Saturday, November 27, 2021
No menu items!
HomeBERITA TIONGKOKTindakan keras yang Terus Meningkat Memicu Eksodus Asing dari Saham Tiongkok

Tindakan keras yang Terus Meningkat Memicu Eksodus Asing dari Saham Tiongkok

Emel Akan

Komunis Tiongkok meningkatkan tindakan keras regulasinya terhadap sektor swasta, mengirimkan gelombang kejut di pasar global. Langkah tersebut telah menghapus lebih dari  765 miliar dolar AS nilai dari perusahaan Tiongkok yang terdaftar di Amerika Serikat dalam beberapa bulan terakhir, mengirim sebuah pesan  gamblang ke puluhan perusahaan domestik yang berusaha memasuki pasar modal Amerika Serikat

Tindakan keras Beijing terhadap perusahaan Tiongkok berkembang dari hari ke hari, di mana pihak  perusahaan pendidikan swasta menjadi target terbaru. Tiongkok meluncurkan sebuah perombakan besar-besaran di sektor teknologi pendidikan senilai  100 miliar dolar AS  akhir minggu terakhir, yang melarang perusahaan-perusahaan membuat keuntungan, meningkatkan modal, atau menjadi go public. Perusahaan-perusahaan les online yang berkembang pesat termasuk di antara target-target tersebut.

Harga saham perusahaan-perusahaan Tiongkok yang terdaftar di Amerika Serikat TAL Education, Gaotu Techedu, dan New Oriental Education turun tajam karena kebijakan bergeser. Setiap perusahaan kehilangan hampir 80 persen nilainya dalam beberapa hari di Bursa Saham New York.

Pengumuman reformasi tersebut muncul setelah sebuah tinjauan keamanan dunia maya DiDi Chuxing, yang membuat saham-saham raksasa ride-hailing turun sebesar lebih dari 40 persen sejak Penawaran Umum Perdana (IPO) pada akhir  Juni.

Banyak perusahaan teknologi menghadapi kemarahan rezim Tiongkok tahun ini. Pihak-pihak berwenang Beijing bergerak melawan beberapa perusahaan Tiongkok terkemuka, termasuk raksasa e-commerce Alibaba.

Alibaba Group setuju untuk membayar sebuah rekor denda anti-monopoli sebesar 2,8 miliar dolar AS sebelum tahun ini setelah para regulator meluncurkan sebuah penyelidikan ke Alibaba Group. Jack Ma, pendiri Alibaba Group, hilang selama beberapa bulan sekitar waktu tindakan keras tersebut.

Nasdaq Golden Dragon China Index yang melacak 98 perusahaan terbesar Tiongkok yang terdaftar di Amerika Serikat, merugi lebih 765 miliar dolar AS dalam nilai sejak puncaknya pada bulan Februari, menurut Bloomberg.

Rezim Tiongkok telah mengumumkan sebuah masalah regulasi yang berbeda untuk setiap langkah yang dilakukannya. 

Namun, larangan itu adalah sebuah tanda ambisi rezim komunis Tiongkok untuk mempererat cengkramannya di sektor swasta dan membatasi investasi-investasi asing di perusahaan Tiongkok, menurut para ahli.

Tindakan Beijing memiliki “banyak berkaitan dengan fakta bahwa Tiongkok tetap menjadi sebuah ekonomi terencana dan Partai Komunis Tiongkok tidak menginginkannya pembangunan yang tidak dapat dilakukannya, setidaknya, memiliki pengaruh,” kata ekonom dan ahli strategi pasar Milton Ezrati kepada The Epoch Times.

Ia juga menambahkan, hal yang menakjubkan adalah bagaimana Partai Komunis Tiongkok menggagalkan apa yang tampaknya kepentingannya sendiri.”

Setelah Resesi Hebat tahun 2008–2009, rezim Tiongkok meningkatkan upayanya untuk mendominasi ekonomi global. Kunci untuk upaya ini adalah menciptakan juara perusahaan melalui subsidi pemerintah dan akses ke pasar modal global.

Sejak tahun 2000-an, ratusan perusahaan Tiongkok telah memasuki  bursa saham Amerika Serikat, untuk mendapatkan keuntungan dari kumpulan modal yang lebih dalam. Hal ini telah memainkan sebuah peran penting dalam pertumbuhan perusahaan-perusahaan ini dan ekonomi.

Pada semester pertama tahun ini, 34 perusahaan dari Tiongkok Daratan dan Hong Kong, mengumpulkan sebuah rekor sebesar usd 12,4 miliar dengan go public di Amerika Serikat, menurut data Dealogic.

Namun, dengan aksi jual yang tajam baru-baru ini, para investor cenderung akan lebih banyak khawatir untuk  berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang berbasis di Tiongkok, dan hal tersebut akan membuat daftar-daftar asing mereka menjadi lebih sulit.

“Tentu saja adalah sangat mahal jika anda bergerak maju dan kemudian secara efektif diblokir oleh pemerintah anda sendiri. Jadi saya pikir akan ada sebuah  efek mengerikan terhadap hal ini,” kata Milton Ezrati.

Dan, jalan bagi para investor Barat untuk menikmati paparan ekonomi ke pasar konsumen terbesar di dunia melalui perusahaan-perusahaan ini cenderung akan “dimatikan atau dibatasi secara dramatis,” kata Milton Ezrati.

Pemilik TikTok ByteDance, perusahaan data perawatan kesehatan LinkDoc Teknologi, dan aplikasi kebugaran populer Keep, termasuk di antara  perusahaan Tiongkok yang menangguhkan rencana IPO mereka di Amerika Serikat, itu setelah Beijing memperluas tindakan kerasnya.

“Saya yakin bahwa tindakan keras akan cukup panjang,tentu bukanlah kabar baik dalam jangka pendek dan jangka panjang untuk jumlah kesepakatan Penawaran Umum Perdana yang akan dibawa ke pasar,” kata Robert Johnson, profesor keuangan di Universitas Creighton kepada The Epoch Times. 

‘Sebuah kesalahan perhitungan yang hebat’

Sementara beberapa orang percaya bahwa penurunan tajam dalam nilai saham teknologi Tiongkok, dapat menjadi sebuah peluang pembelian yang baik, banyak manajer investasi yang waspada terhadap aset tersebut.

Manajer-manajer aset global yang besar mulai menarik diri secara material dari Tiongkok dan Hong Kong, Kyle Bass, pendiri dan kepala investasi Hayman Capital Management mengatakan kepada CNBC pada 27 Juli.

Tujuan akhir Beijing adalah menggeser list Tiongkok dari New York ke Hong Kong, menurut Kyle Bass, menyebutnya sebagai sebuah “kesalahan perhitungan yang hebat” di pihak Beijing. Hong Kong menjadi kurang menarik sebagai sebuah tujuan investasi setelah Tiongkok memberlakukan sebuah undang-undang keamanan nasional di Hong Kong tahun lalu.

“Saya memperkirakan saham-saham yang terdaftar di Tiongkok akan tetap bergejolak di masa mendatang,” kata Stoyan Panayotov, pendiri Babylon Wealth Management, yang berbasis di California.

Bahkan sebelum tindakan keras oleh pemerintah Tiongkok, para investor tidak memiliki perlindungan yang sejati, karena sebagian besar perusahaan yang terdaftar di Tiongkok menggunakan sebuah Entitas Bunga Variabel (VIE) untuk go public di Amerika Serikat, kata Stoyan Panayotov kepada The Epoch Times.

Hampir setiap perusahaan Tiongkok terdaftar melalui sebuah struktur Entitas Bunga Variabel di luar Tiongkok. Selama dua dekade, struktur ini telah membantu mengesampingkan pembatasan-pembatasan Beijing terhadap investasi asing di bidang industri-industri yang sensitif, seperti: telekomunikasi, media, dan pendidikan.

Untuk sebuah daftar di luar negeri, sebuah perusahaan Tiongkok mendirikan sebuah entitas offshore, yang mengendalikan bisnis di Tiongkok melalui perjanjian-perjanjian kontrak bukannya kepemilikan ekuitas langsung. 

Oleh karena itu, tidak seperti perusahaan-perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat, para investor tidak memiliki perusahaan Tiongkok yang mendasarinya. Malahan, mereka memiliki kepentingan dalam Entitas Bunga Variabel ini.

Namun, di bawah hukum Tiongkok, struktur Entitas Bunga Variabel adalah ilegal. Oleh karena itu, setiap kontrak yang bertujuan untuk memberikan kepemilikan pemegang saham asing secara de facto adalah tidak berguna.

“Saya selalu khawatir akan struktur hukum ini, dan sebagian besar klien saya tidak memiliki saham-saham Tiongkok yang terdaftar di Amerika Serikat secara langsung,” kata Stoyan Panayotov. (Vv)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments