Pertemuan Orangtua Murid! Guru Meminta Orangtua dari Murid dengan Rangking Terakhir untuk Berbicara, Kata-kata Orangtua Itu Membuat Guru Malu!

Erabaru.net. Sebagai orangtua, tentunya kita semua berharap agar anak-anak kita bisa mendapatkan nilai yang bagus dan menonjol di masa depan. Namun, dapatkah nilai benar-benar menentukan masa depan seorang anak? Ada beberapa siswa yang baik di kelas, dan akan selalu ada beberapa siswa yang nilainya tidak begitu ideal. Banyak orangtua dan guru hanya menggunakan nilai sebagai kriteria untuk menilai anak-anak mereka.

Ah Qing, dan suaminya menjalankan bisnis kecil bersama untuk menghidupi keluarga. Mereka sibuk setiap hari dan tidak terlalu memperhatikan prestasi akademik putranya Yanyan. Oleh karena itu, nilai putranya selalu berada di tingkat menengah, dan kadang-kadang berada di paling akhir saat ujian. Namun, Ah Qing selalu menekankan pada putranya untuk jujur dan tidak menyontek. Selama itu adalah nilai ujiannya sendiri, Ah Qing tidak akan menyalahkan putranya.

Akhir pekan ini, Ah Qing pergi ke pertemuan orangtua-guru putranya. Pada pertemuan itu, guru meminta orangtua untuk bergiliran berbicara di atas panggung sesuai dengan nilai ujian. Putra Ah Qing terakhir di kelas kali ini. Saat itu guru wali murid berkata: “Ibu Ah Qing orangtua yang terakhir, tolong maju ke depan untuk berbicara.”

Ah Qing tidak marah, dia berkata tanpa merendahkan atau sombong : “Nama anak saya Yanyan, bukan yang terakhir. Meskipun hasil tesnya kali ini tidak bagus, sebagai orangtua, saya tidak merasa malu, karena saya tahu anak itu mencoba yang terbaik. Pada akhirnya, saya pikir lebih baik tidak memanggil nomor terakhir, itu tidak terlalu hormat.”

Ucapan Ah Qing dengan kecerdasan emosional yang tinggi membuat sang guru merasa sangat tidak pantas melakukannya, dan meminta maaf kepada Ah Qing dengan wajah memerah.

Mengapa mengukur anak berdasarkan nilai?

  1. Menekan semangat belajar

Jika anak selalu dinilai dari nilai ujiannya, anak akan menganggap belajar dengan nilai tinggi sebagai tugas yang harus diselesaikan, daripada mempelajari pengetahuan baru secara spontan.

  1. Terlalu utilitarian

Anak-anak belum memiliki rasa kompetisi yang kuat, mentalitas yang sangat berguna untuk menggunakan nilai untuk mengukur apakah seorang anak sangat baik. Jika orangtua mendidik anak-anaknya dengan pemikiran seperti ini, akan sulit bagi anak-anak untuk melihat tindakan jangka panjang di masa depan.

  1. Tidak kondusif bagi perkembangan anak secara keseluruhan

Beberapa orangtua selalu meminta anak-anak mereka untuk menempati peringkat teratas di kelas, yang mengakibatkan anak-anak mereka memiliki sedikit minat dan kegiatan lain selain belajar, dan mereka tidak dapat mengikuti apa pun selain nilai.

Apa yang harus dilakukan orangtua ketika nilai anaknya tidak memuaskan?

  1. Dorongan adalah hal utama

Jika memarahi anak begitu dia gagal dalam ujian, anak akan membentuk pemikiran “belajar akan membuatnya dimarahi”, sehingga menolak belajar. Jika anak tidak bagus dalam ujian, orangtua berusaha mendidik anak dengan nada yang membesarkan hati, meningkatkan rasa percaya diri anak, dan membantu anak mengatasi kesulitan belajar.

  1. Bersikap positif dan sabar

Beberapa orangtua merasa tidak sabar ketika mereka mengajar anak-anak mereka bahwa tidak ada perbaikan dalam waktu singkat, berpikir bahwa anak mungkin berada pada tingkat ini, biarkan dia pergi. Padahal, kecepatan pemahaman anak terhadap pengetahuan berbeda-beda, untuk sebuah pertanyaan ada anak yang memahaminya setelah mendengarkannya dua kali, ada juga anak yang harus mendengarkannya lima kali. Orangtua mengajar anak-anak mereka bahwa mereka harus lebih sabar dan memberi anak-anak mereka waktu yang cukup.

Kehidupan seorang anak tidak hanya tentang ujian dan studi, tetapi masih banyak hal yang belum diketahui yang menunggu untuk dijelajahi oleh anak. Para orangtua, jangan jadikan anak Anda “mesin” yang hanya bisa mengerjakan ujian, dan berikan hobi pada anak Anda.(lidya/yn)

Sumber: coolsaid.com