Olimpiade Beijing Akan Membesarkan Hati PKT, Sama Seperti Olimpiade Berlin Membesarkan Hati Hitler

Kembang api berbentuk cincin Olimpiade meledak di atas Stadion Nasional selama upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin 2022 di Beijing pada 4 Februari 2022. (Li Xin/Pool/AFP via Getty Images)

oleh Barbara Kay

Olimpiade Musim Dingin, atau seperti yang lebih disukai beberapa orang, “Olimpiade Genosida,” yang sedang berlangsung di Beijing, dengan partisipasi dari 91 negara. 

Saya biasanya menghindari hiperbola, tetapi pikiran  terus-menerus melayang ke Olimpiade tahun 1936 di Berlin, pertama kali dalam sejarah Olimpiade bahwa boikot diusulkan—–tetapi gagal terjadi–—dengan alasan pelanggaran hak asasi manusia. 

Hitler menerima penolakan internasional terhadap boikot tersebut, sebagai tanda bahwa penganiayaan yang dilakukan Hitler terhadap orang-orang Yahudi dan kebijakan ekspansionis akan ditoleransi, jika Hitler mempercepat kebijakan ekspansionis setelah Olimpiade tersebut. Hitler benar.

Beberapa rekan saya tampak sama-sama pesimis. Kontributor Epoch Times Lawrence Solomon dan Patricia Adams, baru-baru ini mengamati di laman-laman ini bahwa sementara Olimpiade modern secara historis didasarkan pada nilai-nilai “keunggulan, rasa hormat [dan] persahabatan,” langkah-langkah kendali Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang kejam membuat ejekan terhadap ketiga nilai tersebut, dalam pementasan proses “Olimpiade distopia yang paling mengerikan dalam sejarah.”

Sudah hampir 14 tahun sejak Beijing terakhir kali menjadi tuan rumah Olimpiade pada 2008. 

Bahkan pada saat itu PKT adalah sebuah rezim yang secara terang-terangan totaliter dan rakus, tanpa mempedulikan hak asasi manusia dan secara mencolok menindas etnis minoritasnya. Falun Gong, umat Kristen, dan orang-orang Tibet pada saat itu semuanya merasakan cambuk Partai Komunis Tiongkok. 

Tetapi, Partai Komunis Tiongkok merasa Olimpiade adalah haknya. “Olimpiade milik seluruh dunia,” kata seorang pejabat Tiongkok. “Fakta bahwa Olimpiade belum pernah diadakan di Tiongkok adalah sebuah kegagalan gerakan Olimpiade.” 

Kesimpulan, kemudian, sebuah gerakan Olimpiade yang sukses di mata Partai Komunis Tiongkok adalah gerakan yang merayakan kecakapan fisik tetapi sama sekali tidak terikat dari nilai atau prinsip apa pun yang baik.

Selama bertahun-tahun, dunia telah menyaksikan pembersihan etnis yang berjalan lambat terhadap  Muslim Uyghur, melalui kurungan di kamp-kamp pendidikan ulang, dipaksa melakukan aborsi, dan sterilisasi. 

Sebuah program pemerintah yang bersifat sebuah  pemerkosaan massal membuat para kader Partai Komunis Tiongkok, tinggal bersama keluarga Uyghur untuk mempercepat asimilasi. 

Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat telah menetapkan bahwa secara bersama-sama, kebijakan-kebijakan ini merupakan genosida dan kejahatan-kejahatan terhadap kemanusiaan. 

Tetapi jika, bahkan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan adalah tidak cukup untuk memicu tindak tanpa kekerasan yang berarti yang akan mempermalukan para pelakunya, lalu apa gunanya pernyataan ini selain untuk mengecilkan definisi semacam itu dan/atau untuk mengakui ketidakmampuan Barat?

Tanpa penonton dan semua media dikendalikan dengan ketat, bahkan boikot diplomat terhadap Olimpiade oleh Amerika Serikat dan beberapa negara lain, termasuk Kanada, adalah sebuah sikap kecaman yang lemah, karena Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa yang ceroboh, António Guterres, berpihak untuk melegitimasi Olimpiade atas nama semua negara di dunia.

Apakah Partai Komunis Tiongkok bahkan sedikit malu dengan penghinaan dari orang-orang seperti Justin Trudeau? Bagaimana kita tahu? Orang-orang yang kejam ini tidak pernah merasa malu. Sebaliknya, strategi mereka yang gagal dalam menanggapi ketidaksetujuan internasional adalah untuk menggandakan propaganda mereka. 

Ribuan orang yang berpengaruh di media sosial Barat di TikTok dan Instagram telah direkrut untuk menyebarkan cerita-cerita yang positif mengenai Tiongkok sepanjang Olimpiade. 

Untuk menghebohkan Olimpiade itu, media Tiongkok telah “menyebarkan cerita-cerita mengenai anak-anak Uyghur yang bahagia  terlibat dalam olahraga-olahraga salju.” 

Penghinaan-penghinaan investasi akan berdampak, tetapi sponsor-sponsor perusahaan seperti NBC dan Coca-Cola—–sangat ingin membangun mandat-mandat di dalam negeri –— yang selalu untung karena keterlibatannya dalam menyajikan kepentingan-kepentingan ini rezim yang jahat tersebut.

Orang mungkin berpikir, mengingat nasionalisasi diri kita yang intens atas penyalahgunaan Sekolah Asrama India di Kanada yang sudah lama tutup, di mana para pemimpin politik akan sangat sensitif terhadap optik-optik berkolaborasi dengan sebuah negara yang saat ini antusias terlibat dalam sebuah operasi serupa. 

Anak-anak Uighur dari orang tua di kamp-kamp pendidikan ulang telah dipaksa masuk sekolah-sekolah asrama di Xinjiang. 

Dan, menurut sebuah laporan Desember 2021 oleh Institut Aksi Tibet, sekitar 800.000 anak Tibet–—hampir 80 persen penduduk Tibet yang berusia enam tahun hingga 18 tahun–—saat ini terdaftar di sekolah-sekolah asrama kolonial yang, meskipun jauh lebih memaksa, menyerupai Sekolah Asrama India di Kanada. Sekolah-sekolah tersebut telah dilaporkan di Kanada, tetapi tampaknya tidak membangkitkan kemarahan yang diharapkan di antara ahli-ahli sayap kiri yang terpaku pada kejahatan-kejahatan penjajah Kanada.

Mengenai hak asasi manusia, Komite Olimpiade Internasional berusaha untuk sebuah kode etik yang sempit. Pada tahun 1964, dan di Olimpiade berikutnya, Komite Olimpiade Internasional melarang Afrika Selatan mengirim peserta ke Olimpiade karena aturan mereka mewajibkan Komite Olimpiade Internasional untuk melindungi peserta yang terkena dampak pelanggaran hak asasi manusia, yang merupakan kasus bagi atlet era apartheid. 

Namun, jika negara tuan rumah melanggar hak asasi rakyatnya sendiri, tetapi membebaskan atlet-atlet Olimpiade dari kecaman-kecaman ini, Komite Olimpiade Internasional membiarkan pihaknya menutup mata. 

Olimpiade politik ini hanya bekerja jika negara tuan rumah menghormati garis terang Komite Olimpiade Internasional. Tetapi, Beijing secara terbuka mengejek melewati batas Komite Olimpiade Internasional.

Antropolog dan profesor ilmu sosial John MacAloon dari Universitas Chicago, telah mempelajari Olimpiade selama beberapa dekade, dengan memusatkan perhatian pada hubungan-hubungan internasional, diplomasi antar-kebudayana, dan hak asasi manusia. Olimpiade Beijing, kata John MacAloon dalam sebuah wawancara, “belum pernah terjadi sebelumnya” dalam hal kebebasan berbicara atlet yang sedang disensor.

Penyensoran terhadap atlet-atlet bertentangan dengan “Aturan 50” Komite Olimpiade Internasional itu sendiri, yang diperkenalkan dalam Piagam Olimpiade pada 1975. 

Aturan 50 memang melarang keterlibatan atlet-atlet dalam “demonstrasi” dan “propaganda,” termasuk protes dalam persaingan itu sendiri, di podium atau selama upacara pembukaan; tetapi tidak melarang kebebasan berbicara dalam konteks lain, seperti berkomunikasi dengan wartawan atau posting di media sosial atlet sendiri. 

Pemerintah Tiongkok telah mengatakan kepada atlet-atlet akan ada “hukuman tertentu”,  jika atlet-atlet tersebut bertindak, berbicara, atau memprotes dalam sebuah cara yang menyinggung hukum dan pemerintah Tiongkok, termasuk apa yang atlet-atlet tersebut katakan kepada wartawan dan media sosial. 

“Tidak ada yang seperti ini yang pernah terjadi sebelumnya,” kata John MacAloon. 

“Ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya dalam 50 tahun saya melakukan etnografi sebagai seorang antropolog Olimpiade.”

Dunia telah banyak berubah sejak Olimpiade Berlin. Pada tahun 1936, semua orang tahu Nazi adalah masalah bagi Eropa, dan mengapa. Tetapi, membela sebagian para optimis, tidak ada yang dapat memprediksi apa pun yang menyerupai perluasan bencana yang akan datang. 

Dan, sisi baiknya, Olimpiade Berlin adalah luar biasa untuk olahraga ketika Jesse Owens, Ralph Metcalfe, dan atlet-atlet kulit hitam lainnya menunjukkan keberaniannya terhadap Jerman dan dunia, secara singkat mempermalukan tuan rumahnya yang  rasis.

Tetapi, saat ini, kita telah melihat bencana alam yang terjadi di Tiongkok secara tepat waktu. Kita tahu di mana kamp-kamp konsentrasi. 

Kita tahu di mana mayat-mayat itu dikuburkan. Kita tahu korban-korban korban bencana alam itu, dan di mana mereka dipenjara.

Kita tahu rencana ekspansionis Tiongkok. Apa yang akan dilakukan Partai Komunis Tiongkok dengan hadiah yang kita berikan? 

Apa pun yang Partai Komunis Tiongkok inginkan, sekarang Partai Komunis Tiongkok menguji kompas moral kita dan menemukan bahwa kompas moral kita kurang baik, Partai Komunis Tiongkok akan melakukannya “lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat.” (Vv)

Barbara Kay adalah kolumnis tetap untuk National Post sejak tahun 2003. Ia juga kolumnis senior untuk Western Standard, dan juga menulis untuk publikasi lainnya. Proyek penulisan terbarunya adalah penulisan bersama dengan Linda Blade dari buku “Unsporting: How Trans Activism and Science Denial are Destroying Sport.”

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis