Aku Menjual Rumah untuk Membeli Rumah Pernikahan Putraku, Setelah Suamiku Meninggal, Aku Ingin Tinggal di Rumah Putraku, Tetapi Menantuku Tidak Setuju

Erabaru.net. Semakin banyak pasangan muda yang enggan tinggal bersama orangtua, karena perbedaan generasi, mereka takut akan konflik setelah hidup lama, sehingga banyak menantu yang tidak mau tinggal bersama mertua dan itu berarti membeli rumah sendiri, tetapi sekarang harga rumah begitu tinggi, sangat sulit untuk membeli rumah.

Di mataku, putraku adalah anak yang sangat baik dan penurut. Dari kecil hingga dewasa, prestasi akademiknya sangat bagus. Dia diterima di universitas. Setelah lulus, dia tinggal di tempat lain untuk berkembang. Kemudian dia dipindahkan kembali ke kampung halamannya. Sekarang dia adalah direktur perusahaan cabang mereka.

Tiga tahun yang lalu, putraku memberi tahuku bahwa dia sudah memiliki pasangan dan mereka berencana untuk menikah pada akhir tahun. Meskipun aku dan suamiku sangat senang, aku mulai khawatir ketika putraku mengatakan bahwa mertuanya ingin dia membeli rumah di kota.

Saat itu, harga rumah di perkotaan ratusan juta, sedangkan kami keluarga biasa, berapa banyak uang yang bisa kami keluarkan untuk membeli rumah? Lagi pula, putraku baru bekerja kurang dari tiga tahun, bagaimana dia bisa membeli rumah di kota?

Jika putraku tidak bisa membeli rumah, pernikahannya mungkin akan tertunda atau tidak jadi, berpikir bahwa tidak mudah bagi putraku untuk menemukan pasangan, untuk memungkinkan putraku tetap menikah, aku dan suamiku menjual rumah yang kami tinggali, dan kemudian mengambil sebagian besar uang pensiun kami. Tidak butuh waktu lama bagi putra kami untuk menikah.

Karena rumah kami telah dijual, akhirnya kami menyewa rumah di pinggiran kota.

Setelah menikah, putra dan menantuku menjalani kehidupan yang nyaman, dan aku dan suamiku juga merasa nyaman. Setahun kemudian, menantu perempuanku melahirkan cucu laki-laki.

Aku menawarkan untuk merawat anak itu, tetapi menantu perempuanku mengatakan bahwa orangtuanya akan akan merawat anak itu.

Tiga tahun kemudian, suamiku meninggal tiba-tiba karena sakit parah. Sejak saat itu, aku hidup sendiri, dan tetangga melihat aku selalu sedih. Mereka sering mengobrol dan berjalan denganku.

Aku juga ingin menikmati kebahagiaan keluarga dan menemani cucuku, tetapi aku takut menantu perempuanku tidak menyukainya, jadi aku memendam keinginan itu sampai aku jatuh sakit, dan pemilik rumah tiba-tiba memberi tahu aku bahwa mereka akan mengambil kembali rumah itu dan tidak akan menyewakannya kepadaku lagi.

Ternyata pemilik rumah mendengar dari tetangga bahwa aku sedang sekarat. Dia khawatir bahwa aku akan meninggal di rumahnya suatu hari. Dengan kekhawatiran ini, pemilik lebih memilih memutuskan kontrak dan memberiku kompensasi sejumlah uang. Pemilik juga memberi aku waktu tiga hari untuk pindah, tetapi ke mana aku harus pergi?

Ali pergi ke rumah putraku hari itu, dan putraku menghiburku dan, dan membawaku ke restoran untuk makan besar. Awalnya, putraku menizinkan aku untuk tinggal, dan dia bahkan membelikan kau tempat tidur baru dan selimut, tetapi menantu perempuan tidak setuju. Saat dia kembali ke rumah, dia mengetahui bahwa aku akan tinggal di rumahnya, dan berteriak pada putraku: “Kamar itu untuk ibuku, tolong suruh ibumu pergi dengan cepat.”

Putraku menampar istrinya dan menyuruhnya keluar dari rumah.

Aku buru-buru meraih putraku, dan mengatakan padanya, jika kehadiranku membuat masalah mereka, aku lebih baik tidak datang.

Di malam hari, aku mengemasi barang-barangku dan berencana untuk pergi dengan tenang. Begitu aku membuka pintu, putraku menghalangi jalanku.

Ternyata putraku takut aku akan menyelinap pergi, jadi dia sengaja tidur di sofa. Putraku menangis dan berkata: “Bu, kamu telah banyak berkorban, dan ini akan menjadi rumahmu di masa depan.”

Meskipun aku tinggal, aku merasa tidak nyaman. Karena kedatanganku, menantu perempuanku pergi membawa cucuku kembali ke rumah orangtuanya. Jika putraku bercerai suatu hari, aku benar-benar berdosa.

Ibu telah bekerja keras sepanjang hidupnya untuk putranya. Untuk membeli rumah bagi putranya, dia menjual rumahnya sendiri dan menyewa rumah untuk tinggal. Ketika suaminya meninggal, pemiliknya memaksanya untuk pindah. Wanita tua itu tidak ada pilihan lagi selain pergi ke rumah putranya, tetapi ditolak oleh menantu perempuannya.

Saya pikir putra wanita tua itu adalah anak yang baik, dia bisa memahami kesulitan ibunya, dan dia bertekad untuk membiarkan ibunya tinggal bersamanya meskipun mendapat tekanan dari istrinya. (lidya/yn)

Sumber: uos.news