Anak Laki-laki Mendukung Ibunya Selama 12 Tahun, Tetapi Sang Ibu Memberikan 21 Miliar Ganti Rugi Propertinya pada Putrinya

Erabaru.net. Bibi Li berusia 61 tahun. Suaminya telah meninggal 12 tahun yang lalu karena sakit. Dia memiliki seorang putra dan seorang putri. Putra menjalankan perusahaannya sendiri dan putrinya menikah jauh darinya.

Putranya khawatir Bibi Li akan kesepian tinggal sendirian, jadi dia membawanya ke kota untuk tinggal bersamanya. Meskipun putra dan menantunya sangat sibuk dengan pekerjaan, mereka akan membawa Bibi Li jalan-jalan ketika mereka bebas, dan menantu perempuan sering mengirim hadiah kepada Bibi Li.

Untuk mengisi hari-harinya di rumah, Bibi mencoba bekerja paruh waktu.

Berpikir, pernikahan putrinya tidak terlalu baik, dan dia tinggal dengan suami dan seorang anaknya di sebuah rumah kecil kurang dari 50 meter persegi. Bibi Li diam-diam menggunakan uang dari gajinya untuk mensubsidi putrinya.

Dalam sekejap mata, lebih dari sepuluh tahun telah berlalu, dan perusahaan putranya telah tumbuh lebih besar. Putranya tidak hanya memiliki rumah yang besar, tapi juga membeli mobil baru. Namun, putrinya menjadi semakin miskin dan sering menelepon Bibi Li untuk meminta uang.

Beberapa waktu lalu, ketika rumah tua keluarga itu dihancurkan, Bibi Li mendapatkan kompensasi pembongkaran rumahnya 10 juta yuan (sekitar Rp 21 miliar), Bibi Li awalnya ingin memberikan 4 juta yuan untuk masing-masing anaknya, dan kemudian 2 juta yuan untuk dia simpan sendiri.

Tanpa diduga, setelah putrinya mengetahui, dia memintanya untuk memberikan semuanya kepadanya, mengatakan bahwa keluarga saudara laki-lakinya tidak kekurangan uang. Bibi Li merasa bahwa apa yang dikatakan putrinya sangat masuk akal, jadi dia mentransfer semua uang itu kepada putrinya.

Sangat disayangkan bahwa tidak bangkai yang tidak akan tercium, masalah ini akhirnya diketahui oleh putranya, dan putranya berkata dengan marah: “Kakak tidak merawatmu selama ini — kami berdua telah melayanimu dengan sepenuh hati kami, tetapi ibu sangat bias.Ibu lebih mencintai kakak, maka ibu dapat tinggal bersamanya, dan jangan tinggal bersama kami lagi.”

Putranya meminta Bibi Li untuk meninggalkan rumahnya. Dengan putus asa, Bibi Li menelepon putrinya, berharap putrinya bisa menerimanya.

Tanpa diduga, putrinya belum membeli rumah, jadi Bibi Li haru menunggu, lalu menutup telepon setelah dia selesai berbicara.

Bibi Li sudah tidak punya rumah, dan kedua anaknya mengabaikannya.

Apakah menurut Anda pantas bagi putrinya untuk melakukan ini? (lidya/yn)

Sumber: voosweet