Ayahku Mengusir Ibu dan Aku dari Rumah, Sekarang Dia Sakit Parah dan Menghubungi Kami Lagi

Erabaru.net. Ketika aku masih kecil, hidupku sangat bahagia, karena ayahku memiliki sebuah pabrik kecil. Saat itu, kondisi ekonomi keluargaku dianggap paling baik di desa. Saat itu, pakaian yang aku kenakan adalah yang terbaru, dan banyak jajanan yang aku makan belum pernah dimakan oleh anak-anak di sekitarku.

Kehidupan bahagiaku tiba-tiba berakhir ketika aku berusia sepuluh tahun, karena ayahku jatuh cinta dengan pegawai yang baru saja dipekerjakan oleh pabrik. Pegawai itu tinggi dan memiliki wajah yang cantik, terutama mata yang menawan dan menggoda.

Saat pertama kali pegawai itu masuk, bibiku sudah mengingatkan ibu setelah melihatnya: “Pegawai yang baru datang ini sepertinya tidak beres, kamu harus hati-hati.” Tapai ibu memilih untuk tetap mempercayai ayah.

Setahun kemudian, ayahku menceraikan ibu untuk menikahi wanita itu. Sebelum mengajukan cerai, ayah saya mengutak-atik akun pabrik, sehingga ibu tidak mendapatkan kompensasi apa pun.

Hari-hari pertama benar-benar gelap. Ibuku membawa aku pergi dan menyewa ruma kecil untuk tempat tinggal.

Karena perceraian orangtuaku, kondisi hidupku juga menjadi sulit. Tidak ada baju baru dan jajanan mewah. Untuk bertahan hidup, ibuku bekerja serabutan. Belakangan, aku juga terbiasa dengan kehidupan yang sulit ini.

Ketika aku berusia empat belas tahun, kaki ibuku patah dalam kecelakaan mobil, dan pengemudi melarikan diri. Untuk mengobati kaki ibu kami meminjam banyak uang dari saudara.

Pada saat ini, aku aku harus membayar biaya sekolah dan buku lagi. Tidak mungkin aku untuk meminta pada ibuku. Karena sudah tidak ada jalan lain, aku mengendarai sepeda ke rumah ayahku. Saat ayahku membuka pintu, dia jelas terkejut, dia mungkin tidak menyangka aku akan datang

“Apa yang kamu lakukan di sini?” Dia tidak membiarkanku masuk.

“Aku perlu biaya sekolah, dan ibuku di rumah sakit,” kataku.

Pada saat ini, istri muda ayahku muncul dan berkga: “Apakah kamu di sini meminta uang?” Aku mengabaikannya dan hanya menatap ayahku dalam diam.

Ekspresi wajah ayahku sangat malu, dia kemudian memberiku 5 juta, dan di barkata: “Untuk selanjutnya kamu jangan datang lagi untuk meminta uang padaku!”

Dalam perjalanan pulang, aku menangis sedih. Pada saat itu, aku membuat keputusan, jika ada kesulitan di masa depan, aku lebih baik pergi untuk menjual darah, aku tidak akan pergi ke rumah ayahku lagi.

Untungnya, meskipun hidupku sangat sulit, ibuku tidak pernah membiarkan aku untuk meninggalkan studiku dan selalu mengajari aku bahwa hanya dengan belajar yang dapat mengubah nasibku kelak. Dan hari ini, aku selalu bersyukur pada diri sendiri atas kerja kerasku.

Selama ujian masuk perguruan tinggi, aku diterima di universitas kedokteran provinsi. Setelah lulus, saya ditugaskan ke Rumah Sakit Rakyat Kota. Setelah kerja kerasku yang terus-menerus, aku sekarang menjadi wakil kepala dokter dan pemimpin departemen di rumah sakit.

Adapun ayahku, aku kehilangan kontak dengannya pada sore musim panas itu, hanya untuk mendengar kabar darinya secara sporadis. Dia dan akuntan cantik itu melahirkan sepasang putra kembar. Pabriknya ditutup karena manajemen yang buruk.

Sampai beberapa hari yang lalu, aku tiba-tiba menerima nomor telepon yang tidak aku kenal. Sebuah suara tua di ujung telepon mengatakan kepadaku bahwa dia adalah ayahku. Di telepon, dia menyesali apa yang telah dia lakukan saat itu. Aku mengatakan kepadanya : “Anda tidak perlu berbicara dengan saya tentang hal ini lagi, semua masa lalu telah berlalu dan kita tidak ada hubungannya lagi.”

Kemudian dia berkata: “Kamu tahu bahwa pabrik telah tutup selama bertahun-tahun. Awalnya, ayah memang memiliki beberapa tabungan, tetapi kedua adik laki-lakimu (aku terkejut dia benar-benar mengucapkan kata ‘adikku’ ) bukan anak-anak yang baik. Selama bertahun-tahun, mereka telah menghabiskan uang karena judi, dan mereka harus membayar kompensasi pada orang karena mereka telah berkelahi. Uang keluarga hampir habis, tetapi kedua anak ini masih terus membuat masalah.”

“Beberapa hari yang lalu ayah merasa tidak enak badan, ketika ayah pergi rumah sakit, dokter mengatakan kepada ayah bahwa ayah menderita kanker kerongkongan, tetapi dokter mengatakan bahwa jika segera diobati ini masih bisa tertolong. Namun uang telah dihabiskan oleh adik laki-lakimu. Aku perlu bantuanmu, bagaimanapun juga, aku masih ayahmu.”

“Apakah Anda masih berpikir aku adalah putrimu ketika aku datang kepadamu di musim panas untuk minta biaya sekolah?” Saya bertanya.

Dia terdiam lama di ujung telepon. Situasi ayah sangat sulit sekarang, tetapi apakah aku harus membantu jika ingat yang dia lakukan kepada aku dan ibuku selama ini? Sangat sulit bagiku untuk memikirkan masalah ini! (lidya/yn)

Sumber: uos.news