dikenalnya di atas sebuah bis di kawasan Shaanxi, tapi ia justeru ditarik keluar dari bus oleh kawanan jambret dan ia pun menjadi bulan-bulanan geng kriminal.

26 Mei 2016, sopir taksi di Guangzhou melompat ke sungai menyelamatkan seorang wanita yang tenggelam.

Namun balasannya ia justeru kehilangan dompetnya, sehingga sang sopir yang bermaksud baik namun naas ini tidak bisa menarik taksinya lagi mencari nafkah karena SIM berikut dompetnya hilang saat menyelamatkan wanita itu.

24 Juli 2015, seorang kakek terjatuh dari sepedanya ketika sedang bersepeda di Pengzhou, Sichuan.

Kebetulan saat itu seorang mahasiswa melihat kejadian itu lalu menghampirinya sambil menanyakan keadaan kakek itu pasca jatuh.

Namun tak disangka si kakek malah menuduhnya sebagai pelaku yang mengakibatkannya terjatuh, untung saja kamera CCTV membuktikan fakta sebenarnya.

19 Mei 2015, seorang siswa SD melihat seorang nenek terjatuh ketika dalam perjalanan pulang ke rumahnya di Chengdu.

Ia pun membantu memapah nenek itu, tapi tak disangka ia justeru dijebak sang nenek, untungnya kebetulan ada yang melihat kejadian itu dan menjadi saksinya.

7 April 2014, seorang siswa 15 tahun bernama Zhang Xin Yao di Liaoning, dimana demi menolong temannya, ia sendiri sampai ditabrak mobil, menyebabkan sebelah matanya buta, dan luka di sebagian kepala.

Sementara itu keluarganya harus menanggung utang sejumlah 300.000 yuan untuk biaya pengobatannya.

Anehnya, ia tidak mendapatkan bantuan pemerintah. Alasan pemda setempat adalah anak-anak di bawah umur tidak memiliki kapasitas penuh untuk perilaku seperti itu, dan sehubungan dengan hal itu tidak harus memberikan penghargaan.

Ilustrasi. (sumber: thumbs.dreamstime.com)

6 November 2009, seorang nenek penjual bungkil kacang menemukan 1,700 yuan dalam perjalanan, sang nenek mengembalikan uang itu setelah beberapa minggu kemudian menemukan pemiliknya.

Tetapi naas bagi si nenek yang baik hati itu, si pemilik bersikeras mengatakan uangnya hilang 8.200 yuan, kurang 6.500 yuan, lalu pemilik yang tak tahu berterima kasih itu menuntut si nenek ke pengadilan.

24 Oktober 2009, seorang mahasiswa dari Universitas  Jingzhou, Hubei ini menemui nasib yang malang.

Pasalnya ketika ia bermaksud menyelamatkan seorang bocah yang  tenggelam. Niat baiknya itu justeru dimanfaatkan oleh pencari mayat yang meminta bayaran 36.000 yuan atau sekitar Rp.69 juta.

Sementara itu di Luoyang, seorang pria dipenjara 3 tahun karena menyebabkan kematian seorang pencuri yang dikejarnya.

Pria dari Zhongshan, Tiongkok dipenjara 12 tahun karena memukul pencuri yang menyebabkan kematiannya lima bulan kemudian.

Netizens  pun berkomentar, “Kenapa orang-orang jahat selalu lolos dari tanggung jawab? Pelaku kejahatan yang tertangkap basah justeru bisa berbalik menuntut gangi rugi dengan alasan terluka dilukai.”

Membunuh orang bisa lolos dari tanggung jawab hanya dengan pura-pura gila.

Sementara orang yang terluka karena maksud baiknya malah tidak mendapatkan bantuan apapun meski hanya sepotong ucapan terima kasih sekalipun juga tidak.

Karena orang yang bermaksud baik tidak mendapatkan balasan semestinya, justeru menjadi korban fitnah dan semacamnya, jadi tidak heran sikap orang-orang di Tiongkok sana menjadi dingin dan tidak peduli. (Gao Jing/ Jhony/rp)

Sumber: Epochtimes