Tiga Belas Tahun Tidak Bertemu, Ketika Anaknya Pulang dengan Bangga, Sang Ibu Menjadi Buta, Ayah Telah Tiada

Setelah Lin Tong pergi, kaki ayahnya patah dan akhirnya lumpuh, sepanjang hari mendesah, duduk di bawah pohon sambil berharap dan menanti kepulangan anaknya.

Namun, sayangnya, kesehatan ayah Lin semakin buruk dari hari ke hari, selama sepuluh tahun dia telah menunggu, tapi tidak mendapatkan kabar mengenai kepulangan Lin Tong, anaknya, ditambah lagi dengan penyesalan dirinya yang merasa bersalah telah mengusir anaknya, hingga akhirnya meninggal dibawah tekanan penyesalan dan rasa bersalah yang dalam.

Mendengar cerita ibunya, Lin Tong pun seketika berlutut, dia tidak berani percaya dengan semua yang didengarnya.

Ibunya berkata kepada Lin Tong, bahwa ayahnya hanya meninggalkan sepatah kata terakhir sebelum meninggal.

“Bu, waktuku tidak banyak lagi, jika suatu hari nanti anak kita pulang, tolong sampaikan permohonan maaf ayah kepadanya, tidak seharusnya ayah menamparnya ketika itu. Jangan lupa ya bu, harap dia memaafkan ayah , pastikan dia me..maaf…. “Sampai di sini ayahnya pun terkulai dan menghembuskan napas terakhirnya.

Setelah mendengarkan kata-kata ibunya, Lin Tong baru sadar ternyata betapa memalukan dan egoisnya atas sikap yang dibanggakannya itu. Pemberontakannya ketika itu akhirnya membuat ayahnya meninggal dalam kesedihan. Lin Tong merasa sangat bersalah kepada ayahnya.

Di kampung halamannya kali ini, Lin Tong berlutut selama tiga belas hari tiga belas malam secara berturut-turut di depan altar abu jenazah ayahnya, dan bersumpah, akan merawat ibunya, tidak akan pergi lagi.

Usai bercerita, ayah memandang di kejauhan, dan aku bisa melihat denga jelas air matanya yang menetes dari sudut matanya. (jhn/yant)

Sumber: kknews.cc