Makna di Balik Gaya Minimalisme Orang Jepang : Setelah Mengalami Kemakmuran Baru Memahami Arti Kesederhanaan yang Hakiki

Erabaru.net. Dalam ruangan hanya terdapat beberapa perabot, dan barang-barang kebutuhan yang dipakai setiap harinya juga sangat minim. Sehingga ruangan tampak melompong. Mungkin saja ada orang yang menganggap pemilik rumah tersebut tidak berduit, keras kepala, tidak mau mengikuti perkembangan zaman …. Namun, jangan salah !

Ini adalah paham minimalis yang digandrungi banyak orang Jepang. Filosofi hidup minimalis adalah : Sedikit sudah berarti banyak. Alih-alih mengejar kemewahan hidup dan penampilan mentereng yang tidak bermakna, mereka lebih memilih pencapaian kedamaian bathin, dan berusaha mengurangi pengaruh yang datang dari luar.

Kebahagiaan tertinggi dalam hidup sudah mampu mereka capai dengan 1 tempat tidur dan meja, beberapa potong pakaian dan buku yang perlu dibaca.

Kebanyak dari mereka sangat memperhatikan kerapian dan kebersihan, sederhana yang penting nyaman.

Perabotan di dalam ruangan relatif sedikit, hanya beberapa yang memang sangat dibutuhkan, sehingga lebih mudah diatur dan enak dilihat.

Busana yang mereka beli dan pakai juga mengikuti prinsip bersih, nyaman, tidak model-model, tidak melanggar moralitas, dan cukup beberapa potong. Untuk makanan, yang mereka suka adalah hidangan daging dan sayuran.

Ekonomi Jepang melambung tinggi pada era 1960-an dan 1970-an. Akibatnya daya beli orang Jepang ikut menguat, sehingga keinginan untuk membeli barang-barang mewah susah ditahan.

Pekerja kerah putih “menuntut” ada tas antik (vintage) menemaninya kalau sedang ngantor, jika tidak rasanya kurang kren. Selama periode ini, tuntutan gaya hidup orang Jepang yang konsumtif meningkat. Mereka terobsesi untuk mengejar harta kekayaan. Namun tak lama kemudian, Jepang menghadapi krisis ekonomi, banyak orang Jepang “jatuh” dalam semalam karena beban utang yang besar dan kehilangan pekerjaan.

Belakangan, banyak orang Jepang mulai berpikir bahwa kehidupan materialistis tidak memberikan lebih banyak kebahagiaan, kecuali membuat kerumitan, beban yang lebih besar dalam hidup.

Akhirnya banyak orang Jepang meninggalkan sifat meterialistis, tidak ambil pusing penilaian orang lain terhadap dirinya, yang penting bisa menikmati hidup secara menyeluruh dan mendapatkan lebih banyak kepuasan spiritual ! Untuk itulah mereka memilih serba sederhana. Jadi minimalisme yang dikejar orang Jepang sekarang lebih seperti kehidupan indah surgawi yang banyak didambakan orang.(yn)

Sumber: aboluowang