Aksi Protes Anti-Perang Merebak di 53 Kota Rusia, Polisi Tangkap 4.300 Orang

Polisi Rusia menahan seorang pria selama protes di pusat kota Moskow pada 3 Maret 2022. (AFP melalui Getty Images)

Chen Beichen – NTDTV.com

Invasi Rusia ke Ukraina  menimbulkan perhatian global. Bahkan Moskow telah meledakkan tren anti-perang. Kelompok pemantau hak asasi manusia Rusia OVD-Info mengatakan bahwa sejak perang dimulai, demonstrasi anti-perang  digelar di 53 kota di Rusia, dan setidaknya 4.366 orang ditangkap.

OVD-Info melaporkan lebih dari 3.500 orang ditangkap oleh polisi saat protes anti-perang yang berlangsung di 49 kota pada Minggu (6/3/2022) di seluruh penjuru Rusia.  

Kementerian dalam negeri Rusia sebelumnya mengkonfirmasi berita tersebut, mengatakan polisi telah menangkap sekitar 3.500 orang di seluruh negeri, termasuk 1.700 orang di Moskow, 750 orang di St. Petersburg dan 1.061 orang di kota-kota lain, jumlah penangkapan tertinggi dalam aksi protes baru-baru ini.

Menurut sebuah video oleh kantor berita independen Rusia, kerumunan besar meneriakkan “Melawan perang!” di Central Avenue St. Petersburg, Nevsky Prospekt, dan Lapangan Manezhnaya di luar tembok Kremlin Moskow.

Dalam sebuah video di Twitter, seorang wanita yang memprotes perang mengatakan kepada polisi di kota Baltik Kaliningrad bahwa dia selamat dari pengepungan Nazi di Kaliningrad . 

“Apakah Anda di sini untuk mendukung fasis?” petugas polisi itu menjawab, mengulangi pernyataan Kremlin tentang perang di Ukraina, memanggil petugas polisi lainnya dan memberi tahu mereka: “Tangkap mereka semua (para demonstran).”

Menurut laporan “New York Times”, ribuan orang Rusia yang berpartisipasi dalam aksi protes pada 6 Maret hanya sebagian kecil dari mereka yang marah atas invasi. Dalam sepuluh hari terakhir, ribuan orang Rusia telah meninggalkan negara itu. Mereka kabur dengan menarik tabungan mereka dengan cepat menguap di tengah kemerosotan rubel dan sanksi keras dari Barat.

Anton Dolin, seorang kritikus film paling terkenal di Rusia, mengumumkan secara online pada 6 Maret bahwa ia akan meninggalkan Rusia, dengan mengatakan bahwa “kita menderita bencana, bukan bencana ekonomi atau politik. Ini adalah bencana moral.” 

“Saya tidak bisa menghirup udara di Moskow, di mana orang terus mendiskusikan rencana, menonton film, berdiskusi seni, pergi ke pameran dan pemutaran perdana, sementara orang-orang di Ukraina terbunuh dan sekarat. Setiap menit dari kehadiran ini menegaskan dengan jelas fakta: Anda adalah kaki tangan mereka,” kata Dolin.

Meskipun presiden Prancis dan Turki sama-sama melakukan panggilan telepon dengan Putin pada tanggal 6 Maret,  para pemimpin kedua negara mendesak Rusia untuk mempertimbangkan gencatan senjata. Akan tetapi, posisi Putin tidak banyak berubah. 

“Akhir dari operasi khusus hanya mungkin jika Kyiv menghentikan operasi militernya dan memenuhi semua tuntutan Rusia,” kata Kremlin.

Pada 6 Maret, pemerintah Rusia memblokir situs web hampir semua media independen yang meliput perang di negara tersebut. Putin menandatangani undang-undang pada Jumat 4 Maret,  menghukum bagi siapa pun yang menyebarkan “berita palsu” dengan hukuman penjara hingga 15 tahun. (hui)