Saturday, November 27, 2021
No menu items!
HomeNEWSINTERNATIONALPenolakan Paspor Vaksin Menyebar Luas di Eropa, Rakyat Menentang Totalitarianisme Pemerintah

Penolakan Paspor Vaksin Menyebar Luas di Eropa, Rakyat Menentang Totalitarianisme Pemerintah

 Aksi protes terhadap paspor vaksin menyebar dari Eropa ke dunia. Orang-orang di Prancis, Jerman, Italia, dan negara-negara lain  memprotes aturan izin kesehatan

Li Lan dan Ren Jing New York-Paris 

Mulai 9 Agustus, orang-orang Prancis tidak akan memenuhi syarat untuk makan di restoran, mengunjungi museum, atau bahkan bepergian dengan kereta api atau pesawat, jika mereka belum divaksinasi atau tidak dapat membuktikan bahwa mereka telah dites negatif untuk virus.

Hal yang membuat warga Prancis semakin marah adalah, pemerintah juga memaksa pekerja di industri perawatan kesehatan untuk divaksinasi.

Selama akhir pekan lalu pada 31 Juli, lebih dari 200.000 orang di seluruh Prancis sekali lagi turun ke jalan untuk memprotes izin kesehatan pemerintah, yang dikenal dengan paspor vaksin.

Di ibu kota, Paris, 14.250 orang berdiri dan berbicara. Banyak orang berpikir bahwa pemerintah memaksa orang-orang untuk menerima keputusan yang tidak masuk akal adalah kediktatoran.

Seorang warga Paris, Idris Dauphin kepada NTD mengatakan: “Saya pikir ini memalukan, mendorong kami ke dalam sistem seperti Tiongkok. Di Tiongkok, ini adalah kediktatoran totaliter, dan kami tidak ingin didikte.”

Idris Dauphin (NTD)

Pemerintah Prancis mengerahkan 3.000 pasukan polisi di seluruh negeri untuk menanggapi kasi protes.

Patrick Bertier, seorang pengunjuk rasa di Paris mengatakan: “Sejak pemerintahan Jean-Pierre Raffarin pada tahun 2002, Komunis Tiongkok telah menyusup ke pemerintah Prancis. Di masa depan, sistem kredit sosial kita akan diterapkan, dan kemudian akan ada serangkaian globalisme.”

Para ahli percaya bahwa bagi pemerintah untuk memaksa orang untuk memvaksinasi vaksin darurat, tidak hanya ada risiko kesehatan yang besar, tetapi juga data pribadi dan privasi dikendalikan oleh pemerintah, yang bertentangan dengan prinsip dasar masyarakat demokratis.

Pakar virologi Amerika Serikat Dr. Lin Xiaoxu mengatakan: “Begitu banyak orang Prancis yang turun ke jalan untuk memprotes kebijakan pemerintah, yang menunjukkan bahwa kebijakan ini sendiri melanggar niat asli banyak orang yang ingin menjaga kesehatan mereka, tanpa kehilangan kebebasan mereka. Memaksa orang untuk divaksinasi adalah transisi ke pemerintahan totaliter, dan pendekatan ini memiliki dampak yang relatif negatif terhadap Eropa secara keseluruhan.”

Selain Prancis, di Jerman, Yunani, Italia, dan negara-negara lain, rakyat mereka  turun ke jalan untuk menentang tindakan anti-epidemi ekstrem seperti paspor vaksin.

Untuk mencegah izin hijau yang diterapkan oleh pemerintah Italia pada 6 Agustus, beberapa kaus pengunjuk rasa Roma tertulis “Saya tidak ingin menjadi tikus di laboratorium”. Disebutkan juga green pass adalah pemerasan. Beberapa orang memasuki parlemen untuk mengekspresikan penentangan mereka.

Pakar virologi Amerika Serikat Dr. Lin Xiaoxu mengatakan, “peluncuran paspor vaksin digital Uni Eropa itu sendiri, juga melibatkan masalah keamanan data. Kesalahan apa pun dalam tautan apa pun mungkin merupakan pencurian informasi kesehatan penduduk dalam skala besar. Ini bukan hanya memantau informasi kesehatan pribadi. Karena ini melibatkan ke mana orang-orang ini pergi dan ke mana mereka perlu memindai kode kesehatan Anda, platform yang didukung pemerintah ini kemungkinan akan mengumpulkan informasi ini, jadi sampai batas tertentu, ini akan menerapkan pemantauan kebebasan bergerak orang-orang.”

Tidak hanya di Eropa, tetapi di Australia, Kanada, Amerika Serikat, orang-orang juga turun ke jalan untuk memprotes campur tangan pemerintah dalam hak dasar individu. (hui)

 

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments