Melihat keluarga korban yang tertekan, sang ritualis merasa tak tega, ia berusaha minta bantuan teman-teman yang bekerja di rumah sakit membantu mencari solusinya, dan akhirnya jenazah Titi dijadwalkan akan dikremasi tiga hari kemudian.

Keesokan harinya, sang ritualis ke ruang krematorium, ia melihat keluarga Titi sedang membacakan do’a arwah di ruang kremasi. Ternyata mereka sendiri yang membacakan do’a arwah untuk Titi.

Ayah Titi terkejut melihat sang ritualis, kemudian ia berkata kepada ayah Titi : “Apakah kalian sendiri yang akan membacakan do’a arwah? Hari ini saya datang untuk membantu, kalian tidak perlu sungkan, dan merasa tidak enak! Katakan saja terus terang kepada saya.”

Ilustrasi.

Adik Titi yang mendengar itu tak tahan meneteskan air mata dan berkata : “Guru, saya yang meminta ayah, agar kita saja yang membacakan do’a untuk arwah Titi, terus terang saja, kami merasa tidak enak kalau kalian yang meritual perkabungan ini tanpa imbalan jasa ?

“Selain itu, kami juga ingin membantu Titi dengan membacakan do’a untuknya, apakah cara kami ini tidak baik untuknya ? Maaf, saya tidak tahu…” kata adik Titi, kemudian menangis dengan sedih diiringi tangisan pilu kedua orangtuanya.

Sang ritualis menghibur adik perempuan Titi:

“Paman beritahu kamu, Titi kakakmu itu meninggal karena sakit, dia merasa sangat tidak nyaman mati dalam keadaan sakit, ia ingin pergi tanpa rasa sakit, kan?

“Jadi, perlu menggunakan mantera kitab suci untuk melanjutkan pengobatan terhadap penyakitnya, dan ini tidak bisa kalian lakukan sendiri, sebelum ke sini, paman sudah minta bantuan seorang guru ritual, sebentar lagi akan datang, kalian tidak perlu khawatir!”

Share

Video Popular