Aneh Tapi Nyata ! Etnis Hui di Sichuan Wajib Mengubah Pengucapan Marga Hu (Macan) Mereka dengan Mao (Kucing)

Erabaru.net. Tahun Macan dimulai sejak Tahun Baru Imlek 1 Februari 2022. Di tahun macan atau harimau ini, Ada fenomena menarik seputar ‘macan’ yang juga sempat menarik perhatian masyarakat. Di antaranya, keluarga etnis Hui di Kota Chengdu, Sichuan, Tiongkok yang bermarga 虎 (dibaca hu yang artinya macan/harimau), tetapi secara turun temurun diucapkan sebagai 猫 (dibaca mao yang artinya kucing). Bahkan warga yang memiliki nama keluarga hu (macan) pun tidak tahu alasannya mengapa harus diucapkan mao (kucing). Namun, menurut para ahli setempat, fenomena ini mungkin berasal dari interaksi antar etnis dari Hui dan Yi di zaman dahulu.

“Nama keluarga saya yang hu (macan) harus saya ucapkan mao (kucing) sejak saya masih kecil, memang kerap menimbulkan tertawa teman-teman,” kata Hu Bing, seorang pria warga Kota Chengdu bermarga hu (macan) yang berusia 48 tahun.

Dia juga mengatakan bahwa sekian tahun lalu ketika dia pergi mencari kerja di luar kota, orang luar juga bingung ketika Hu Bing mengisi formulir pendaftaran.

“Lho ! Mengapa Anda memanggil diri Anda Mao Bing, bukan Hu Bing. Bukankah marga Anda Hu ?” tanya pendaftar yang keheranan.

“Sebenarnya, saya sendiri juga ingin mengetahui sebabnya,” kata Hu Bing malu-malu.

Menurut media ‘China News Service’, bahwa banyak penduduk desa setempat dengan nama keluarga hu (macan) juga tidak tahu alasan perubahan pengucapannya itu.

Seorang pria tua berusia 70-an mengatakan : “Sejak saya masih kecil, marga saya yang hu juga diucapkan mao. Konon, hal itu sudah terjadi turun temurun”.

Hu (macan) Yongkai, seorang penduduk desa berusia 49 tahun mengatakan bahwa konon masyarakat lokal yang bermarga hu (macan) memiliki keterkaitan dengan masyarakat bermarga hu (macan) di Zhaotong, Provinsi Yunnan. Mereka di sana juga mengucapkan marga hu macan mereka dengan mao kucing.

Menurut para ahli setempat, warga etnis Hui yang bermarga hu (macan) di daratan Tiongkok sebagian besar tersebar di Daerah Otonom Suku Hui Ningxia, Provinsi Yunnan, Provinsi Sichuan, Kota Nanjing, Luoyang dan lainnya. Namun hanya warga bermarga hu (macan) yang tinggal di wilayah barat daya Tiongkok yang mengucap hu (macan) dengan mao, sedangkan di tempat lain warga bermarga hu (macan) tidak mengubah ucapannya menjadi mao.

Tidak ada penjelasan yang seragam mengenai fenomena ini, kecuali ada 3 pendapat cukup menonjol yang beredar di masyarakat, yakni yang pertama, menurut ‘Sejarah Asal Usul Marga Hu (macan)’ disebutkan bahwa di zaman dahulu, ada seorang leluhur bermarga Yuan yang berasal dari Kawasan Barat (Xiyu), masuk ke daratan Tiongkok kemudian berhasil diangkat menjadi seorang panglima perang oleh raja Dinasti Tang yang berkuasa saat itu (Era Dinasti Tang 618–907). Karena kehebatannya dalam berperang mungkin, ia kemudian mendapat gelar ‘Panglima Berwibawa Harimau’. Sejak saat itu, keturunannya menggunakan hu (macan) sebagai marga.

Setelah kelompok orang bermarga hu (macan) yang masih hidup pada akhir Dinasti Ming (era Dinasti Ming 1368–1644) berpindah mukim ke daerah Yunnan, untuk menghindari terjadinya hal yang tidak perlu sekaligus demi menghormati orang lain, terutama terhadap penguasa, jadi mereka yang bermarga hu (macan) mengucapkannya dengan mao. Begitulah kebiasaan tersebut berlangsung turun temurun sehingga menjadi adat yang tabu untuk mengucapkan marga (hu) kecuali dengan mao.

Pendapat kedua, yakni ketika nenek moyang bermarga hu (macan) masih berada di utara, hu (macan) tetap diucapkan hu (macan), tetapi setelah mereka berhasil memenangkan peperangan dan menjelajah daerah selatan, karena menganggap harimau sudah meninggalkan hutan, maka mereka mengucapkan marga hu (macan) dengan mao (kucing).

Pendapat ketiga, yaitu karena nenek moyang etnis Hui bermarga hu (macan) sering mondar-mandir antara Sichuan dan Yunnan untuk berbisnis bahan kulit, saat ada orang yang bertanya tentang marga, agar tidak mengganggu bisnis, mereka lebih suka mengaku sebagai warga mao karena khawatir meninggalkan kesan kurang menyenangkan (yakni orang bermarga hu (macan) tabu untuk mencari nafkah dengan mengorbankan macan, apalagi kulitnya), sehingga mereka mengubah sebutan hu (macan) dengan mao (kucing).

Yuan Tingdong, seorang sarjana budaya Bashu (juga disebut budaya Sichuan) mengatakan bahwa di masa lalu, ada fenomena tabu di antara orang-orang daratan Tiongkok yang bermarga hu (macan), sehingga mereka mengubah pengucapannya menjadi mao (kucing).

“Sebenarnya, perubahan pengucapan dari hu menjadi mao ini terkait dengan interaksi antar etnis Yi dan Hui di Yunnan selama Dinasti Ming dan Qing”, kata Hu (macan) Liping, seorang profesor di Sekolah Ekonomi dan Manajemen Universitas Kunming yang juga terganggu dengan mengubah ucap marga hu (macan) dengan mao (kucing).

Memang penelitian masih terus dilakukan. Dia mengatakan bahwa pada masa Dinasti Ming dan Qing, budaya Tusi etnis Yi di Yunnan memiliki pengaruh yang besar, sehingga nenek moyang etnis Hui sangat dipengaruhi oleh budaya etnis Yi ini.

Hu Liping mengatakan bahwa budaya Yi memuja harimau, dan mudah untuk mengolongkan kucing sebagai harimau. Mao (猫) kucing dalam dialek etnis Yi adalah miao (妙) yang dapat diartikan sebagai luar biasa, pintar, cekatan …. Kebiasaan ini masih dipertahankan di beberapa bagian Yunnan hingga saat ini.

“Jadi ketika warga etnis Hui bermarga hu (macan) pindah masuk ke wilayah etnis Yi, mereka secara alami dipengaruhi oleh kebiasaan lokal masyarakat etnis Yi, demi penghormatan lalu mereka mengubah ucapan dari hu menjadi mao”. Hu Liping mengatakan bahwa bisa jadi perubahan pengucapan ini berasal dari interaksi yang terjadi antar etnis Hui dengan Yi.(sin/yn)

Sumber: aboluowang