Jepang Berencana Kembangkan Rudal Jarak Jauh untuk Melawan Tiongkok dan Rusia

Seorang pengunjung melihat model rudal serangan gabungan Kongsberg selama pertunjukan udara Japan Aerospace 2016 di Tokyo pada 12 Oktober 2016. (Kim Kyung-Hoon/Reuters)

Reuters via The Epoch Times

Jepang akan mengembangkan dan memproduksi secara massal rudal jelajah dan rudal balistik berkecepatan tinggi. Hal demikian terungkap pada Rabu 31 Agustus dengan tujuan memenuhi  kekuatan militer yang mampu menyerang target yang lebih jauh untuk menghadapi ancaman dari Tiongkok dan Rusia.

Rencana pengadaan rudal diungkapkan dalam permintaan anggaran tahunan Kementerian Pertahanan Jepang, yang mana melampaui batas cakupan militer selama beberapa dekade. Selama ini pasukan Bela Diri Jepang  dibatasi secara konstitusional, yang berarti militer hanya dapat menembakkan rudal dengan jangkauan beberapa ratus kilometer.

“Tiongkok terus mengancam akan menggunakan kekuatan untuk mengubah status quo secara sepihak dan memperdalam aliansinya dengan Rusia,” kata kementerian itu dalam permintaan anggarannya.

“Ini juga memberikan tekanan di sekitar Taiwan dengan latihan militer yang seharusnya dan tidak meninggalkan penggunaan kekuatan militer sebagai cara untuk menyatukan Taiwan dengan seluruh Tiongkok,” katanya.

Kekhawatiran tentang ambisi regional rezim Tiongkok tumbuh pada Agustus setelah menembakkan lima rudal balistik ke perairan kurang dari 160 kilometer  dari Jepang dalam unjuk kekuatan setelah Ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi Taiwan.

Kementerian Jepang juga menyebut Korea Utara sebagai ancaman bagi Jepang.

Permintaan anggaran adalah pendanaan untuk memproduksi massal rudal jelajah yang diluncurkan dari  darat.  Versi jarak jauh dari rudal Tipe 12 dirancang Mitsubishi Heavy Industries yang sudah digunakan untuk menyerang kapal dan rudal balistik meluncur berkecepatan tinggi yang mampu menghantam target.

Kementerian juga mencari anggaran untuk mengembangkan proyektil lainnya termasuk hulu ledak hipersonik.

Kementerian tidak memberikan kisaran senjata yang diusulkan atau berapa banyak yang direncanakan untuk dikerahkan. Akan tetapi,  kemungkinan akan dapat mencapai target di daratan Tiongkok jika dikerahkan di sepanjang rantai pulau Okinawa barat daya terdekat Jepang.

Jepang telah memesan rudal yang diluncurkan dari udara, termasuk Joint Strike Missile (JSM) buatan Kongsberg Norwegia dan Joint Air-to-Surface Stand-Off Missile (JASSM) Lockheed Martin Corp dengan jangkauan hingga 1.000 km. 

Tidak seperti peluncur kapal atau darat, bagaimanapun, jumlah yang dapat ditembakkan dibatasi oleh berapa banyak pesawat yang dapat ditempatkan di udara untuk menembakkannya.

Kementerian meminta kenaikan 3,6 persen dalam pengeluaran menjadi 5,6 triliun yen atau $ 39,78 miliar untuk setahun yang dimulai pada 1 April, tetapi anggaran akan meningkat setelah memperhitungkan biaya program pengadaan baru.

Pemerintah Perdana Menteri Fumio Kishida akan menyetujui permintaan yang meningkat pada akhir tahun, ketika  mengungkap perombakan strategi pertahanan besar dan rencana pembangunan militer jangka menengah baru.

Kishida, yang menggambarkan keamanan di Asia Timur sebagai “rapuh” setelah invasi Rusia ke Ukraina, berjanji untuk “secara substansial” meningkatkan pengeluaran pertahanan untuk mempersiapkan Jepang menghadapi konflik regional.

Partai Demokrat Liberal yang berkuasa dalam manifesto pemilihan majelis tinggi pada Juli, berjanji untuk menggandakan pengeluaran pertahanan menjadi 2 persen dari produk domestik bruto selama lima tahun.

Anggaran yang dikeluarkan akan menjadikan Jepang sebagai pembelanja militer terbesar ketiga di dunia di belakang sekutu utama Amerika Serikat dan negara tetangga Tiongkok.

Selain meningkatkan persediaan rudal dan amunisi lainnya, militer Jepang ingin mengembangkan pertahanan siber, kemampuan perang elektromagnetik dan kehadiran di luar angkasa. (asr)