Ibuku Menolong Pengemis Tua yang Kelaparan dan Saat Ibu Memberi Semangkuk Bubur, Pengemis Itu Menunjukkan Harta Karun Senilai Lebih dari 600 Juta

Erabaru.net. Itu adalah saat yang sangat sulit bagi keluarga kami musim panas itu. Ayah ditemukan sakit parah dan sangat membutuhkan uang untuk operasi.

Tapi dari mana mendapat uang sebanyak itu? Orangtuaku adalah petani biasa yang buta huruf dan tidak bisa mengumpulkan uang sama sekali.

Seluruh keluarga merasa tidak ada jalan keluar, dan ayahku berbaring di tempat tidur, mengerang kesakitan sepanjang hari.

Malam itu, seorang pengemis tua datang ke desa.

Pada saat itu dia sampai di pintuku, mungkin sangat lapar, pengemis itu bertanya kepada ibuku apakah bisa memberinya sesuatu untuk dimakan.

Karena pikiranku sedang kalut memikirkan ayahku yang sakit, jadi aku sedikit tidak senang dengan kedatangan pengemis tua itu, dan aku mengusirnya. “Ayo pergi, kami tidak punya apa-apa untuk kamu makan, cepat pergi!”

Tapi ibuku adalah orang yang baik, dia menarikku masuk rumah.

Ibuku berkata dengan lembut: “Kakek, keluarga kita juga miskin dan tidak punya apa-apa untuk dimakan. Kami hanya punya roti kukus, apakah kamu mau?”

Tentu saja, pengemis tua itu sangat berterima kasih dan berkata bahwa itu lebih baik daripada tidak makan.

Secara kebetulan, setelah makan, tiba-tiba hujan turun hujan dengan deras, dan lelaki tua itu bingung untuk sementara waktu.

Ketika ibuku melihat ini, dia mendiskusikannya dengan ayahnya, dan memutuskan agar pengemis itu menginap dan tidur di gudang kayu di rumah.

Pria tua itu terus membungkuk: “Terima kasih, keluarga yang baik!”

Pagi-pagi keesokan harinya, ibu saya memasak bubur untuk ayah, dan ada setengah mangkuk tersisa.

Melihatku yang serakah, ibuku akhirnya menggelengkan kepalanya dan berkata: “Masih ada tamu di rumah, jadi biarkan mereka makan.”

Kemudian ibuku membawa setengah mangkuk bubur ini ke pengemis tua itu

Pengemis itu tampaknya kelaparan, jadi dia langsung meminum seluruh manguku bubur.

Saat dia mengembalikan mangkuk itu kepada ibuku, tiba-tiba matanya berbinar.

Dia menunjuk ke mangkuk bubur dan bertanya: “Ibu, dari mana kamu mendapatkan mangkuk ini?”

Ibuku berkata: “Ini adalah mangkuk yang biasa untuk makan keluarga kami. Itu diturunkan dari nenek moyang keluarga kami. Saya tidak tahu sudah berapa tahun.”

Pria tua itu tampak serius dan mengatakan: “Mangkuk ini bukan barang biasa!”

“Meskipun saya seorang pengemis, saya telah berkeliling selama bertahun-tahun dan telah melihat banyak hal!”

“Lihat, ada enam karakter di dasar mangkuk ini – dibuat pada masa Pemerintahan Xuande dari Dinasti Ming.”

“Saya menyarankan Anda untuk menemukan seseorang ahli untuk melihatnya. Mungkin itu bernilai banyak uang.”

Setelah pengemis tua itu pergi, ibuku juga panik.

Setelah dengan hati-hati membungkus mangkuk itu, aku pergi ke kota untuk mencari ahli untuk menilainya, tetapi aku tercengang.

Ternyata ini benar-benar mangkuk kuno, yang diperkirakan para ahli bernilai ratusan juga.

Segera, ibuku menjual mangkuk itu dan terjual seharga 300.000 (sekitar Rp 665 juta) untuk pengobatan ayahku.

Setelah itu, ibuku ingin berterima kasih kepada pengemis tua, tetapi di mana kami bisa menemukannya?

Di tahun-tahun mendatang, ibuku sering berkata: “Nak, 300.000 itu diberikan oleh seorang pengemis tua.”

Tetapi aku tahu bahwa semua ini karena perbuatan baik ibuku.

Di dunia ini akan ada hukum karma, setiap perbuatan baik akan mendapat balasan kebaikan, dan juga sebaliknya.(lidya/yn)

Sumber: uos.news