Kota Chengdu, Tiongkok di-lockdown,  21 Juta Jiwa Penduduk Dikunci! Belum Ada Kepastian Kapan Akan Dicabut

Seorang petugas kesehatan mengambil sampel swab dari seorang pria untuk diuji virus corona COVID-19 di Chengdu, di provinsi Sichuan barat daya Tiongkok pada 1 September 2022. (-/AFP via Getty Images)

Dorothy Li

Rezim Tiongkok menempatkan 21 juta jiwa di kota besar selatan Chengdu di bawah penutupan, sebuah langkah terbesar dengan dalih menahan gejolak COVID-19 sejak penutupan kota Shanghai.

Semua penduduk diharuskan tinggal di rumah mulai pukul 6 sore pada 1 September, kata pejabat kota itu dalam sebuah pernyataan. Adapun dalam satu Keluarga hanya diizinkan mengirim satu orang—yang memiliki hasil negatif tes PCR yang diambil dalam kurun waktu 24 jam—per hari untuk mendapatkan bahan makanan. Belum ada kepastian kapan lockdown akan dicabut.

Chengdu, ibu kota provinsi Provinsi Sichuan, adalah kota terbesar yang ditutup sejak pusat keuangan Shanghai juga ditutup selama dua bulan pada awal tahun ini.

Langkah besar dilakukan ketika pejabat Partai Komunis Tiongkok (PKT) di seluruh negeri meningkatkan pembatasan untuk membendung wabah COVID-19 menjelang konklaf Partai Komunis pada Oktober—dianggap sebagai waktu yang sensitif secara politik. Xi Jinping diperkirakan akan mengamankan masa jabatan lima tahun ketiga yang belum pernah terjadi sebelumnya selama Kongres ke-20 PKT yang akan dimulai pada 16 Oktober.

Jutaan penduduk di kota-kota  lainnya, dari kota selatan Shenzhen hingga Dalian di timur laut,  dikunci pada minggu ini. Rezim Tiongkok bersikukuh pada kebijakan nol-COVID-nya, yang bertujuan untuk menghilangkan setiap infeksi di antara komunitas melalui pengawasan digital, pengujian berulang, karantina ketat, dan penguncian, terlepas berdampak secara sosial dan ekonomi.

Pada Kamis 1 September, Volvo Cars mengumumkan akan menutup sementara pabriknya di Chengdu, menurut kantor berita Reuters.

Kota barat daya, bersama dengan daerah lain di Sichuan, telah berjuang dengan kekeringan yang memecahkan rekor dan cuaca panas, yang  mengurangi output tenaga air di kawasan itu dan menyebabkan pemadaman listrik di rumah tangga dan pabrik.

Persyaratan terperinci

Lockdown pada Kamis terjadi setelah Chengdu mencatat 157 kasus dalam 24 jam terakhir, mendorong total infeksi menjadi lebih dari 900 kasus sejak 12 Agustus. Namun demikian, penghitungan resmi telah dibantah oleh penduduk dan para ahli dengan merujuk pada sejarah rezim Tiongkok yang kerap meremehkan dan menutupi informasi tentang wabah di seluruh negeri .

Chengdu juga menunda dimulainya tahun baru sekolah. Pihak berwenang memerintahkan semua orang untuk menerima beberapa pengetesan COVID-19 mulai dari Kamis 1 September.

Semua toko ditutup kecuali untuk layanan penting seperti supermarket dan apotek.

Di bawah pembatasan terbaru, penduduk tidak diizinkan meninggalkan kota tanpa izin khusus, meskipun transportasi umum tetap beroperasi.

Sekitar 70 persen penerbangan  ditangguhkan dari dan ke Chengdu, yang merupakan pusat ekonomi dan pusat transit utama di Sichuan.

Terlepas dari klaim pejabat bahwa pasokan makanan berlimpah, lockdown telah membuat terjadinya panic buying pada hari itu. Seorang penduduk di Distrik Qingyang mengatakan kepada The Epoch Times bahwa supermarket terdekat kehabisan sayuran pada Kamis malam.

‘Isu’

Di platform microblogging Weibo, banyak yang mengecam pihak berwenang karena menangkap seorang pengguna media sosial yang memperingatkan tentang lockdown pada awal pekan ini.

Pada 29 Agustus, seorang netizen Tiongkok dengan nama “Hutan Tropis,” mengatakan bahwa pemerintah provinsi berencana menerapkan lockdown di Wechat, sebuah aplikasi pesan instan di seluruh kota. Pesan itu dengan cepat menjadi viral di media sosial negara itu Senin malam, mengakibatkan pembeli memadati toko dan platform online, mengambil sayuran berdaun, daging, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

Pada 30 Agustus, polisi Chengdu mengumumkan warga tersebut, seorang pria berusia 37 tahun, telah ditangkap karena memposting pesan “provokatif” dan menyebabkan kepanikan publik, menurut sebuah pernyataan online. Para pejabat mengatakan dia ditahan selama 15 hari dan didenda 1.000 yuan karena “memprovokasi pertengkaran dan memprovokasi masalah.”

“Ketika [pihak berwenang] mengatakan itu rumor, itu pasti benar,” komentar seorang pengguna Weibo. (asr)