Putrinya Selalu Mengompol Setiap Pulang ke Rumah Mertuanya, Setelah Melihat Kamera Pengawas, Dia Segera Menelepon Polisi

Erabaru.net. Aku bertemu dengan suamiku ketika aku masih kuliah. Dia bekerja keras dan merupakan siswa paling potensial di mata guru. Saat itu, saya termotivasi, jadi saya sering mengikutinya ke perpustakaan untuk belajar bersama.

Kemudian, atas dorongan teman-teman sekelas kami, kami menjalin hubungan. Selama kuliah, kami tidak hanya saling mengawasi dalam belajar, tetapi juga saling membantu dalam kehidupan. Pada saat kelulusan, hubungan telah sangat stabil.

Tidak butuh waktu lama bagi kami untuk menemukan pekerjaan yang kami inginkan. Pada saat ini, kedua orangtua kami mulai mendesak kami untuk segera menikah. Tiga bulan kemudian, kami secara resmi memasuki istana pernikahan dan membuka babak baru dalam hidup kami.

Setelah menikah, kami tinggal di rumah sewaan yang murah di kota, meskipun hidup kami sedikit ketat, kami penuh harapan untuk masa depan. Belum lama kami menikah mertuaku mendesak kami untuk segera memiliki anak, dan bahkan membeli segala macam obat untuk mendorong kami cepat hamil. Pada akhirnya, saya tidak punya pilihan selain menuruti permintaan mertua.

Setelah 9 bulan kehamilan, aku melahirkan anak perempuan. Awalnya aku berpikir bahwa dengan kelahiran putriku kami akan dapat menjalani kehidupan yang bahagia dan memuaskan di masa depan, tetapi aku tidak berharap mertuaku mendorong kami untuk memiliki anak kedua dan itu laki-laki, dan mengatakan bahwa hanya anak laki-laki yang akan bisa melanjutkan generasi keluarganya.

Kata-kata mereka membuat aku merasa sangat tidak nyaman. Untuk memastikan putriku dapat tumbuh dengan sehat dan bahagia, aku menolak permintaan mereka untuk memiliki anak kedua. Mertua kehilangan banyak kesabaran karena ini, dan kembali ke pedesaan.

Selama bertahun-tahun, kami akan mengunjungi mertua di akhir pekan di akhir pekan. Tetapi setiap kali kami kembali ke rumah mertua, putriku mengompol. Aku menjadi curiga, dan setelah aku melihat kamera pengawas, aku menelepon polisi.

Ternyata, ketika putriku ingin pergi ke toilet di rumah, anjing serigala besar yang dibesarkan oleh ayah mertua akan selalu bergegas keluar untuk menggonggong padanya, membuatnya takut. Melihat adegan ini, aku langsung menelepon polisi dan meminta polisi untuk membawa anjing itu pergi.

Aku telah memberi tahu suamiku beberapa kali sebelumnya agar ayah mertua menjual anjing besar itu, tetapi dia tidak mau mendengarkan.

Tapi sekarang anjing itu telah dibawa pergi, dan aku menjadi sasaran kemarahan suami dan ayah mertua.(lidya/yn)

Sumber: uos