Suatu Hari, Putri yang Pemberontak Itu Dibawa oleh Ayahnya untuk Minum Sampai Mabuk, Keesokan Harinya Dia Bangun dan Ibunya Memberinya Surat, Dia pun Tersadar

Erabaru.net. Tidak mudah bagi orangtua untuk mengakui bahwa anak-anak mereka telah dewasa. Ketika anak-anak melakukan beberapa hal berbahaya ketika mereka masih kecil, orangtua dapat langsung meminta mereka untuk tidak melakukannya, tetapi ketika anak-anak tumbuh dewasa, bagaimana berkomunikasi secara efektif menjadi masalah besar.

Gadis Jepang berikut bernama Reiko, dia sedikit memberontak ketika dia tumbuh dewasa, ayahnya tidak melarangnya keluar, dia juga tidak mendisiplinkannya dengan tindakan keras.

Sebagai gantinya, dia mengajaknya keluar untuk minum, dan alasan terakhir sangat menyentuh…

Reiko sudah cukup umur untuk minum, dia memberontak pada saat itu, dan kadang-kadang bermain dengan beberapa “anak nakal”, tapi dia tidak pernah mendapat masalah. Namaun, orangtuanya sangat khawatir dan tidak tahu bagaimana berkomunikasi dengannya karena mereka tahu bahwa apa pun yang terjadi, Reiko akan melakukan apa yang dia suka.

Suatu hari, ayahnya tiba-tiba mengajak Reiko keluar untuk minum. Awalnya dia enggan untuk pergi, tapi kemudian dia setuju.

Ayah berkata padanya: “Minumlah sebanyak yang kamu bisa, Reiko, sampai kamu tidak bisa. Jangan khawatir, ayah akan mengantarmu pulang dengan selamat, jadi kamu bisa yakin untuk minum sesukamu.”

Setelah mendengar apa yang ayahnya katakan, Reiko merasa sangat aneh, karena jarang seorang ayah berbicara kepada putrinya seperti ini, dan pada umumnya, jika putrinya pulang dalam keadaan mabuk, orangtua akan marah.

Tetapi pada saat mereka berada di kota, Reiko memutuskan untuk tidak terlalu banyak berpikir dan hanya menikmati malam yang santai.

Awalnya, ayah dan anak itu datang ke sebuah restoran, pemilik mengira Reiko adalah pacar muda ayahnya, dan ayahnya merasa sangat senang. Kemudian mereka pergi ke klub malam dan semua orang tahu bahwa Reiko bukan pacar ayahnya, tetapi fakta kebohongan yang terungkap tidak mengecewakan ayahnya karena mata Reiko sangat mirip dengannya.

Pemberhentiannya yang ketiga adalah restoran sushi. Kokinya sangat baik. Dia sangat iri dengan hubungan dekat antara ayah dan Reiko. Kemudian mereka pergi ke bar dan Reiko banyak minum dan benar-benar mabuk.

Ayah memanggil taksi untuk membawanya pulang. Dalam perjalanan, dia bangun dan meminta maaf kepada ayahnya, tetapi ayahnya hanya berkata: “Tidak apa-apa, kamu bisa tidur sebentar.”

Keesokan paginya, Reiko bangun setelah semalam mabuk. Dia merasa sedikit malu, bagaimanapun juga, membiarkan ayah melihatnya mabuk bukanlah hal yang baik.

Ketika dia keluar dari kamar, ayah telah meninggalkan rumah, dan ibu memberinya surat, yang ayahnya tinggalkan dengan kata-kata:

“Reiko, tadi malam sangat menyenangkan, lain kali kita harus keluar lagi bersama. Tapi Reiko, tahukah kamu berapa banyak semalam kamu minum sebelum kamu mabuk? Dua bir dan 5 soju, itulah jumlah yang kamu minum. Jadi kedepannya, saat keluar bareng dengan teman-teman, berhentilah sebelum kamu mencapai batasmu.

“Ada beberapa orang jahat di dunia ini, beberapa dari mereka ingin mencelakaimu, ayah tidak bisa berada di sekitar untuk melindungimu sepanjang waktu, itu sebabnya ayah melakukan itu kemarin, selama kamu tahu berapa banyak kamu minum, kamu bisa melindungi dirimu sendiri. Ayah tahu kamu bisa melakukannya, orang yang mencintaimu, ayahmu. “

Setelah membaca surat itu, Reiko menangis.

Ibunya mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak tahu bagaimana berbicara dengannya tentang hal itu. Daripada melarangnya keluar untuk minum, akan lebih baik baginya untuk belajar melindungi dirinya sendiri dengan cara ini.

Sekarang Reiko telah dewasa, dia bukan lagi gadis pemberontak seperti dulu, selama bertahun-tahun, dia tidak diganggu oleh orang lain karena mabuknya. Karena pendidikan ayahnya, dia bisa melindungi dirinya sendiri.

Ketika seorang anak tumbuh dewasa, “larangan” ketat orangtua terkadang tidak berhasil. Alih-alih membuat mereka terpapar pada hal-hal di dunia orang dewasa, ajari mereka cara melindungi diri mereka sendiri.

Pendekatan ayah ini patut dipikirkan oleh banyak orangtua di luar sana. Bagikan, biarkan lebih banyak orang melihat cerita ini, dan belajar berkomunikasi dengan anak-anak dengan cara yang lebih cerdas.(lidya/yn)

Sumber: ezp9