Petani Tiongkok Berjuang Menyelamatkan Tanaman Saat Gelombang Panas dan Kekeringan Berlanjut

Petani lokal Chen Xiaohua, 68, menunjukkan tanaman ubi jalarnya yang mati setelah semua tanamannya musnah saat wilayah tersebut mengalami kekeringan di desa Fuyuan di Chongqing, Tiongkok, pada 19 Agustus 2022. (Thomas Peter/Reuters)

Reuters

Saat pedesaan dilanda kekeringan, tanaman di sepanjang lembah sungai Yangtze  menjadi layu di bawah gelombang panas yang  berlangsung lebih dari dua bulan, petani veteran Chen Xiaohua mengingat kekeringan parah terakhir yang melanda tanamannya lebih dari 60 tahun  lalu.

“Tahun ini lebih kering dari tahun 1960, Suhunya lebih tinggi, ” kata Chen, 68, dari sebidang tanahnya di desa Fuyuan di pinggiran pedesaan yang kasar di wilayah Chongqing di barat daya Tiongkok. 

Lahan kecil Chen, yang terletak di dekat sungai Yangtze dan anak sungainya, Longxi, biasanya mengandalkan air tawar dari aliran gunung, tetapi tidak berkurang sama sekali dalam beberapa hari terakhir, mengeringkan tanaman utamanya, termasuk ubi jalar.

“Dulu, saat ini, Agustus, daun ubi jalar tumbuh sangat lebat, dari Agustus hingga September, ubi jalar akan mekar, ” kata Chen, mengenakan topi bertepi lebar untuk melindungi dirinya dari terik matahari.

Sebanyak 66 sungai di 34 kabupaten di Chongqing telah mengering, kata penyiar CCTV pada Jumat ketika data layanan cuaca menunjukkan sebuah distrik di wilayah tersebut menjadi yang terpanas di negara itu, mencapai 45 derajat Celcius.

Curah hujan di Chongqing tahun ini turun 60 persen dibandingkan dengan norma musiman, dan lahan pertanian di beberapa distrik sangat kekurangan kelembaban, kata CCTV, mengutip data dari pihak berwenang setempat. Pemerintah setempat juga mengatakan tanaman di 10 distrik sangat menderita.

Menurut data kementerian darurat pada Kamis, 18 Agustus suhu tinggi pada Juli saja menyebabkan kerugian ekonomi langsung sebesar 2,73 miliar yuan ($400 juta), mempengaruhi 5,5 juta orang dan 457.500 hektar  lahan.

Kementerian Sumber Daya Air memperingatkan pada  Rabu 17 Agustus, bahwa kelembaban tanah telah memburuk secara serius di Chongqing, tetangga Sichuan, dan beberapa provinsi lain di sepanjang bagian tengah Sungai Yangtze.

Provinsi tengah Anhui, yang juga bergantung pada Yangtze untuk pasokan air, memperingatkan pada minggu ini bahwa tanah yang terlalu kering mempengaruhi 88.000 hektar  gandum musim gugur, menurut CCTV.

Dengan irigasi dari pegunungan yang sekarang mengering, petani Chen mengatakan bahwa dia tidak punya pilihan selain membawa ember dari kolam terdekat setiap pagi untuk mencoba menyelamatkan tanamannya. Meskipun daun dan batangnya terus mati. (asr)