Taiwan Tembak Jatuh Drone di Pulau Dekat Tiongkok

Tentara menembakkan howitzer 155mm selama latihan militer tahunan di Kabupaten Pingtung, Taiwan, pada 9 Agustus 2022. (Ann Wang/Reuters)

Andrew Thornebrooke

 Saat meningkatnya ketegangan dengan partai Komunis Tiongkok, militer Taiwan berhasil menembak jatuh drone yang terbang di atas salah satu pulaunya pada 1 September. 

Komando militer Taiwan sebagaimana yang dilaporkan kantor berita ABC menyebutkan bahwa Drone itu memasuki wilayah udara di atas Pulau Shi, mengabaikan beberapa suar dan tembakan peringatan. 

Insiden  terjadi hanya sehari setelah Taiwan menggunakan peluru tajam untuk memperingatkan drone Tiongkok dari rantai pulau yang sama hanya beberapa mil di lepas pantai daratan Tiongkok. 

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen mengatakan dia memerintahkan kementerian pertahanan untuk mengambil “tindakan pencegahan yang diperlukan dan kuat” untuk mempertahankan wilayah udara Taiwan setelah insiden itu.

Ia juga mengatakan, ingin memberitahukan kepada semua orang bahwa semakin banyak musuh memprovokasi, kita harus semakin tenang, kami tidak akan memprovokasi perselisihan,  kami akan menahan diri, tidak berarti bahwa kami tidak akan melawan. 

Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan bahwa drone yang ditembak jatuh pada 1 September dirancang untuk “penggunaan sipil”, tetapi tidak merinci lebih lanjut jenisnya atau peralatan apa pun yang mungkin dibawanya.

Partai Komunis Tiongkok (PKT), yang memerintah Tiongkok sebagai negara satu-partai, mengklaim bahwa Taiwan adalah provinsi nakal Tiongkok. Kepemimpinannya  bersumpah untuk menyatukan pulau itu dengan daratan dan  mengklaim  bersedia menggunakan kekuatan militer untuk melakukannya.

Meski demikian, Taiwan telah memerintah sendiri sejak 1949 dan tidak pernah dikendalikan oleh PKT. Selain itu, pemerintahannya yang demokratis dan ekonomi pasar yang berkembang menjadikannya mitra dagang penting dengan banyak negara, termasuk Amerika Serikat.

Ketegangan antara PKT dan pemerintah Taiwan yang terpilih secara demokratis telah terjadi sejak awal Agustus, ketika Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi Taipei. Pejabat PKT mengklaim bahwa kunjungan itu merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan yang seharusnya atas Taiwan, meskipun tidak biasa bagi delegasi AS untuk mengunjungi pulau formosa.

Pasukan PKT kemudian menggelar latihan gabungan terbesar mereka di kawasan itu sebagai tanggapan. Bahkan menembakkan rudal hipersonik langsung ke Taiwan, yang kemudian mendarat di perairan zona ekonomi eksklusif Jepang. Pasukan PKT juga mengepung dan membloka pulau itu sambil secara bersamaan meluncurkan serangkaian serangan siber terhadap infrastruktur Taiwan.

Menteri luar negeri Taiwan mengatakan manuver PKT adalah persiapan untuk invasi. Sejak itu, PKT dan Taiwan  terlibat dalam serangkaian duel latihan militer.

Demikian pula, kepemimpinan AS mengklaim bahwa rezim komunis berusaha untuk secara sepihak mengubah status quo atas Taiwan dan menggunakan kunjungan Pelosi sebagai dalih untuk meluncurkan kampanye intimidasi militer yang telah direncanakan sebelumnya.

 Koordinator Komunikasi Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby mengatakan, tidak ada alasan untuk krisis buatan itu ada, tindakan provokatif Beijing adalah eskalasi signifikan dalam upaya lama untuk mengubah status quo.

Gedung Putih juga menyatakan bahwa PKT telah “bereaksi berlebihan” dengan agresinya yang “mengganggu stabilitas” terhadap Taiwan. (asr)