Hanya Karena Sepatah Kata Sang Ayah, Harga “Teh O” di Warung Makan di Malaysia Ini Tetap dengan Harga Seperti 23 Tahun Silam

Karena tingginya harga ayam kampung, jadi daripada menaikkan harga jual, mereka lebih memilih untuk tidak menjual menu itu, demikian juga biaya untuk bahan-bahan lainnya yang juga naik, hanya saja tidak sampai merugi.

“Mereka masih bisa untung, hanya saja tidak banyak, setelah dipotong dengan upah. Kasihan juga kalau kami menaikkan harga, banyak pelanggan yang sering datang ke sini untuk makan karena harganya yang terjangkau … .. tapi tidak masalah bagi kami, untuk sementara mempertahankan harga seperti semula” Kata Mohd.

Bagi Mohd Ridhuan sendiri, hal yang paling menggembirakannya bukan meraup keuntungan besar, tapi selalu ada tamu yang berkunjung di warung makan sederhananya pada pagi dan siang hari.

“Sejak saya mulai mengambil alih usaha warung ini, tidak ada pelanggan yang mengeluh harganya mahal. Mereka semua membayar sambil tersenyum puas.”

Ini bukan pujian Mohd Ridhuan sendiri, seorang pelanggan setia bernama Suhana Cik Jusoh (27) yang diwawancarai juga terkejut dengan harganya yang murah seakan tidak percaya ketika pertama kali mengunjungi warung makan ini.

“Saya memilih dua potong ayam, three flavors grouper fish/ kerapu masak tiga rasa, dua potong daging sapi dan dua bungkus nasi dengan harga hanya 18 RM (sekitar 60,000 rupiah).

Selain murah juga lezat, sama enaknya dengan makanan di kampung halaman saya, saya juga berbagi keunikan dari (harga) makanan-makanan ini kepada teman-teman saya di media sosial.”(jhn/yant)

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.