Beijing Meningkatkan Agresi Karena Berupaya untuk Memimpin ‘Tatanan Dunia yang Baru’

Partai Komunis Tiongkok berusaha untuk mendominasi Amerika Serikat

Tentara Tiongkok dari Tentara Pembebasan Rakyat berbaris setelah upacara menandai peringatan 70 tahun masuknya Tiongkok ke dalam Perang Korea, pada 23 Oktober 2020, di Aula Besar Rakyat di Beijing. (Kevin Frayer/Getty Images)

Andrew Thornebrooke

Partai Komunis Tiongkok berusaha untuk menghancurkan sistem internasional dan membangunnya kembali menurut citranya sendiri. Bagi banyak orang, hal itu mungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi itulah strategi yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok.  

Kepada para hadirin internasional, Partai Komunis Tiongkok telah berulang kali menyatakan bahwa tujuan kebijakan luar negerinya didasarkan pada prinsip seperti “keuniversalan,” “dialog yang konstruktif”, dan “kerja sama yang saling menguntungkan.”

Namun bahasa semacam itu adalah membumbui kebenaran suatu keadaan dengan informasi yang menyesatkan, kata para analis, dan memungkiri tindakan konkrit

 rezim Tiongkok untuk menumbuhkan kekuatan militer dan ekonominya di seluruh dunia.

Dalam kata-kata yang diamanatkan kongres “Laporan Kekuatan Tiongkok Tahun 2021” oleh Pentagon, strategi besar Partai Komunis Tiongkok bertujuan untuk mencapai “peremajaan besar bangsa Tiongkok” pada 2049. Artinya, laporan tersebut mengatakan, menyamai atau melampaui Amerika Serikat dalam pengaruh dan kekuasaan global, menggusur mitra Amerika Serikat di kawasan itu, dan merevisi tatanan internasional untuk menjadi “lebih menguntungkan bagi sistem otoriter Beijing dan kepentingan nasional Tiongkok.”

Bongkar dan Bangun Kembali

Terlepas dari pembicaraan mengenai skenario sama-sama untung di luar negeri, pemimpin Tiongkok Xi Jinping memberikan gambaran yang lebih suram mengenai visinya untuk masa depan ketika di dalam negeri, jauh dari sorotan pusat perhatian internasional. 

Di dalam laporan rapat rezim Tiongkok, Xi Jinping mengeluarkan seruan buram agar Partai Komunis Tiongkok, melakukan reformasi pemerintahan global dan memimpin tatanan internasional.

Dalam pidato 2018, Xi Jinping mengatakan Partai Komunis Tiongkok harus “memimpin reformasi sistem pemerintahan dunia.” Dalam pidato lainnya pada 2021, Xi Jinping mengatakan bahwa “tatanan internasional yang lebih adil harus diperhatikan,” dan dipimpin oleh Tiongkok.

Demikian juga, surat kabar Sekolah Partai Pusat Partai Komunis Tiongkok mengeluarkan sebuah artikel pada tahun 2016, tidak lama setelah reformasi-reformasi militer oleh Xi Jinping, yang menyatakan “hanya masalah waktu” sebelum Partai Komunis Tiongkok termasuk di antara negara-negara yang “memimpin tatanan dunia yang baru.”

Pada sebuah pertemuan tertutup Partai Komunis Tiongkok pada bulan November, yang disebut Pleno Keenam, Xi Jinping memimpin Partai Komunis Tiongkok dalam mengeluarkan sebuah “komunike” yang menulis ulang bagian-bagian dari sejarah modern  Tiongkok dan menguraikan tujuan Partai Komunis Tiongkok untuk masa depan.

Pemimpin Tiongkok Xi Jinping (di layar) menyampaikan pidato selama perayaan 100 tahun berdirinya Partai Komunis Tiongkok di Lapangan Tiananmen di Beijing pada 1 Juli 2021. (Wang Zhao/AFP via Getty Images)

Di dalam “komunike” tersebut, Partai Komunis Tiongkok memperjuangkan bentuk komunisme Maois menurut versinya sendiri, yang disebut sebagai “sosialisme dengan karakteristik-karakteristik Tiongkok,” sebagai sebuah “model baru untuk kemajuan manusia.”

Lebih lanjut “komunike” tersebut menuntut agar ideologi Marxis disebarkan ke seluruh dunia sebagai satu-satunya filsafat politik “tidak hanya mampu membongkar tatanan dunia yang lama, tetapi juga membangun tatanan dunia yang baru.”

“Kita harus menggunakan posisi, sudut pandang, dan metode Marxis untuk mengamati, memahami, dan mengarahkan tren zaman, dan terus memperdalam pemahaman kita terhadap hukum yang mendasari pemerintahan oleh sebuah partai komunis, pembangunan sosialisme, dan pengembangan masyarakat manusia,” demikian isi “komunike” tersebut.

Kecepatan yang dimiliki Republik Rakyat Tiongkok, mengubah dirinya dari sebuah negara agraris yang benar-benar miskin menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia itu adalah sulit dipahami oleh sebagian orang.

Memang, gagasan bahwa komunis Tiongkok adalah musuh yang nyata, apalagi bertujuan untuk melengserkan dan merebut peran Amerika Serikat dalam kepemimpinan global tampaknya sebuah konsep asing bagi banyak orang hanya dua tahun yang lalu.

Presiden Joe Biden, misalnya, menepis anggapan tersebut tahun 2019 bahwa Tiongkok dapat serius bersaing dengan Amerika Serikat.

“Tiongkok bukanlah pesaing untuk kita,” kata Joe Biden setelah mengumumkan kampanyenya untuk pemilihan presiden.

Namun, pada Mei 2021, Presiden Joe Biden  mengubah nada suaranya, dengan mengatakan di sebuah konferensi pers bahwa sebuah “pertempuran antara demokrasi dengan otokrasi,” sedang terjadi, dan memperingatkan bahwa yang sedang dicari Partai Komunis Tiongkok tiada lain selain menguasai Amerika Serikat.

“[Xi Jinping] sangat yakin bahwa Tiongkok, sebelum tahun 2030, 2035, akan menguasai Amerika Serikat karena otokrasi dapat membuat keputusan yang cepat,” kata Joe Biden.

Upaya bersama untuk membongkar pengaruh Amerika Serikat di luar negeri, dan menguasainya, adalah platform yang telah disatukan oleh Partai Komunis Tiongkok. Selain itu, Beijing dengan cepat membangun militer yang diperlukan untuk merebut dan mempertahankan tujuan itu secara paksa.

Sebuah Militer yang Modern

Militer rezim Tiongkok, Tentara Pembebasan Rakyat, sedang menjalani sebuah program pertumbuhan dan modernisasi yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengejar ambisi Partai Komunis Tiongkok untuk menguasai dunia.

Xi Jinping mengarahkan militer tersebut pada tahun 2020 untuk siap menghadapi konflik yang mencakup seluruh kawasan dan, menurut media milik pemerintah Tiongkok, Xinhua, menekankan bahwa Partai Komunis Tiongkok harus mempertahankan kepemimpinan absolut atas tentara setiap saat.

Tentara Pembebasan Rakyat harus “menempatkan semua pikiran dan energi untuk mempersiapkan perang,” kata Xi Jinping.

Demikian juga, pada bulan Juli, pemimpin Tiongkok tersebut mengatakan bahwa mereka yang akan memerangi atau menindas Republik Rakyat Tiongkok akan “kepala-kepala mereka diremukkan sampai berdarah.”

Retorika semacam itu mungkin terlihat sebagai kejantanan belaka jika bukan karena fakta bahwa retorika semacam itu diimbangi dengan pengembangan strategis yang sama agresifnya.

Kendaraan militer yang membawa rudal balistik DF-41 meluncur saat parade memperingati 70 tahun berdirinya Komunis Tiongkok di Beijing, pada 1 Oktober 2019. (AP Photo/Mark Schiefelbein)

“Rata-rata orang Amerika Serikat umumnya tidak menyadari kekuatan militer dan diplomatik yang telah dicapai Republik Rakyat Tiongkok selama dua dekade terakhir,” kata James Fanell, seorang rekan di Pusat Kebijakan Keamanan Jenewa dan mantan direktur operasi intelijen dan informasi untuk Armada Pasifik Amerika Serikat.

“Demikian pula, rata-rata orang Amerika Serikat tidak menyadari program modernisasi militer Tentara Pembebasan Rakyat yang belum pernah terjadi sebelumnya dan bagaimana Tentara Pembebasan Rakyat saat ini lebih kuat daripada militer Amerika Serikat dalam kekuatan angkatan laut, overmatches udara, dan roket.”

Disebut oleh pimpinan Partai Komunis Tiongkok sebagai sebuah “dorongan habis-habisan” dalam modernisasi militer, kemampuan militer Tentara Pembebasan Rakyat yang terus berkembang mencakup pengembangan senjata hipersonik, sebuah gudang senjata nuklir yang berkembang pesat, dan angkatan laut terbesar di dunia, masing-masing bertujuan untuk menghadapi dan mengatasi sebuah kelemahan yang diketahui dalam kebijakan dan kemampuan-kemampuan pertahanan Amerika Serikat.

Xi Jinping menyebut program modernisasi Tentara Pembebasan Rakyat sebagai sebuah “perkembangan lompatan jauh ke depan.” Ini adalah pengembangan yang bertujuan untuk melompat ke teknologi militer generasi berikutnya tanpa harus membuang sumber daya untuk pertandingan pertama gudang senjata Amerika Serikat saat ini.

Uji coba sebuah senjata hipersonik Partai Komunis Tiongkok pada bulan Juli, misalnya, dilaporkan mencoba sebuah sistem pemboman orbital yang dapat mendapatkan hulu-hulu ledak nuklir di sekitar peringatan dini Amerika Serikat dan sistem pertahanan rudal Amerika Serikat, yang dirancang untuk melindungi terhadap persenjataan balistik tradisional.

Jenderal John Hyten, perwira tertinggi kedua di Pentagon saat itu, mengatakan uji coba tersebut tampak seperti sebuah senjata nuklir penggunaan pertama, dan mengecam sebuah birokrasi yang “brutal” yang menghalangi militer Amerika Serikat untuk mengembangkan sebuah sistem serupa satu dekade lalu.

James Fanell percaya bahwa kemajuan berkelanjutan program modernisasi Partai Komunis Tiongkok yang sangat mengesankan, dan ketidaktahuan yang sama-sama mengesankan mengenai program yang disebutkan di Barat, diperburuk oleh apa yang disebut kaki tangan Tiongkok–—orang-orang di lembaga akademis, lembaga pemikir, dan kantor-kantor pemerintah yang memajukan agenda pro-Tiongkok atau dengan cara lain menutupi manuver politik Partai Komunis Tiongkok.

“Baru minggu ini, seorang pensiunan laksamana bintang empat memiliki keberanian untuk menulis bahwa, sementara Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat  adalah angkatan laut terbesar di dunia, kualitas Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat ‘jauh’ lebih rendah,’” kata James Fanell, merujuk pada Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat.

James Fanell menegaskan, “Hal tersebut adalah palsu. Saya pernah naik ke kapal perang Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat beberapa kali selama 20 tahun terakhir, dan saya dapat memberitahu anda bahwa kapal-kapal perang dan pelaut-pelaut Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat memang bukan ‘kualitas yang jauh lebih rendah.’”

Kritik itu bukanlah hal baru. Seperti yang disebutkan dalam laporan tahunan Heritage Foundation mengenai kekuatan militer Amerika Serikat awal tahun ini, yang mencatat tren ahli-ahli strategi Amerika Serikat untuk melebih-lebihkan pentingnya kapal-kapal induk Amerika Serikat sambil mengecilkan angka dan keuntungan geografis kekuatan Angkatan Laut Tiongkok.

“Dampak dari pernyataan ini dan banyak, banyak orang lain menyukainya selama 20 tahun terakhir telah mematikan politik tubuh Amerika Serikat untuk memahami ancaman yang mematikan yang diwakili oleh Republik Rakyat Tiongkok dan Tentara Pembebasan Rakyat,” kata James Fanell.

Untuk itu, perlu dipahami bahwa rezim Tiongkok membuat sebagian besar struktur kekuatannya saat ini dengan satu-satunya tujuan mengusir Amerika Serikat dari Indo-Pasifik.

“Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat telah dirancang dan dibangun selama 20 tahun terakhir untuk mengalahkan Angkatan Laut Amerika Serikat dalam sebuah perang di laut, sedangkan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat terobsesi untuk melakukan operasi-operasi kontra-terorisme di Timur Tengah,” kata James Fanell.

“Harus dinyatakan bahwa ketika datang ke domain militer, Amerika Serikat berada sangat jauh di belakang Tentara Pembebasan Rakyat, terutama dalam hal perang di laut. Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat bukan hanya angkatan laut terbesar di planet saat ini, tetapi Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat memiliki lebih banyak rudal balistik anti-kapal dan rudal-rudal jelajah daripada angkatan laut lainnya.”

James Fanell mengatakan bahwa, pada tingkat saat ini, Amerika Serikat hanya kekurangan kekuatan untuk mempertahankan status quo di kawasan tersebut. Memperbaiki kelemahan itu adalah penting, kata James Fanell, mengingat peran sentral Taiwan yang sedang berlangsung dalam pertarungan Tiongkok-Amerika Serikat  untuk mendapatkan pengaruh global.

“Taiwan adalah inti tujuan Partai Komunis Tiongkok untuk menggusur keunggulan dan pengaruh global Amerika Serikat,” kata James Fanell.

“Penaklukan Taiwan adalah inti strategi untuk mendorong Amerika Serikat keluar dari Indo-Pasifik.”

Semua Jalan Menuju Taiwan

Taiwan adalah sangat penting bagi visi Xi Jinping untuk masa depan sebuah  komunis tiongkok global. Partai Komunis Tiongkok memulai angka-angka rekor serangan ke 

zona identifikasi pertahanan udara Taiwan sepanjang tahun 2021, dalam sebuah upaya untuk menggetarkan militer Taiwan dan membenarkan klaim-klaim udara Taiwan bahwa pulau Taiwan adalah bagian dari wilayah Tiongkok.

Xi Jinping bersumpah untuk mencapai “penyatuan kembali Taiwan” saat berpidato di bulan Oktober, dan menyebut kelanjutan kemerdekaan de facto Taiwan sebagai sebuah “bahaya tersembunyi yang serius bagi peremajaan nasional.”

Sebagian alasan keputusasaan dalam merebut Taiwan ini adalah ideologis. Satu lagi, strategis.

“Tidak diragukan lagi, Partai Komunis Tiongkok melihat model demokrasi Taiwan sebagai ancaman bagi Marxisme-Leninisme menurut versi Partai Komunis Tiongkok,” kata Keith Krach, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

“Orang-orang Taiwan memiliki kebudayaan, adat istiadat, dan bahasa yang sama seperti negara-negara Tionghoa nya. Mereka adalah saksi hidup bahwa orang-orang Tiongkok tidak harus kehilangan kebebasan individu dan hak atas manusia menuruti kehendak sebuah  negara komunis yang mengerikan untuk menjadi berhasil.”

Pemerintah demokratis Taiwan menentang segala sesuatu yang ditetapkan Komunike Pleno Keenam Partai Komunis Tiongkok. Keberadaan pemerintah demokratis Taiwan yang berkelanjutan menunjukkan kepalsuan klaim tersebut bahwa hanya sosialisme dengan karakteristik-karakteristik Tiongkok yang mampu menjawab kenyataan-kenyataan sejarah yang unik dari negara Tiongkok.

Peremajaan nasional, yang sangat penting bagi strategi besar Partai Komunis Tiongkok, adalah tidak mungkin tanpa penyatuan.

Situasi semacam itu telah membuat Xi Jinping putus asa untuk segera mencaplok Taiwan oleh Tiongkok Daratan, menurut Keith Krach. Dan, keputusasaan itu membuat Xi Jinping berada dalam bahaya.

“Sekretaris Jenderal Xi Jinping melihat pencaplokan Taiwan sebagai sebuah aset yang sangat berharga dalam warisannya,” kata Keith Krach.

“Hal tersebut tentu membuat ketegangan Tiongkok-Taiwan menjadi lebih mudah terbakar, terutama karena Xi Jinping merasa gerah di dalam negeri karena krisis energi dan kesalahan penanganan ekonomi olehnya.”

Pada tingkat strategis, pendudukan Taiwan akan memberikan kemampuan bagi Partai Komunis Tiongkok untuk memproyeksikan kekuatan di luar apa yang disebut rantai pulau kedua, serta mengancam pangkalan militer Amerika Serikat dan pasukan sekutu. Hal ini akan secara efektif menempatkan semua pasukan Amerika Serikat dan sekutu di kawasan itu berada dalam bahaya dari serangan-serangan rudal.

Taiwan adalah bagian rantai pulau pertama, sebuah cabang kepulauan utama yang menyebar dari Indonesia melewati Filipina dan melalui Jepang. Mempertahankan sebuah kehadiran melalui rantai pertama adalah diperlukan untuk memproyeksikan kekuatan militer melalui rantai pulau kedua, yang lebih jauh ke Pasifik.

Partai Komunis Tiongkok telah lama menyadari kebutuhan strategis untuk mengendalikan Taiwan.

Menurut sebuah artikel tahun 2004 oleh media pemerintah Tiongkok, Global Times, mengambil alih Taiwan akan membuka sisi timur Samudra Pasifik untuk militer Tiongkok dan secara bersamaan mengikis penghalang strategis yang ditimbulkan oleh rantai pulau pertama, yang saat ini membuat pasukan Tiongkok dekat dengan daratan Tiongkok.

Taiwan dengan demikian diperlukan untuk perjuangan Partai Komunis Tiongkok untuk menguasai dunia, karena baik koherensi ideologis komunisme Tiongkok maupun  kapasitas militer Tiongkok untuk melakukan perang dengan Amerika Serikat bergantung pada Taiwan.

Mungkin karena alasan itu, sebuah tajuk rencana baru-baru ini oleh Global Times menyatakan bahwa rezim Tiongkok akan “menyerang dengan keras pasukan Amerika Serikat yang datang untuk menyelamatkan Taiwan,” dan menambahkan bahwa setiap senjata yang diberikan kepada Taiwan oleh Amerika Serikat harus dihancurkan.

Keith Krach berkata: “Setelah menunggu waktu selama beberapa dekade, berperan sebagai korban, memunculkan perlakuan istimewa dari dunia bebas, Sekretaris Jenderal Xi Jinping memutuskan sudah waktunya bagi Tiongkok untuk merebut peran dominan di panggung dunia.

“Partai Komunis Tiongkok juga memahami peran strategis Taiwan sebagai sebuah pembangkit tenaga listrik berteknologi canggih yang terpercaya, terutama sebagai pabrikan-pabrikan semikonduktor utama dunia,” kata Keith Krach mengacu pada fakta bahwa Taiwan bertanggung jawab atas produksi sekitar 63 persen semikonduktor dunia, yang sangat penting untuk teknologi-teknologi mulai dari truk-truk pickup hingga rudal-rudal balistik—-sebuah kemampuan yang didambakan oleh Beijing.

“Itulah mengapa mengendalikan Taiwan adalah sebuah prioritas strategis bagi Partai Komunis Tiongkok, dan  harus menjadi prioritas dunia bebas untuk membela Taiwan dan memastikan teknologi masa depan adalah teknologi terpercaya.”

Hegemoni

Strategi besar Partai Komunis Tiongkok bermuara pada hegemoni. Ambisi Partai Komunis Tiongkok adalah untuk menyingkirkan Amerika Serikat dan menggantikan Amerika Serikat, dan Xi Jinping telah mengarahkan militer untuk memperkuat posisi Partai Komunis Tiongkok menuju tujuan ini.

“Tujuan-tujuan Partai Komunis Tiongkok untuk hegemoni global adalah nyata, bukan hanya propaganda,” kata Anders Corr, kepala perusahaan penasihat Corr Analytics dan seorang kontributor untuk The Epoch Times.

“Partai Komunis Tiongkok bergerak maju dengan undang-undang yang memiliki efek ekstrateritorial global, terkait dengan upaya-upaya ekstradisi yang agresif, seiring dengan meningkatnya pengaruh, cenderung ke arah kendali dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan internasional lainnya dan perusahaan-perusahaan multinasional.”

Untuk itu, Partai Komunis Tiongkok sedang mengejar sebuah strategi seluruh bangsa, memanfaatkan militer, ekonomi, dan aparat diplomatik miliknya melawan Amerika Serikat.

Hal tersebut menghadirkan sebuah bahaya bagi semua orang Amerika Serikat, menurut Anders Corr, karena Partai Komunis Tiongkok hampir pasti bersedia melangkah lebih jauh dalam mengejar konflik yang bersifat merusak daripada yang bersedia dilakukan oleh Amerika Serikat.

“Partai Komunis Tiongkok lebih bersedia mengambil risiko perang daripada kita, yang dapat digunakan Partai Komunis Tiongkok sebagai bentuk yang menyerempet bahaya untuk memaksa kita mundur,” kata Anders Corr. “Perang di zaman nuklir melawan sebuah musuh bersenjata nuklir hampir tidak terpikirkan untuk para warganegara di negara-negara demokrasi, yang dari sudut pandang Beijing merupakan sebuah kelemahan untuk dieksploitasi.”

Aparat diplomatik Partai Komunis Tiongkok mengatakan Partai Komunis Tiongkok menginginkan perdamaian dan skenario-skenario sama-sama untung. 

Namun, apa yang ditiadakan Partai Komunis Tiongkok adalah persis apa yang dipegang oleh Xi Jinping untuk perlunya memulai perdamaian.

Berbicara pada peringatan Perang Korea pada tahun 2020, Xi Jinping hanya mengatakan, “Sebuah kemenangan diperlukan untuk memenangkan perdamaian dan rasa hormat.”

Adalah kemenangan, bukan persahabatan, yang dicari Partai Komunis Tiongkok sekarang. (Vv)