Sunday, November 28, 2021
No menu items!
HomeSEHATNEWSStudi : 14% Pasien Berat COVID-19 Jadi Kena Diabetes yang Penyebabnya Belum...

Studi : 14% Pasien Berat COVID-19 Jadi Kena Diabetes yang Penyebabnya Belum Diketahui

 oleh Guo Qiang – Sound of Hope

The Washington Post melaporkan bahwa Mihail Zilbermint, MD, dari Suburban Hospital di Bethesda, Maryland, AS, yang biasanya bertanggung jawab untuk merawat pasien diabetes melaporkan temuannya. Dia mengatakan dikarenakan rumah sakit menerima semakin banyak pasien koroner baru, maka jumlah pasien diabetes yang harus ditangani dengan juga meningkat tajam. Ia menuturkan, dulunya menangani sekitar 18 pasien setiap hari, tapi sekarang timnya harus merawat hingga 30 pasien. 

Banyak diantara pasien-pasien ini, sebelumnya tidak memiliki riwayat diabetes. Beberapa orang gula darahnya naik setelah terinfeksi COVID-19, tetapi menurun setelah sembuh dari COVID-19. Beberapa orang jadi didiagnosa kena diabetes. 

“Kita melihat bahwa jumlah pasien dari COVID-19 yang didiagnosis menderita diabetes jadi meningkat,” kata Mihail Zilbermint, MD belum lama ini. 

Meskipun virus pneumonia Wuhan itu biasanya menyerang paru-paru manusia, namun juga terkait erat dengan serangkaian masalah termasuk pembekuan darah, penyakit saraf, ginjal, dan kerusakan jantung.

Pasien di ICU. (Pixabay)

 Para peneliti mengatakan, bahwa diabetes dapat segera menjadi komplikasi setelah terinfeksi virus pneumonia Wuhan, termasuk diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2.

Perbedaan antara keduanya terletak pada penyebab utama diabetes tipe pertama, adalah karena kekurangan insulin yang bersifat bawaan, sedangkan tipe kedua sebagian besar dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti memproduksi lebih sedikit insulin atau tubuh mengembangkan resistensi terhadap insulin. 

Namun demikian, para ilmuwan masih belum mengetahui apakah virus corona baru ini, akan mempercepat timbulnya gangguan yang sudah ada atau menyebabkan timbulnya gangguan, atau keduanya.

Berita yang diterbitkan dalam jurnal internasional pada (27/11/2020) berjudul “Diabetes, Obesity and Metabolism”, menyebutkan bahwa ada 14,4% pasien berat COVID-19 jadi terkena diabetes. 

Penulis penelitian menyebutkan bahwa, meskipun diagnosis ini mungkin merupakan hasil pengamatan jangka panjang dari penyakit serius atau pengobatan steroid, tetapi efek langsung dari pneumonia Wuhan juga harus dipertimbangkan.

Alat tes gula darah. (Pixabay)

Para peneliti belum jelas bagaimana pneumonia Wuhan memicu diabetes tipe 1 dan tipe 2, atau menyebabkan diabetes sementara dan permanen. Namun demikian, mereka sedang berlomba untuk menemukan jawabannya, termasuk apakah COVID-19 juga melahirkan jenis diabetes baru. Jawaban lainnya yang dicari,  apakah mungkin performa diabetes baru ini berbeda dengan diabetes tradisional.

Pasien diabetes Amerika Serikat telah tumbuh dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Menurut data kesehatan pemerintah federal, diperkirakan 34,2 juta orang atau 10,5% dari penduduk di negara itu menderita diabetes. 

Tak hanya itu, sekitar sepertiga orang Amerika atau 88 juta orang memiliki pra diabetes. Hal demikian  berarti bahwa mereka akan didiagnosis dengan diabetes tipe 2. Jika mereka tidak lalai dalam pengendalian, maka penyakit lainnya seperti penyakit jantung, stroke, kebutaan, gagal ginjal, kerusakan saraf juga akan muncul mendampingi. (sin)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments