Di Bawah Tekanan Sanksi, Rusia Mulai Membongkar Sendiri Pesawat Jet

Sebuah pesawat jenis Airbus A321 milik maskapai penerbangan Rusia Aeroflot sedang diparkir di landasan bandara Jenewa pada 25 Maret 2022. (Fabrice Coffrini/AFP/Getty Images

oleh Chen Ting

Di bawah tekanan sanksi Barat, beberapa maskapai penerbangan Rusia mulai menghentikan penerbangannya dan membongkar sendiri beberapa pesawat jet untuk memastikan bahwa mereka bisa mendapatkan suku cadang buatan luar negeri.

Kantor berita Reuters yang mengutip informasi dari 4 orang sumber terpercaya melaporkan (link :https://www.reuters.com/business/aerospace-defense/exclusive-russia-starts-stripping-jetliners-parts-sanctions-bite-2022-08-08/), bahwa termasuk Aeroflot yang dikelola negara telah mulai membongkar beberapa pesawat jet milik mereka.

Seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan, setidaknya satu pesawat Sukhoi Superjet-100 (SSJ-100) buatan Rusia dan sebuah Airbus A350 yang keduanya dioperasikan oleh Aeroflot, saat ini sudah menghentikan penerbangan dan sedang dibongkar. 

Sumber itu mengatakan pesawat Airbus A350 yang dibongkar itu nyaris baru.

Reuters mencatat bahwa sebagian besar armada Rusia terdiri dari pesawat Barat. Kementerian transportasi Rusia dan perusahaan penerbangan Aeroflot tidak menanggapi permintaan komentar.

Bahkan, pesawat superjet Sukhoi rakitan Rusia juga sangat bergantung pada komponen yang diimpor dari luar negeri. Rusia telah melepas mesin dari superjet untuk memungkinkan jet penumpang lain terus melayani penerbangan, kata sumber itu. 

Seorang sumber di industri penerbangan Barat mengatakan bahwa pembongkaran pesawat Rusia hanya masalah waktu saja.

Sumber tersebut mengatakan, bahkan bagi Rusia yang industrinya sudah maju, menjaga agar pesawat jet modern mereka dapat tetap beroperasi dalam waktu satu tahun sejak sanksi mulai berlaku akan menjadi tantangan bagi mereka.

Reuters menyebutkan bahwa hingga akhir tahun lalu, hampir 80% armada Aeroflot terdiri dari pesawat Boeing dan Airbus. Secara umum, Rusia memiliki 134 buah pesawat buatan Boeing dan 146 buatan Airbus, dan hampir 80 buah merupakan pesawat buatan Sukhoi (SSJ-100).

Sekitar 50 buah pesawat Aeroflot belum lepas landas sejak akhir Juli tahun ini. Demikian menurut penghitungan Reuters.

Rusia juga berjuang untuk mendapatkan pasokan komponen dari negara lain karena perusahaan di Asia dan Timur Tengah juga khawatir bahwa pemerintah Barat akan menjatuhkan sanksi sekunder kepada mereka, kata sumber tersebut.

“Setiap suku cadang memiliki nomor registrasinya sendiri”. Sumber tersebut percaya bahwa tidak seorang pun, apakah itu dari daratan Tiongkok atau Dubai yang akan setuju untuk memasok ke Rusia, karena semua suku cadang harus diberitahukan kepada Boeing dan Airbus sebelum dipasok ke pengguna akhir. (sin)