“Ibu, Demi Bertemu denganmu Lagi, Aku Bersedia Melakukan Hal Paling Konyol – Thomas Alva Edison”

Karena keluarga Thomas yang miskin, ditambah lagi dengan seringnya membeli bahan-bahan kimia dan peralatan untuk eksprimen, sehingga keuangan keluarganya pun terkuras untuk membiayai eksprimennya.

Berangkat dari itulah, di mana demi mengumpulkan uang yang cukup untuk eksprimennya, Thomas berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai penjual surat kabar dan permen di stasiun kereta.

Dari hasil penjualan koran, Thomas bisa mendapatkan keuntungan yang lumayan yang memberinya kesempatan untuk membangun sebuah laboratorium pribadi di gerbong kereta, yang juga dipakainya sebagai tempat mencetak korannya.

Laboratorium ini menjadi pijakan pertamanya untuk menjadi ilmuwan eksperimental.

Sayang sekali, pada satu ketika yang naas, kereta yang menarik gerbong laboratorium/percetakannya itu terpaksa harus mengerem mendadak; dan segumpal fosfor terguling dari meja percobaannya.

Seantero gerbong lantas terlalap api. Kepala masinis marah lalu menamparnya. Tamparan ini menyebabkan telinga kirinya menjadi tuli, sementara telinga kanannya mengalami gangguan pendengaran sekitar 80%.

Thomas merasa hancur hidupnya, masih muda sudah kehilangan pendengaran, dan tidak berpendidikan, bagaimana dengan masa depannya, apa masih ada harapan ?

Pada saat Thomas terpuruk, ibu yang sangat menyayangi Thomas  menjadi pendukungnya, sang ibu berulang kali memberi semangat pada Thomas, tidak boleh menyerah begitu saja dengan mimpinya.

Kemudian, Thomas menulis satu kalimat di buku hariannya :

“Tidak peduli apa pun yang terjadi, ada seorang ibu yang selalu dengan setia mendukung saya, dan karena ibulah saya baru bisa berdiri tegak disini. Tidak peduli bagaimana pun keadaannya, hanya ibu yang mengerti kenakalan saya. Tidak peduli betapa menyakitkan, saya bisa bertahan, dan bekerja keras agar ibu bisa tersenyum bahagia. Semua ini berkat do’a ibu.”

Justru dengan adanya motivasi dari sang ibu, akhirnya Thomas mendapatkan kesempatan bangkit kembali setelah kagagalan demi kegagalan yang bertubi-tubi menderanya.

Foto Thomas Alva Edison semasa remaja

Pada tahun 1868, Atas saran seorang teman, ia memberanikan diri pergi ke Boston, mengajukan lamaran pekerjaan pada Western Union Company.

Ia bekerja 12 jam setiap hari, 6 hari seminggu. Pada saat itu Boston adalah pusat Amerika dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Dalam waktu luangnya, ia merancang dan mematenkan alat perekam voting (suara pemilihan umum) elektronik agar bisa menghitung suara di legislatif dengan cepat.

Pada tahun yang sama, Thomas memutuskan kembali ke rumah. Ia menemukan ibunya tercinta mengalami gangguan mental karena kemiskinan dan penderitaan jangka panjang, dan ayahnya keluar dari pekerjaan. Keluarganya semakin terpuruk. Thomas menyadari bahwa ia perlu mengambil kendali atas masa depannya

Rumah Edison kala itu

Karena kondisi ibu Thomas yang tidak juga membaik, akhirnya pada Februari 1871, Nancy Alliot meninggal di Michigan, AS.

Foto Nancy Alliot, ibunda Thomas Alva Edison.

Ketika itu, Thomas berusia 24 tahun, namun, ibunya tidak sempat melihat putra kesayangannya menikah, dan tidak sempat melihat kesuksesan Thomas, dia pergi dengan membawa penyesalan.