Sistem “Nol Kasus’ Menutup Pasar Elektronik Terbesar di Dunia, Wadah Pemikir Menilai Memisahkan Diri dari Global

Pekerja merakit komponen elektronik di pabrik raksasa teknologi Taiwan Foxconn di Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong, Tiongkok, pada 26 Mei 2010. (AFP/AFP/Getty Images)

Yu Ting – NTD

Pada Senin 30 Agustus, otoritas Tiongkok menutup pasar elektronik terbesar di dunia di Shenzhen dan beberapa komunitas dikunci.

Seorang Penduduk Shenzhen berkata: “Ini benar-benar merepotkan. Saya harus melakukan asam nukleat setiap hari, atau saya sedang dalam perjalanan untuk melakukan tes  asam nukleat.”

“Shenzhen” adalah sebuah kota elektronik besar di Tiongkok dengan penduduk hampir 18 juta jiwa. Pengujian asam nukleat di daerah setempat telah menjadi hal biasa, jika tidak maka akan sulit bagi orang untuk bepergian. 

Pada Senin (29/8), pihak berwenang mengabarkan bahwa hingga siang hari terdapat 9 kasus infeksi baru. Data sebenarnya belum diketahui, namun demikian lockdown yang diterapkan pemerintah terus meningkat.

 Otoritas akhirnya menutup pasar elektronik terbesar di dunia, Huaqiangbei, hingga 2 September. Industri teknologi tinggi lokal menyumbang 20 persen dari PDB Shenzhen.

Penduduk Shenzhen berkata: “Beberapa tahun terakhir, semua orang telah berada di Shenzhen dan uang belum dihasilkan, gaji telah dikurangi, banyak di PHK , banyak perusahaan telah ditutup, dan anak-anak sudah tidak bisa sekolah. Saya tidak tahu apa yang terjadi di Shenzhen sekarang.”

Penduduk Shenzhen juga berkata: “Bagian depan toko di sepanjang jalan diblokir, dalam semalaman.”

Selain itu, pihak berwenang memberlakukan penguncian di Distrik Futian dan Distrik Luohu, penduduk tidak diizinkan keluar kecuali diperlukan.  Semua tempat tertutup dalam ruangan ditangguhkan dan 24 stasiun kereta bawah tanah juga ditangguhkan.

Pak Yang, warga Distrik Bao’an, Shenzhen berkata :  “Saya tidak bisa keluar, saya tidak bisa membeli sayuran. Setiap komunitas ditutup, dikatakan hanya 3 hari, setelah 3 hari diperpanjang lag, dan setelah diperpanjang, diperpanjang lagi.”

Selain area yang baru ditutup, beberapa komunitas di Shenzhen belum mencabut penutupan. Menurut Reuters, “Wanxia Urban Village”, yang menyediakan akomodasi murah untuk ribuan pekerja berupah rendah, juga telah diblokir. Akan tetapi, tidak ada kasus positif COVID-19 yang terjadi serta yang dilaporkan di sana.

Pada saat yang sama, di Kabupaten Mianchi, Kota Sanmenxia, ​​Provinsi Henan, meskipun tidak ada kasus selama tujuh hari berturut-turut, “latihan statis global” diadakan selama tiga hari. Pihak pemerintah mengatakan karena ada ada 2 kota disekitarnya terdapat kasus positif COVID-19 karena kota mereka berada di tengah, jadi agak berbahaya  sehingga ditutup dan dikendalikan. Akibatnya mempengaruhi 310.000 penduduk lokal.

Lembaga pemikir independen Anbound Research Center, baru-baru ini merilis sebuah laporan yang menyatakan bahwa bahaya epidemi itu sendiri telah sangat berkurang dan kebijakan pencegahan dan pengendalian PKT perlu membayar biaya sosial yang tinggi, masalah ekonomi dan sosial serta dipisahkan dari pembangunan global. (hui)