Otoritas Tiongkok Disebut Terlibat Kerja Sama dengan Kartel Narkoba untuk Mengekspor Fentanyl ke Amerika Serikat

Sekantong berisi berbagai macam pil dan obat resep yang diserahkan untuk dibuang ditampilkan selama Hari Pengambilan Obat Resep Nasional ke-20 oleh Drug Enforcement Administration (DEA) di Watts Healthcare di Los Angeles, California, pada 24 April 2021. (Patrick T. Fallon / AFP via Getty Images)

oleh Shi Jin

Seorang mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS pada Senin (22/8) mengungkapkan bahwa Kementerian Keamanan Negara Tiongkok dan Departemen Kerja Front Bersatu Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok (United Front Work Department) terlibat dalam operasi pengiriman fentanyl ke Amerika Serikat. Bahkan mereka juga berpartisipasi dalam pembuatan fentanyl.

Ketika mantan pejabat Kementerian Luar Negeri AS David Asher muncul di podcast pembawa acara “News Nation” Leland Vittert pada Senin (22/8), ia mengungkapkan bahwa otoritas Tiongkok telah bekerja sama dengan kartel narkoba Meksiko untuk mengirimkan fentanil ke Amerika Serikat. 

Pihak-pihak dari Tiongkok yang terlibat adalah Kementerian Keamanan Negara Tiongkok dan Departemen Kerja Front Bersatu Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok (United Front Work Department). Mereka ini tidak hanya mengatur pengiriman fentanil ke Meksiko, tetapi juga berpartisipasi dalam pembuatan fentanil sampai batas tertentu, dengan tujuan membunuh generasi muda Amerika Serikat.

Fentanyl adalah opioid sintetik yang 100 kali lebih mematikan daripada morfin. Pakar kesehatan masyarakat mengatakan bahwa menelan 2 miligram fentanil saja bisa berakibat fatal. 

Data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menunjukkan, lebih dari 100.000 orang Amerika Serikat meninggal dunia karena overdosis opioid tahun lalu, dan lebih dari 80% di antaranya terkait langsung dengan fentanyl. Sedangkan opioid palsu yang diproduksi oleh kartel narkoba Meksiko memiliki risiko lebih tinggi.

Direktur Drug Enforcement Administration (DEA) Anne Milgram pada awal bulan ini telah memperingatkan bahwa fentanil adalah obat paling mematikan yang dihadapi negara itu. Selama 10 bulan terakhir, lebih dari 10.000 pon fentanyl telah disita oleh pihak berwenang Amerika Serikat. (sin)