Juri Olimpiade Beijing Dituduh Pilih Kasih Karena Menerapkan Aturan yang Menyumbangkan Emas untuk Tiongkok

Upaya Tiongkok untuk mendapatkan medali emas di Olimpiade Musim Dingin Beijing telah dipenuhi dengan drama

Shaolin Sandor Liu (kiri) jatuh di sebelah Ren Ziwei dari China setelah melewati garis finis di final A nomor skating kecepatan lintasan pendek 1.000 meter putra selama Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 di Capital Indoor Stadium pada 7 Februari, 2022. (Anne-Christine Poujoulat/AFP via Getty Images)

Eva Fu

Dua dari tiga medali emas sejauh ini berasal dari track speed skating. Kedua kemenangan tersebut muncul dari ulasan pasca-lomba yang mendukung Tiongkok, sehingga memicu protes dari pihak yang dirugikan, serta tuduhan-tuduhan terhadap wasit yang pilih kasih membela negara tuan rumah.

Selama akhir pekan, Tiongkok berada di tempat terakhir selama semifinal estafet campuran dan akan tidak sampai bertanding di final sama sekali. Atlet Tiongkok lebih unggul setelah Amerika Serikat dan Rusia, setelah finis di urutan kedua dan ketiga masing-masing selama semifinal, didiskualifikasi karena halangan setelah sebuah tinjauan resmi yang panjang, sehingga tim-tim membongkar apa yang telah terjadi.

“Telepon datang kepada saya mengenai apa yang saya lakukan,” kata speed skater  Amerika Serikat Ryan Pivirotto, yang dikenal sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut. 

Seorang pejabat speed skater  berkata Ryan Piviorotto secara ilegal menyeberang ke trek dari tengah lapangan sambil mempersiapkan untuk mengetuk, memblokir atlet skating Tiongkok.

“Saya bahkan tidak tahu persis apa yang saya lakukan, karena tidak ada kontak,” kata Ryan Piviorotto.

Sedangkan speed skater  Korea Selatan, Kwak Yoon-gy, yang menonton lomba tersebut, mengatakan ia merasa sulit untuk menerima panggilan untuk menghukum kedua negara tetapi meloloskan Tiongkok.

“Melihat cara Tiongkok memenangkan medali emas, saya merasa sedih karena rekan rekan satu tim saya yang lebih muda harus menonton sesuatu semacam itu,” kata pemain yang berusia 32 tahun itu kepada Kantor Berita Yonhap yang berbasis do Seoul. 

“Saya berpikir dalam hati: ‘Apakah ini benar-benar hanya kemenangan sebuah medali emas?’ Semuanya terasa sangat hampa.”

Kwak Yoon-gy menyatakan bahwa Tiongkok telah menerima perlakuan yang baik sebagai negara tuan rumah.

“Jika ada negara lain selain Tiongkok berada dalam situasi itu, saya bertanya-tanya apakah tim tersebut masih diizinkan mencapai final seperti itu?” kata Kwak Yoon-gy, mencatat bahwa hingga sekarang ia diliputi dengan rasa ketidakadilan. 

“Saya merasa hal itu menjadikan kita berada di ujung yang salah dari semua ini. Saya memikirkan betapa menjengkelkan dan membuat frustrasi hal tersebut akan terjadi jika kita menjadi bagian dari itu.”

‘Ini Adalah Sebuah Parodi’

Kemarahan dan kebingungan muncul di tengah tuduhan bahwa negara tuan rumah Olimpiade Musim Dingin, Tiongkok, telah mendapatkan sebuah keuntungan dari  keputusan yang telah mengeluarkan serentetan pesaing Olimpiade teratas dari kompetisi itu.

Dalam acara lompat ski campuran, lima pemain ski wanita yang mewakili Austria, Jepang, Norwegia, dan Jerman diusir pada tanggal 8 Februari, karena mengenakan setelan yang dianggap longgar dan mampu memberi mereka celah ekstra saat berada di udara, meskipun setelan itu telah diperbolehkan di acara sebelumnya. 

Empat negara tersebut telah mengklaim semua 15 medali yang tersedia di acara tersebut selama empat dunia terakhir kejuaraan sejak 2013.

“Ini adalah sebuah parodi, tetapi saya tidak tertawa, Sungguh keterlaluan bahwa ini terjadi pada empat negara lompat-ski terbesar,” kata kepala acara Nordik Jerman Horst Huttel. 

Korea Selatan gempar setelah dua pembalapnya didiskualifikasi selama semifinal lintasan pendek 1.000 meter putra pada 7 Februari, sebuah acara di mana atlet Tiongkok akhirnya mengantongi emas dan perak setelah sebuah tinjauan pasca-lomba.

Di babak semifinal, pemegang rekor dunia Korea Selatan, Hwang Dae-heon, adalah orang pertama yang melewati garis finis. Ia kemudian tersingkir dari rekan satu timnya—–sehingga memungkinkan peseluncur Tiongkok menuju ke final–—setelah juri menentukan bahwa kedua atlet Korea Selatan itu telah membuat “lolos terlambat secara ilegal” dan sebuah perubahan jalur, yang menyebabkan keduanya kontak dengan pemain lain.

Di final, Shaolin Sandor Liu dari Hungaria awalnya terlihat seperti juara setelah melewati garis finis warna biru tepat sebelum penantang Tiongkok Ren Ziwei.

Rekaman video menunjukkan bahwa pada satu titik, Ren Ziwei tampak meregangkan lengannya ke tubuh Shaolin Sandor Liu, yang menyebabkan Shaolin Sandor Liu jatuh.

Setelah sebuah tinjauan video, wasit memberi peseluncur Hungaria dua penalti, satu penalti akibat   “perubahan jalur yang menyebabkan kontak”, dan sebuah kartu kuning, akibat memberikan tanda kemenangan kepada Ren Ziwei.

“Saya tidak berpikir ada pertanyaan atau keraguan. Semua orang mendapatkannya,” kata rekan satu negara Ren Ziwei bernama Li Wenlong, yang dipromosikan ke tempat kedua, mengatakan mengenai kontroversi tersebut.

Tim-tim jalur pendek dari Korea Selatan dan Hongaria mengajukan keluhan kepada ketua wasit International Skating Union atas keputusan tersebut. Keluhan keduanya ditolak. International Skating Union mengatakan semua keputusan diskualifikasi adalah final dan bahwa kepala wasit tetap bersikukuh dengan keputusan terakhirnya setelah meninjau insiden itu sekali lagi.

Untuk pertama kalinya dalam 18 tahun, Korea Selatan membawa kasus tersebut ke badan peradilan olahraga papan atas, Pengadilan Arbitrase Olahraga.

“Kami akan mengeksplorasi semua cara dan sarana yang tersedia untuk memastikan bahwa sebuah penghakiman  yang tidak adil semacam itu tidak akan dibuat lagi,” Yoon Hong-geun, ketua Serikat Seluncur Korea, mengatakan dalam konferensi pers tanggal 8 Februari yang disiarkan televisi di Beijing.

Yoon Hong-geun mencatat bahwa keuntungan tuan rumah  “sebagian berhasil” menguntungkan Tiongkok.

Para pejabat olahraga Korea Selatan yang marah dan warganegara biasa menyerukan agar Korea Selatan menarik diri dari Olimpiade tersebut dan membawa pulang atlet-atlet Korea Selatan.

“Kami menerima begitu banyak panggilan telepon sehingga kami tidak dapat tidur,” kata Yoon Hong-geun, meskipun ia percaya bahwa pihaknya “belum dalam tahap itu.”

Dalam kemarahan yang jelas, Seoul Shinmun, surat kabar harian tertua di Korea Selatan, menerbitkan sebuah artikel yang hanya terdiri dari baris “Biarkan saja negara tuan rumah Tiongkok mengambil semua medali” yang diulang 10 kali.

Sentimen publik di Korea Selatan adalah cukup kuat sehingga Kedutaan Besar Tiongkok setempat bersuara pada tanggal 9 Februari. Menggambarkan kritik itu sebagai serangan terhadap Tiongkok, Kedutaan Besar Tiongkok tersebut menuduh para politisi dan outlet media Korea Selatan “menghasut sentimen anti-Tiongkok” dan “perasaan meracuni antara rakyat kedua negara.”

Ren Ziwei bukanlah satu-satunya atlet Tiongkok yang terlibat dalam kontroversi. Dalam sebuah acara seluncur cepat yang terpisah, pemain Tiongkok Fan Kexin tampaknya mendorong penanda jalur dengan tangan kirinya ke jalur lawan yaitu Kanada, sebuah tayangan ulang kejadian itu dalam gerakan lambat. Pelacak pendek Kanada, Alyson

Charles, menginjak penanda dan berputar di luar kendali. Peseluncur Kanada lainnya disalahkan karena kejatuhan tersebut sehingga ia tersingkir dari lomba tersebut.

Segalanya berubah pada 9 Februari, saat Hwang mengambil emas untuk Korea Selatan sementara Ren Ziwei, yang dihukum karena menghalangi, kehilangan harapannya untuk meraih medali emas ketiga untuk Tiongkok.

“Itu adalah lomba terbersih dan itu adalah strategi kami juga, untuk lomba terbersih,” kata Hwang Dae-heon pada sebuah konferensi pers. (Vv)