Super Mengharukan: Nasi Kotak Ibu yang Terakhir… Baca Sampai di Penghujung Artikel, Air Mata akan Berlinang Tanpa Disadari

Dia tampak terkejut ketika melihatku, dan mencoba berdiri.

Tapi, begitu aku berdehem, ia pun memandangku.

“Jangan berdiri! Jangan berdiri!”

“Ter…ima kasih, guru! Terima kasih!” katanya terbata-bata.

Dia berusaha berteriak, dan tampak air matanya berlinang.

Di koridor rumah sakit, ayah Xin Yong berkata kepadaku.

“Hanya sisa dua bulan lagi! Oh Tuhan…! Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa?”

Internet

Sekembalinya ke sekolah, saya pun melaporkan kepada kepala sekolah.

“Ayahnya sudah berumur lebih dari enam puluh tahun, dan sekarang ibu akan segera meninggalkan dunia ini,
apa kita bisa memulai penggalangan dana di seluruh sekolah? Tidak peduli berapa pun jumlahnya, yang penting bisa membantunya.”

Kepala sekolah pun langsung menyetujuinya tanpa banyak tanya lagi.

Setelah beberapa hari penggalangan dana, akhirnya kami mengumpulkan $ 52,120 atau sekitar Rp. 102,1 juta.

Internet

Ketika uang itu dibawa ke rumah sakit, ibu Xin Yong sudah dalam keadaan koma.

“Kami berencana membawanya pulang hari ini!”

Ayah Xin Yong, wajahnya tampak pucat dan tirus. Kepalaku berkedut seketika

Untuk terakhir kalinya, biarkan ibu membawakan nasi kotak.

“Guru, boleh minta bantuannya?”

“Katakan saja! Saya pasti akan bantu semampunya.”

“Beberapa hari yang lalu, dia terus menggenggam tangan Xin Yong, berkata dengan sekuat tenaga: Ibu tidak bisa membawakan nasi kotak lagi untukmu!”
Jadi saya minta tolong guru izinkan dia mengantarkan nasi kotak untuk terakhir kalinya.”

Hanya pada saat mengantarkan nasi kotak, dia baru benar-benar merasakan kemuliaan sebagai seorang ibu.

Mendengar permohonan itu, aku pun langsung mengangguk dengan perasaan campur aduk.

Siang itu, terdengar raungan mobil ambulans memasuki gerbang sekolah.

Ayah Xin Yong dan seorang staf medis, mendorong seseorang yang terbaring di atas brankar (tandu pasien).

Mata saya berkaca-kaca, berdiri di samping, siang itu saya bertindak sebagai guru pemandu lalu lintas.

“Itu dia ambulannnya sudah sampai!”

Ayah Xin Yong membeli sebuah nasi kotak, ibu Xin Yong yang berbaring lemah di atas brankar menjulurkan tangannya yang kurus pucat mengambil nasi kotak.

Dengan ditemani staf medis, perlahan-lahan mereka memasuki gerbang besi.

Sementara di sisi lain, Xin Yong mengulurkan tangan kanannya, dan mengambil nasi kotak dari ibunya.

“Ibu!” Raung Xin Yong dalam isak tanginsya.

Saat itu, saya melihat dengan jelas pipi ibunya yang cekung.

Berkedut sebentar, seolah-olah mau bicara, tapi tidak terucapkan.

“Ibu!Tidak!Tidak!Aku tak mau ibu pergi!” Teriak Xin Yong sambil meratap memandang langit.

Melihat pemandangan itu, air mataku pun tak bisa lagi kubendung, mengalir deras membasahi wajahku.

Aku benci pada diriku sendiri, betapa kejamnya aku sebelumnya pada ibu Xin Yong!