Suamiku Sakit Parah dan Mertuaku Meminta Aku untuk Menghentikan Pengobatan, Orangtuaku Menjual Rumah untuk Berobat Suamiku, Sekarang Suamiku Memutus Hubungan dengan Keluarganya

Erabaru.net. Setiap orang menjalani fase, yakni, kelahiran, tua, sakit dan kematian, yang juga merupakan hukum alam. Ketika seseorang sakit, dia akan berobat jika dia punya uang, tetapi jika dia tidak punya uang, dia hanya bisa memilih untuk menyerah. Tetapi beberapa penyakit, bahkan jika keluarga Anda kaya, tidak peduli berapa banyak uang yang Anda keluarkan, Anda akan berakhir tanpa uang.

Kami selalu mengatakan bahwa kami dapat melakukan sebanyak yang kami bisa. Ketika orang yang kita cintai sakit, kebanyakan orang akan melakukan segala cara untuk mengobatinya, tetapi kadang-kadang kita juga perlu mempertimbangkan keterjangkauan finansial kita. Bagaimana menurut Anda?

Apa yang harus Anda lakukan ketika suami Anda sakit parah dan keluarga mertua meminta Anda untuk menghentikan pengobatannya? Apakah Anda akan menuruti permintaan mertua Anda, atau apakah Anda akan melakukan yang terbaik untuk untuk merawat suami Anda? Meski harapannya sangat tipis.

Hari itu, suamiku pulang dari rumah sakit. Tidak lama setelah kami sampai di rumah, mertua dan iparku semua datang mengunjungi suamiku, tetapi suamiku mengusir mereka semua dan mengatakan bahwa dia tidak ingin melihat mereka lagi dalam hidupnya.

Di mataku, suamiku adalah orang yang sederhana dan jujur. Ketika dia berusia 16 tahun, dia pergi bekerja di kota dan bekerja di lokasi konstruksi lebih dari sepuluh tahun.

Mertuaku memihak pada adik suamiku. Mereka menjadikan suamiku sebagai mesin penghasil uang. Setiap kali keluarga membutuhkan uang, mereka akan meminta pada suamiku.

Kemudian, suamiku kembali ke kampung halamannya dan mencoba membuka kedai mie di pinggiran kota. Meskipun mendapatkan uang sangat sulit, itu jauh lebih baik daripada bekerja di lokasi konstruksi.

Saat itu, aku bekerja sebagai kasir di supermarket dekat kedai mie miliknya. Karena aku sering pergi ke kedai mienya, kami berkenalan satu sama lain. Selain itu, suamiku adalah saudaranya pacar sahabatku. Dengan semua ini, kami berdua segera mulai berkencan.

Ketika kedai mie-nya semakin ramai, dia meminta orangtuanya untuk membantu, tetapi ayahnya menolak, mereka mengatakan bahwa mereka akan mencari uang untuk mahar adik bungsunya.

Setelah dua tahun berpacaran, kami menikah. Mungkin mertuaku khawatir setelah suamiku menikah dia tidak akan memberikan tunjangan lagi padanya, mereka kemudian meminta pada suamiku 150.000 yuan, mengatakan bahwa itu sebagai tunjangan pensiunnya.

Saat itu, suamiku baru saja membeli rumah, dan dia tidak punya banyak tabungan, melihat suamiku tidak mau memberikannya, mertua pergi ke kedai mie setiap hari untuk membuat masalah. Ternyata uang itu untuk membeli rumah untuk adik iparku

Kemudian, adik iparku menikah, dan mertua memaksa suamiku untuk memberi 100.000 yuan untuk hadiah pertunangan, dan suamiku selalu menjadi anak yang sangat berbakti. Karena suamiku selalu berpikir bahwa itu tidak mudah bagi mertua dan tidak ingin menyakiti keluarga karena uang.

Dalam sekejap mata, lima tahun telah berlalu, dan putraku telah berusia dua tahun. Tiba-tiba suamiku sakit dan pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Saya baru tahu bahwa suami saya sakit parah.

Perawatan awal menghabiskan 150.000 yuan, tetapi tidak ada perkembangan. Pada saat ini, mertuaku membujukku untuk menghentikan pengobatan, dan juga meminta aku untuk menyerahkan kedai mie kepada adik iparku.

Aku bertengkar dengan mertuaku. Suamiku masih di ranjang rumah sakit, mertua sudah memikirkan untuk membagi harta suamiku.

Pada saat ini, orangtuaku dan adik laki-lakiku datang ke rumah, dan mereka mendorong aku untuk tidak menyerah. Untuk mengumpulkan uang untuk biaya berobat suamiku, orangtuaku menjual rumah pernikahan yang awalnya untuk rumah pernikahan adik laki-alkiku.

Setelah dua bulan perawatan yang cermat, suami saya berangsur-angsur membaik, dan sekarang dia keluar dari rumah sakit. Dia juga tahu apa yang telah dilakukan orangtuanya, dan dia sangat kecewa dengan mereka. Suamiku mengatakan bahwa dia tidak ingin mengenal lagi orangtuanya dan saudaranya.

Suamiku mengatakan, di masa depan, dia akan bekerja lebih keras untuk mendapatkan uang, membeli rumah untuk adikku lebih awal, dan membalas kebaikan keluargaku.

Ketika suami dan istri menikah, mereka harus berbagi suka dan duka dan tidak pernah pergi.(lidya/yn)

Sumber: uos.news