Tiongkok Memainkan “Permainan” yang Lebih Besar Dari Kasus Korea Utara

Apakah Tiongkok memanfaatkan Korea Utara sebagai jebakan untuk menghambat dukungan Amerika Serikat kepada Taiwan?

EpochTimesId – Sejak pembicaraan denuklirisasi terbaru antara Amerika Serikat dan Korea Utara gagal pada bulan Februari 2019, Kim Jong Un telah mengancam untuk memulai kembali program nuklirnya. Apakah ancaman tersebut diarahkan ke Amerika Serikat? Apakah Korea Utara bermain keras dengan Amerika Serikat?

Atau, mungkinkah ancaman nuklir Korea Utara diarahkan kepada Tiongkok? Tidak mungkin, bukan? Apakah Kim Jong Un akan mengancam Tiongkok dengan … apa? Serangan nuklir? Kerjasama dengan Amerika Serikat? Mungkin tidak. Kecenderungan tujuan Kim Jong Un adalah menerima bantuan tambahan dari Tiongkok.

Namun, pertanyaan tersebut memicu lebih banyak pertanyaan daripada yang dapat dibayangkan oleh beberapa orang. Pertimbangkan, misalnya, kemungkinan Korea Utara benar-benar ingin membuat kesepakatan dengan Amerika Serikat, tetapi Tiongkok tidak ingin hal itu terjadi.

Jika terjadi kesepakatan antara Korea Utara dengan Amerika Serikat, baik Kim Jong Un dan pemimpin Tiongkok Xi Jinping tahu bahwa kesepakatan apa pun akan sangat terbatas dalam hal ruang lingkup dan jangka waktu.

Mengapa demikian?

Satu Kapitalis Korea Sudah Mencukupi

Pertama, hal terakhir yang diinginkan Tiongkok adalah Korea Utara dan Korea Selatan adalah negara kapitalis. Mengenang Perang Korea pada tahun 1950, tepatnya untuk mencegah hal itu terjadi. Kini, hal terakhir yang dibutuhkan Partai Komunis Tiongkok adalah contoh lain mengapa komunisme tidak diperlukan untuk pembangunan berkelanjutan dan pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Korea Selatan dan Taiwan adalah dua contoh negara yang sudah cukup menyesakkan Tiongkok.

Namun, Tiongkok  — seharusnya juga — menentang uji coba nuklir Korea Utara. Benarkah itu? Mungkin saja, tetapi mungkin hanya sampai batas tertentu. Sebentar lagi, hal ini akan dibahas lebih lanjut.

Namun, Tiongkok adalah mitra dagang terpenting bagi Korea Utara. Orang akan berpikir bahwa Tiongkok akan mampu membangun pemahaman yang sangat mendasar antara Tiongkok dengan Korea Utara, yaitu, bagi Kim Jong Un untuk menghentikan pengujian nuklirnya “atau hal  lain.”

Tiongkok Memiliki Kendali yang Nyata

Dan jangan menipu diri sendiri — pengaruh Tiongkok atas Korea Utara benar-benar nyata dan operatif. Ibaratnya Tiongkok memberikan sebagian besar makanan dan bahan bakar untuk suatu negara yang penduduknya adalah kaum miskin yang kurang gizi. Tanpa bantuan Tiongkok  yang berkelanjutan, penduduk Korea Utara akan kelaparan dan mati beku — dalam kegelapan.

Dengan hubungan yang akrab seperti itu, orang akan menganggap bahwa Tiongkok berada dalam posisi tawar yang dominan untuk membujuk — atau memaksa — diktator Korea Utara untuk menghentikan program nuklirnya. Namun, hal itu belum terjadi.

Mengapa belum terjadi?

Fakta sederhana itu menimbulkan pertanyaan lain: “Apakah Korea Utara benar-benar bertanggung jawab atas kebijakan nuklirnya?” Apakah Kim Jong Un adalah satu-satunya orang yang berwenang atas negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat, atau bahkan bila tiba saatnya untuk menguji bom dan meluncurkan rudal?

Atau mungkinkah Tiongkok lebih banyak terlibat dalam program nuklir Korea Utara dan kebijakannya terhadap Amerika Serikat daripada yang dipahami masyarakat luas?

Apakah ‘Stabilitas’ Benar-Benar Merupakan Sasaran Tiongkok?

Beberapa pakar Tiongkok tetap menganggap stabilitas di Semenanjung Korea sebagai kepentingan utama Tiongkok terkait dengan Korea Utara. Menurut pemikiran mereka, Tiongkok khawatir keruntuhan rezim Korea Utara akan menyebabkan ratusan ribu pengungsi Korea Utara membanjiri perbatasan Tiongkok.

Mungkin saja hal tersebut adalah benar — terjadi gelombang pengungsi Korea Utara yang melimpah ruah di perbatasan Tiongkok karena mereka menderita  kelaparan dan putus asa jika kepemimpinan Kim Jong Un runtuh. Namun benarkah ratusan ribu pengungsi Korea Utara yang kelaparan menjadi masalah yang sulit ditangani Tiongkok?

Tidak mungkin. Bahkan pandangan sekilas melihat betapa efisiensinya Partai Komunis Tiongkok berurusan dengan jutaan orang-orang yang “bermasalah” di perbatasan Tiongkok akan memberitahu anda seberapa cepat Partai Komunis Tiongkok dapat mengubah Korea Utara yang melemah menjadi negara industri. Partai Komunis Tiongkok cukup siap dan berpengalaman dengan tantangan seperti itu.

Bagaimanapun, orang Tiongkok menganggap keamanan dalam negeri mereka dengan sangat serius. Padahal, anggaran untuk keamanan dalam negeri lebih besar dari anggaran militer untuk keamanan luar negeri mereka. Pada tahun 2017, Tiongkok menghabiskan sekitar 161 miliar dolar Amerika Serikat untuk Tentara Pembebasan Rakyat, dan menghabiskan 196 miliar dolar Amerika Serikat untuk pasukan keamanan dalam negeri Tiongkok.

Anda tahu bagaimana kelanjutannya ketika anda adalah pemerintahan tidak sah seperti Partai Komunis Tiongkok — anda akan menindas, menyiksa, dan memenjarakan mereka, seperti jutaan orang Uyghur, praktisi Falun Gong, dan orang Kristen, hanya sebagian kecil contoh. Apalah artinya penduduk Korea Utara yang sedikit itu? Prioritaskan dan lakukan penindasan.

Tidak, ada argumen yang menyatakan bahwa Tiongkok takut terhadap pengungsi Korea Utara yang tidak menjelaskan mengapa Tiongkok mengizinkan Korea Utara untuk melanjutkan program nuklirnya.

Siapa yang Diuntungkan dari Nuklir Korea Utara?

Tetapi bila kita bertanya, “Siapa yang diuntungkan dari permainan nuklir Korea Utara dan siapa pihak yang kalah?” jawabannya menjadi lebih jelas. Bukan rahasia lagi bahwa Tiongkok bukan penggemar kebijakan perdagangan proteksionis Presiden Donald Trump terhadap Tiongkok, yang melukai ekonomi Tiongkok lebih dari yang Tiongkok ingin dunia tahu.

Orang Tiongkok juga tidak senang dengan peningkatan hubungan Presiden Donald Trump dengan Taiwan. Beijing berupaya segera mempercepat terbentuknya “provinsi pemberontak” lebih awal daripada nanti. Faktanya, ini adalah bagian penting dari rencana ekspansionis Tiongkok di kawasan Asia-Pasifik dan sekitarnya. Peningkatan hubungan militer dan diplomatik Amerika Serikat di kawasan Asia-Pasifik dan sekitarnya akan mengancam rencana ekspansionis Tiongkok tersebut.

Oleh karena itu, dari sisi pandang Tiongkok, semakin Tiongkok menekan keberadaan Amerika Serikat di kawasan Asia, maka semakin besar kemungkinan Presiden Donald Trump, Kongres Amerika Serikat, dan pemilih Amerika Serikat akan rela mengerahkan gengsi, nyawa, dan hartanya untuk membela Taiwan bila saatnya tiba, yang dipastikan akan terjadi.

Negosiasi nuklir Korea Utara adalah alat yang ampuh bagi Tiongkok – bukan bagi Korea Utara – untuk menggagalkan, memanipulasi, dan sebaliknya menghalangi kebijakan Presiden Donald Trump yang lebih agresif terhadap Tiongkok dan pengaruh Amerika Serikat yang semakin besar di wilayah tersebut.

Korea Utara sebagai Perangkap?

Ada logika aneh yang masuk akal untuk hal ini, yang mirip dengan perangkap jari tangan yang terbuat dari tabung kertas yang berasal dari Tiongkok, di mana bila seseorang memasukkan satu jari tangannya di salah satu ujung tabung kertas dan orang lain memasukkan satu jari tangannya di ujung yang lain dari tabung kertas tersebut, dan bila mereka mencoba melepaskan jari-jarinya dari tabung kertas tersebut, maka secara tiba-tiba tabung kertas akan menyedot jari-jari mereka sehingga semakin sulit untuk dilepaskan.

Strategi Tiongkok mungkin hanya ditujukan bagi Korea Utara untuk memiliki efek yang sama pada kebijakan Amerika Serikat. Menjebak tekad dan komitmen Amerika Serikat terhadap kawasan Semenanjung Korea akan membuat Amerika Serikat menjadi kekurangan tenaga dalam segala hal saat Tiongkok meningkatkan kemajuan militer dan diplomatiknya di Taiwan, yang berjarak sekitar 1.200 mil selatan Tiongkok.

Saat kegagalan Amerika Serikat di Korea Utara berlangsung — yang dipastikan Tiongkok akan terjadi — tekad Amerika Serikat dalam menghadapi kegagalan di Korea Utara mungkin adalah yang pertama dari banyak efek domino yang gagal di Asia. (James Gorrie/ Vv)

James Gorrie adalah seorang penulis yang tinggal di Texas. Ia adalah penulis “The China Crisis.”

Pandangan yang dituangkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan pandangan The Epoch Times.

VIDEO REKOMENDASI

https://www.youtube.com/watch?v=p0z-dob1HZ8