Kota Yining, Xinjiang Ditutup Selama 36 Hari Mendatangkan Kekurangan Pangan, Warga yang Terancam Memohon bantuan

Foto menunjukkan pemandangan di salah satu kota provinsi Xinjiang. (JOHANNES EISELE/AFP/Getty Images)

Li Jing dan Hong Ning

Menjelang Kongres Nasional ke-20 Partai Komunis Tiongkok, tindakan penguncian keras diterapkan di banyak tempat dengan alasan dari pencegahan epidemi. Kota Yining atau Ghulja, ibu kota Prefektur Otonomi Yili, Xinjiang,  ditutup selama 36 hari. Para penduduk menghadapi kekurangan makanan dan kesulitan menemui dokter. Beberapa orang tua bahkan gantung diri karena kelaparan. Namun demikian, informasi yang terjadi ditutup-tutupi dan langsung diblokir oleh pihak berwenang.

Pada 8 September, pada konferensi pers Mekanisme Pencegahan dan Pengendalian Bersama Dewan Negara Partai Komunis Tiongkok, Wu Liangyou, wakil direktur CDC dari Komisi Kesehatan Nasional, mengatakan bahwa Xinjiang dan Hainan telah mencapai hasil yang luar biasa dalam pencegahan dan pengendalian epidemi, dan “risiko umumnya dapat dikendalikan.”

Pihak berwenang Xinjiang mengumumkan pada konferensi pers  7 September, Xinjiang menambahkan 1 kasus baru infeksi tanpa gejala lokal dan 23 kasus baru infeksi lokal tanpa gejala, termasuk 2 kasus di Distrik Tianshan, Kota Urumqi dan Yining, Prefektur Ili.

Kota Urumqi mengumumkan pada 10 Agustus bahwa mereka akan menerapkan “manajemen statis” sementara di enam wilayah perkotaan utama kota. Pihak berwenang meminta semua penduduk di daerah itu, agar “tidak keluar rumah kecuali diperlukan.” Pada 14 Agustus, pihak berwenang kembali mengumumkan perpanjangan langkah-langkah “manajemen statis”.

Selain itu, menurut media resmi Xinhuanet, pada 3 Agustus, Kota Yining, ibu kota Prefektur Otonomi Yili, meminta warga setempat untuk “tidak datang ke Yining kecuali diperlukan, dan tidak meninggalkan Yining kecuali diperlukan. “

Sejauh ini, keputusan otoritas Yining dianggap oleh masyarakat setempat sebagai awal dari “penutupan” kota, yang telah diblokir selama 36 hari.

Pada 8 September, warga Yining, Zhang Yong (nama samaran) mengatakan kepada reporter The Epoch Times bahwa “Sejak awal Agustus, Yili telah sepenuhnya diblokir. Area lokal kami telah dikarantina selama lebih dari 30 hari, dan setiap orang tidak memiliki sumber pendapatan.”

Ia juga mengatakan, kini personel pencegahan epidemi datang untuk melakukan tes asam nukleat setiap hari, dari pagi dan sore. Semua orang sangat cemas, terutama beberapa orang tua yang kesepian dan orang sakit, yang tidak dapat mengurus diri mereka sendiri. 

Stasiun Radio dan Televisi Yili melaporkan pada awal September, bahwa “Kota Yining secara aktif memastikan produksi dan pasokan produk ternak yang stabil,” dan menginstruksikan perusahaan untuk “menjamin jumlah dan kualitas produk daging yang cukup bagi penduduk.”

Namun, Zhang Yong, seorang penduduk Yining, mengatakan: “Masyarakat setempat mendistribusikan sayuran. Harga sekantong sayur adalah RMB. 60 , dan harga serta waktu pengiriman ditentukan oleh masyarakat. Sebagian besar bahan pokok yang dikirim adalah bawang bombay, serta wortel dan kentang, tanpa buah dan daging.   Banyak sayur-sayuran yang dikirimkan adalah sayuran busuk, yang biasanya dibuang oleh toko kelontong.”

Zhang Yong menyebutkan: “Terakhir kali ia memesan makanan pada 5 hari yang lalu. Masyarakat mengatakan bahwa tes asam nukleat perlu dilakukan dalam lima hari terakhir, dan orang-orang tidak akan diizinkan untuk memesan makanan. Warga setempat memposting pesan meminta bala bantuan di online, banyak diantaranya dihapus oleh pihak pemerintah.

Warga itu juga menceritakan, bahwa temannya memberitahukan kepadanya  bahwa pemerintah telah memintanya untuk menghapus unggahan yang dia pasang di Chaohua. Awalnya, Yili Chaohua adalah yang ke-13 paling dicari hari ini, tetapi turun menjadi 21 setelah lebih dari 20 menit, dan kemudian unggahan tersebut tidak dapat ditemukan lagi.  Pejabat resmi “menghapus” unggahan ini, menyuruh beberapa orang untuk memperagakan sedang memasak makanan enak di rumah mereka, sehingga dunia luar dapat melihat ilusi bahwa warga Yili hidup dengan baik di rumah. 

Selain itu, seorang wanita di Kota Yining mengatakan kepada wartawan bahwa pada  8 September sore, dia memposting pesan di Weibo untuk meminta bantuan. Anaknya mengalami demam 40 derajat dan menelepon panggilan darurat setempat dengan nomor 120. Mereka mengatakan bahwa kendaraannya tidak berfungsi. Masyarakat diminta menghubungi hotline 12345. Mereka hanya bisa menerima registrasi saja.

Selanjutnya, orang tak dikenal menghubungi wanita tersebut dan memintanya untuk menghapus postingan tersebut. Dia menjawab bahwa jika masalah perawatan medis anak telah diselesaikan, baru ia akan menghapusnya. Baru pada malam itu anak perempuan itu secara resmi diizinkan pergi ke Rumah Sakit Xinhua kota untuk perawatan.

Netizen mengungkapkan di Weibo bahwa beberapa warga Yili melakukan bunuh diri dengan melompat dari gedung karena epidemi. (gambar weibo)

Beberapa netizen mengungkapkan di Internet pada  8 September bahwa situasi di Kota Yining bahkan lebih serius daripada sebelum blokade. Jumlah kematian orang tak berdosa yang disebabkan oleh tindakan pencegahan epidemi ekstrem lokal secara bertahap meningkat, termasuk anak-anak yang menderita diare meninggal dunia di rumah tanpa perawatan tepat waktu. Ada orang tua menggantung diri karena kelaparan dan putus asa,  Ada juga petugas yang mendobrak masuk ke rumah warga, dan lima di antaranya memukuli pemilik rumah, hanya karena kesal di rumah berteriak dua kali . Banyak orang dibawa ke pusat isolasi dan setelah dipulangkan  ke rumah dari negatif menjadi positif COVID-19.