Saturday, November 27, 2021
No menu items!
HomeSERBA SERBISeorang Wanita Selama 6 Tahun Tinggal di Hutan untuk Mengajari Simpanse yang...

Seorang Wanita Selama 6 Tahun Tinggal di Hutan untuk Mengajari Simpanse yang Dibesarkan Seperti Manusia untuk Menjadi Liar

Erabaru.net. Dia telah mengabdikan satu dekade hidupnya untuk merawat Lucy si Simpanse. Tetapi dalam sekejap, Janis Carter tahu temannya tidak lagi membutuhkannya.

Lucy memeluknya lalu dengan cepat berbalik dan bergabung kembali dengan simpanse lainnya di Hutan Gambia.

Mengingat hari di mana sebuah film dokumenter baru akan berlangsung, Janis yang emosional berkata: “Kami saling merawat dan berbicara, lalu dia menarik saya dan memeluk saya dengan sangat erat.’’

“Terasa sangat intens, tidak seperti pelukan lain yang pernah kita miliki sebelumnya.’’

“Saya tahu, Lucy masih mencintaiku, itu sangat, sangat jelas, tapi dia sudah tidak membutuhkanku lagi sekarang seperti dia selalu membutuhkanku dulu.”

Janis, yang sekarang berumur 70 tahun, telah menghabiskan lebih dari enam tahun yang luar biasa di hutan hujan Gambia – hampir tanpa kontak manusia – mengajar Lucy untuk menjadi liar.

Saat Janis berusia 25 tahun, pada tahun 1976 dia menghadiri pertemuan pertamanya dengan simpanse yang telah mengubah hidupnya, simpanse yang dibesarkan sebagai manusia dalam sebuah eksperimen oleh psikoterapis Maurice Temerlin dan keluarganya di AS.

“Dia memintaku untuk merawatnya,” kata Janis. “Itu adalah momen yang sangat spesial bagi saya. Itu adalah momen kita. “

Begitu Janis mulai masuk ke dalam kandang Lucy, merekapun mulai berbicara dalam bahasa isyarat.

Lucy mengetahui 120 isyarat, dia tidur di ranjang manusia, dan bisa menyajikan teh untuk para tamu.

Tapi dia sudah beranjak dewasa, dan mulai tidak terkontrol di dalam rumah tersebut.

Ketika Maurice dan istrinya Jane memutuskan untuk mengirimnya ke habitat aslinya di Gambia pada tahun 1977, Janis ikut serta.

Prosesnya diperkirakan akan memakan waktu berminggu-minggu dan Temerlin kembali ke rumah setelah dua minggu. Tapi Janis tidak pernah pulang.

Pertama, Lucy tinggal di cagar alam Abuko, tetapi lucy masih tidak bisa beradaptasi dengan kondisi hutan tersebut.

Pada Mei 1979, lucy dipindahkan ke pulau terpencil yang tidak berpenghuni manusia. Janis memutuskan untuk ikut serta menemaninya.

Demi keselamatannya sendiri dari macan tutul dan kuda nil setempat, dia tidur di kandang bersama Lucy dan delapan simpanse lainnya.

Meskipun tidak ada listrik atau air ledeng dan surat-surat kabar hanya datang setiap enam bulan, Janis tinggal selama lebih dari enam tahun.

Dipaksa untuk memutuskan apakah dia akan meninggalkan lucy tiba-tiba membuatnya “menyadari kedalaman perasaanya terhadap Lucy”.

Tanpa pelatihan, Janis mengatakan dia belajar dengan “coba-coba” dan mengatakan “Apa pun yang saya pikir simpanse akan lakukan, saya akan mencoba melakukannya sendiri.”

Dia telah meninggalkan pacarnya dan karirnya sebagai guru, dan itu sulit.

Janis mengatakan: “Saya berpikir, Tuhan apa yang saya lakukan? Saya membuka lowongan bagi orang yang ingin bekerja dengan saya dan beberapa dari mereka juga sudah menjawab.’’

“Simpanse di sini sudah kehilangan akal, tempat ini sudah seperti dunia kecil bagi mereka. Mereka tidak menginginkan siapa pun di tempat ini’’

“Hal tersebut membuat saya, sendirian, sepenuhnya sendirian dengan mereka. tidak ada orang yang bisa menggantikan posisi saya di sini. Hal ini membuat kebutuhan saya sebagai mahluk sosial untuk melakukan kontak dengan manusia lain tidak terpenuhi’’

“Hubunganku dengan lucy layaknya teman. Perasaanku pada Dash [simpanse lain] lebih seperti ibu-anak. Saya tidak tahu apakah manusia pernah menjadi simpanse tapi yang saya ketahui adalah ada beberapa kepribadian dan kecenderungan budaya kita yang hampir sama.’’

Namun kesendirian yang berangsur sangat lama dan perkembangan yang lambat dari lucy pada suatu titik membuat janis sangat lelah.

Lucy memakan daun setelah melihat ajaran Janis dalam mencari makan.

“Lucy mengenalku dengan sangat baik, dia peka terhadap suasana hati,” katanya.

Mungkin ini adalah titik di mana dia menyadari bahwa dia harus mulai terbiasa dengan lingkungannya yang baru. Tapi ada lebih banyak yang harus dilakukan, jika tidak, Lucy tidak akan bisa bertahan tanpa Janis.

“Dia harus berintegrasi secara sosial dengan simpanse lain tetapi di sisi lain ia ingin semua kebutuhan emosionalnya dipenuhi oleh saya,” kata Janis.

“Jadi saya harus sengaja membiarkannya sendiri lebih dahulu sampai dia kan mencari orang lain untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.”

Metode tersebut berhasil, ikatan lucy dengan Dash(simpanse lain) yang terlihat “bersemangat” meyakinkan Janis bahwa sudah waktunya untuk pergi.

“Dia seperti melompat-lompat,” katanya.

Setelah berpelukan untuk yang terakhir kalinya dengan lucy, Janis kembali ke pulau tersebut satu tahun kemudian.

Saat pelukan terakhirnya dengan lucy, dia lalu bangkit dan berjalan kembali ke simpanse lainnya.

“Setelah melewati berbagai kesulitan, saya tidak percaya pada akhirnya saya harus berpisah dengan Lucy, tapi Lucy akhirnya berhasil, itulah yang kita semua inginkan,” ujar Jani.

Lucy mati pada tahun berikutnya pada tahun 1987, tetapi Janis tetap tinggal di wilayah tersebut.

Sekarang ada tempat perlindungan simpanse di pulau-pulau Gambia di mana 140 hewan langka hidup bebas. (lidya/yn)

Sumber: Mirror

Video Rekomendasi:

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments