Adik Perempuanku Menikah dan Aku Memberi 180.000, Sekarang Adik Laki-lakiku Menikah dan Orangtuaku Minta Aku untuk Membelikannya Rumah, Aku Seperti Mesin ATM Keluarga

Erabaru.net. Aku ada seorang eksekutif perusahaan dengan gaji tahunan lebih dari 600 juta. Aku tampaknya hidup bahagia. Aku bepergian dengan mobil mewah dan memiliki rumah kecil sendiri di kota, tetapi keluargaku sangat menakutkan, mereka semua menjadikan aku sebagai ATM.

Aku berasal dari pedesaan. Orangtua adalah petani biasa, mereka mengandalkan dari hasil panen untuk membesarkan tiga anak, dan saya adalah putri tertua dalam keluarga, dan aku mempunyai satu adik perempuan, satu laki-laki.

Saat itu, keluargaku sangat miskin, orangtuaku meminta aku dan adik perempuanku untuk bekerja sebelum menyelesaikan sekolah menengah untuk mencari uang.

Saat itu, aku pergi ke Shenzhen sendirian, tanpa dukungan, dan bekerja di pabrik garmen. Sejak itu, aku menjalani kehidupan sebagai seorang gadis pekerja. Meskipun hidup ini sulit, aku memiliki harapan yang besar untuk masa depan. Aku bertekad untuk mengubah takdirku.

Setelah tinggal di Shenzhen selama sepuluh tahun, aku kembali ke kampung halaman, dan kebetulan perusahaan tekstil besar baru di bangun. Dan aku direkrut karena pengalamanku di industri tekstil sudah lama. Setelah bekerja selama lima tahun, aku dipromosikan dari administrator biasa menjadi manajer departemen, dengan gaji tahunan sebesar 300.000 (sekitar Rp 661 juta).

Aku telah memiliki kehidupan yang baik sekarang, dapat dikatakan bahwa itu semua karena usahaku sendiri. Aku sangat menghargai pencapaianku saat ini, jadi aku bekerja lebih keras dan tidak pernah kendor dalam pekerjaanku.

Saudara memuji kemampuanku, tetapi aku menjadi dilematis, karena, orangtua, adik perempuan dan adik laki-lakiku semua menganggapku sebagai ATM dan terus meminta uang kepada saya.

Orangtuaku memintaku untuk memberinya tunjangan 6,5 juta sebulan, mengatakan bahwa mereka telah bekerja keras sepanjang hidup mereka, mereka tidak ingin bertani lagi, dan mereka ingin pensiun dengan baik di tahun-tahun berikutnya.

Tentu saja, tuntutan mereka masuk akal, dan aku setuju. Tetapi mereka masih belum puas, dan mereka mencoba meminta uang kepada setiap hari, dan uang itu akan akan diberikan pada adik laki-lakiku

Dalam sekejap mata, adik perempuanku menikah. Keluarga suaminya dalam kondisi baik. Adikku tidak ingin diremehkan oleh keluarga suaminya , jadi dia meminta uang padaku 400 juta. Adikku mengatakan bahwa orangtua tidak punya, jadi minta padaku untuk mas kawin.

Di bawah tekanan orangtuaku, saya harus memberi adik perempuanku 400 juta sebagai mas kawin, tetapi adik perempuanku bahkan tidak mengucapkan terima kasih.

Kurang dari dua tahun kemudian, adik laki-lakiku berbicara tentang pasangan dan akan menikah. Aku tahu masalah akan datang lagi. Benar saja, adik laki-lakiku meminta uang untuk membeli rumah, dan orangtuaku datang ke rumah. Mereka memaksa aku untuk memberi adikku 1,5 miliar untuk membeli rumah secara tunai.

Meskipun aku dapat memperoleh 600 juta dalam setahun. Aku harus mengeluarkan lebih dari 20 juta dalam sebulan. Selain itu, keluargaku terus meminta uang kepadaku, jadi aku belum menabung banyak selama bertahun-tahun.

Orangtuaku tidak mengerti kesulitanku, di mata mereka aku punya banyak uang.

Jika aku tidak memberikannya kepada mereka, mereka akan tinggal di rumah dan tidak pergi.

Agar orangtuaku tidak terus mengganggu hidup dan pekerjaanku, aku akhirnya memberikan 1,5 miliar untuk membeli rumah bagi adikku

Aku dulu putus sekolah dan belajar agar adikku bisa belajar. Sekarang setelah aku memiliki karir yang sukses, aku terus bekerja untuk keluargaku. Bagaimana mereka bisa mengerti penderitaanku?

Melihat kedua adikku sudah menikah, tetapi aku tidak berani jatuh cinta, siapa yang mau menikah denganku? Keluargaku seperti jurang maut, dan tidak ada uang yang dapat mengisinya.

Aku lelah dan tidak tahu kapan aku akan jatuh. Mungkin saat itu, keluarga aku akan sedikit sedih. (lidya/yn)

Sumber: uos.news