Beijing Panik dengan Perkembangan COVID-19, 2 Rangkaian Kereta Api Dicegat, 346 Orang Langsung Dikarantina

Ilustrasi

oleh Li Shanshan, Li Yun dan Liu Fang

Ada 2 rangkaian kereta api yang sedang melaju menuju Kota Beijing Pada (28/10/2021) diberhentikan secara paksa oleh pihak  berwenang akibat ada seorang yang berkontak dekat dengan pasien COVID-19. Akibatnya 346 orang penumpang lainnya juga ikut digiring menuju suatu lokasi untuk menjalani karantina wajib. Beberapa warga di daratan Tiongkok cukup marah dengan tindakan pihak berwenang ini yang dianggap hanya mementingkan kepentingan diri mereka sendiri

Menurut media lokal Provinsi Hebei, pada 28 Oktober sore hari, pihak berwenang di kedua kota yakni Cangzhou, Provinsi Hebei dan Jinan, Provinsi Shandong, menerima laporan dari departemen perkeretaapian yang menyebutkan bahwa dalam kereta api yang sedang menuju ke Beijing, ada anggota awak yang merupakan kontak dekat dengan pasien kasus yang dikonfirmasi. 

Administrasi Perkeretaapian Beijing kemudian menginstruksikan kereta api yang terlibat untuk segera berhenti di stasiun terdekat, untuk menjalani pemeriksaan terhadap personel terkait. Saat itu, sedikitnya 346 orang penumpang kereta api telah dikirim ke tempat terpusat untuk menjalani karantina wajib.

Insiden itu memicu diskusi panas di antara netizen daratan Tiongkok : “Kasihan para penumpang tersebut, entah berapa lama mereka akan dikurung untuk menjalani karantina di luar rumah ?”, “Saya pikir pemerintah lebih mempertimbangkan masalah politik ketimbang pencegahan epidemi, juga kurangnya semangat yang berorientasi pada manusia”, “Warga sipil-lah yang menjadi korban dari kebijakan pencegahan epidemi semacam ini”.

Lin Shengliang, seorang warga Shenzhen mengkritik cara pemerintah dalam menanggulangi penyebaran dengan mengatakan bahwa, pihak berwenang melakukan segala cara untuk melindungi Beijing dan para pejabat tinggi negara ! Hanya gara-gara satu orang kontak dekat, lebih dari 300 orang dibawa ke pusat karantina. Itu terlalu tidak manusiawi.

“Kebijakan brutal pemerintah komunis ini selain tidak manusiawi, juga tidak ilmiah dalam menyelesaikan kasus. Tindakan tersebut tidak hanya berdampak pada ratusan orang yang dikarantina secara paksa, juga membuat peningkatan biaya tak terduga perjalanan, bisnis, dan reuni keluarga mereka. Menjadi beban keuangan terhadap baik pribadi, keluarga maupun perusahaan,”  katanya. 

Seorang warga Beijing bermarga Jiang berpendapat bahwa, tidak heran jika pemerintah komunis Tiongkok memanfaatkan epidemi untuk menjaga stabilitas dan mencari keuntungan.

Gelombang baru epidemi COVID-19 kini telah menyebar ke 16 provinsi dan wilayah di daratan Tiongkok. 

Komisi Kesehatan komunis Tiongkok pada 29 Oktober mengumumkan bahwa dalam 11 hari terakhir, kasus baru telah bertambah sebanyak 300 lebih. Saat ini, terdapat 20 daerah yang ditetapkan sebagai daerah berisiko sedang hingga tinggi di seluruh negeri, yang tersebar  di Beijing dan Mongolia Dalam.

Karena pemerintah komunis Tiongkok menyembunyikan informasi terkait epidemi, data sebenarnya belum dapat diverifikasi. (sin)