Setelah Suamiku Meninggal, Aku Membawa Putriku Pulang ke Rumah Ibuku, Enam Bulan Kemudian, Ibu Mertuaku Datang dan Memberikan Hadiah yang Membuat Aku Terharu

Erabaru.net. Aku seorang gadis dari pedesaan. Kondisi keluargaku tidak dalam kondisi yang baik. Aku adalah anak tertua dalam keluarga. Aku memiliki dua adik laki-laki dan seorang adik perempuan. Orangtuaku bekerja sebagai petani.

Ketika aku berusia 16 tahun, aku bekerja di pabrik garmen di kota. Pabrik itu mengkhususkan diri dalam membuat pakaian hangat untuk musim gugur dan musim dingin. Aku sering mengambil satu atau dua potong pakaian dan memberikannya kepada adik-adikku.

Suatu kali, aku mengambil mantel termal musim gugur dan memasukkannya ke dalam perutku. Aku memeluk perutku dengan kedua tangan ketika pulang kerja. Tanpa diduga, pengawasan mengetahuinya. Aku takut dan memohon padanya untuk tidak melaporkan aku. Aku tidak menyangka dia berbelas kasih dan tidak melaporkan aku.

Untuk berterima kasih padanya, aku mengundangnya untuk makan siang hari berikutnya. Kami saling mengenal dengan baik dan menjalin hubungan. Ketika aku pergi ke rumahnya untuk pertama kalinya, aku secara khusus membelikan hadiah untuk ibunya.

Ketika aku datang ke rumahnya, ibunya sudah menyiapkan makanan lezat. Ayahnya telah meninggal, dan ibunya adalah satu-satunya di rumah. Kami banyak mengobrol selama makan, bisa dikatakan ibunya sangat menyukaiku. Kemudian, aku bergegas mencuci piring dan membersihkan rumah. Ibunya memujiku sebagai gadis yang baik.

Setelah itu, kami saling mengenal lebih dalam dan memutuskan untuk menikah. Di pesta pernikahan, ibu mertuaku secara pribadi memberi aku amplop merah 38.000 yuan (sekitar Rpp 86 juta ), mengatakan itu adalah hadiah mahar untuk saya. Tetapi, keluarga saya tidak memberikan mahar sama sekali dan Ibu mertuaku mengatakan bahwa itu tidak menjadi masalah.

Aku telah menikah dengan suamiku selama 10 tahun, putri kami berusia 9 tahun, dan keluarga kami hidup bahagia, tetapi sebuah kecelakaan mobil merenggut nyawa suamiku. Aku pun pulang ke rumah ibuku dengan putriku.

Setelah kembali ke rumah, dua adik laki-lakiku tampaknya tidak menyukaiku. Mereka selalu menggertak aku dan anak perempuanku. Untuk bertahan hidup, mencoba membuka usaha memperbaiki pakaian, tapi hasilnya tidak seberapa.

Baru-baru ini, angin musim gugur telah bertiup dan cuaca menjadi dingin. Putriku dan saya hanya mengenakan satu set pakaian tipis. Aku meminjam uang pada ibuku untuk membeli pakaian. Ibuku mengatakan bahwa dia tidak punya uang dan memberikan mentel katunnya.

Memikirkan kata-kata ibuku, aku hanya bisa diam. Bahkan jika aku mengenakan tiga mantel katun, aku masih kedinginan. Aku memposting ini di lingkaran teman-teman. Sore berikutnya ibu mertuaku datang ke rumahku dengan tas besar.

Kami belum berhubungan selama setengah tahun. Dia tiba-tiba datang ke rumahku. Aku bertanya apakah dia baik-baik saja.

Ibu mertuaku berkata: “Nak, ibu melihat apa yang kamu posting, hati ibu sakit. Pakaian ini ibu beli pagi tadi, cepat ambil !”

Aku terharu dan menyeka air mataku, aku memeluk ibu mertuaku, dia berkata: “Meskipun Ah Jun (suamiku) pergi, kamu masih menantuku, kamu adalah putriku mulai sekarang, tinggallah bersama ibu !”

Pakaian yang ibu mertua belikan dan permintaan tulus ibu mertuaku, membuat aku menangis. Setelah ibuku mendengarnya, dia tidak mengizinkan aku pergi. Dia mengatakan bahwa ibu mertuaku tidak punya anak lagi dan dia ingin aku tinggal dengannya agar dapat mendukungnya. Namun, mengingat sikap adik-adikku dan ibuku sebelumnya, aku merasa enggan untuk tinggal bersama mereka. Menurut Anda ibu mana yang harus aku dengarkan?(lidya/yn)

Sumber: goez1