34.000 Penduduk Dipindahkan dari Kota Selatan Tiongkok ke Fasilitas Isolasi, Kota dengan 19 Juta Penduduk Diperketat

Warga membandingkan kekacauan dengan Revolusi Kebudayaan

Orang-orang mengantre untuk tes dan vaksinasi COVID-19 di Guangzhou, di provinsi Guangdong, Tiongkok pada 25 Mei 2021. Kota ini kembali menjadi berita utama sebagai pusat wabah COVID-19 terbaru di Tiongkok. (The Epoch Times)

Kane Zhang dan Angela Bright – The Epoch Times

Pihak berwenang di kota Guangzhou selatan Tiongkok mengumumkan lebih dari 2.000 infeksi COVID-19 baru pada 8 November. Langkah-langkah ketat COVID telah diterapkan di kota berpenduduk 19 juta yang dikenall sebagai pusat manufaktur utama. 

Ketika kota berusaha menghindari lockdown total seperti yang terjadi di Shanghai awal tahun ini, lebih dari 30.000 penduduk Guangzhou telah dipindahkan ke fasilitas isolasi di luar kota.

Guangzhou, “lantai pabrik dunia”, berada di pusat wabah COVID-19 terbaru di Tiongkok. Pada 8 November, otoritas kesehatan Tiongkok mengklaim 8.335 infeksi baru di negara berpenduduk 1,4 miliar itu. Jumlah yang dilaporkan termasuk 6.989 kasus tanpa gejala dan 1.346 kasus yang dikonfirmasi, menurut pengarahan harian dari Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok. Guangzhou bertanggung jawab atas hampir sepertiga dari infeksi baru pada 2.637 kasus baru.

Banyak distrik Guangzhou memberlakukan pembatasan dan lockdown. Warga di lima distrik, yang mewakili lebih dari setengah populasinya, diharuskan menjalani tes COVID-19 secara massal, menurut laporan Reuters. Lockdown di Haizhu, distrik dengan kasus terbanyak, diperpanjang hingga 11 November.

Kompleks Canton Fair Guangzhou, salah satu pusat konvensi terbesar di dunia, dibuka sebagai fasilitas isolasi untuk pasien tanpa gejala pada 4 November, lapor situs berita Caixin.

Sementara itu, media pemerintah The Paper melaporkan pada 7 November bahwa sejauh ini 34.000 orang telah dipindahkan ke fasilitas isolasi di kota-kota lain.

‘Orang-orang Melompat Dari Gedung Di mana-mana’

Warga menyampaikan rasa frustrasinya, ketika kantor dan sekolah ditutup dan lalu lintas setengah lumpuh akibat penutupan bus dan metro.

“Di mana-mana ditutup untuk isolasi,” Xue Qiang (nama samaran), penduduk distrik Baiyun Guangzhou, mengatakan kepada The Epoch Times. 

“[Jika] ada satu kasus positif di komunitas perumahan, semua orang akan diminta untuk melakukan tes asam nukleat. Ada [postingan] dari grup WeChat bahwa tidak ada makanan atau obat-obatan di tempat isolasi; orang diseret kemana-mana, ada yang ke rumah sakit jiwa, bahkan ada yang dikunci di toilet umum. Guangzhou dalam kekacauan.”

“Ketika orang melihat apa yang terjadi selama Revolusi Kebudayaan, mereka berpikir  tidak masuk akal. Ketika orang melihat [kembali] pada apa yang terjadi sekarang, mereka juga akan berpikir  tidak masuk akal.”

“Pandemi  sendiri tidak serius, tetapi ada terlalu banyak bencana sekunder yang disebabkan oleh [kebijakan] nol COVID,” lanjut Xue. 

“Ada orang melompat dari gedung di mana-mana. Beberapa meninggal dunia karena kurangnya pengobatan untuk penyakit bawaan”

Laba Besar untuk Produsen Test COVID-19

Industri tes COVID dipenuhi dengan korupsi, kata Xue. “Hanya mereka yang memproduksi asam nukleat [alat uji] yang tersisa. Departemen yang melakukan pengujian [asam nukleat] berkolusi dengan kelompok kepentingan  lebih tinggi untuk menghasilkan banyak uang.”

Reuters melaporkan 3 November bahwa beberapa perusahaan pengujian medis Tiongkok membukukan laba yang tinggi dalam tiga kuartal pertama tahun ini.

Namun, Xue merasa bahwa ekonomi secara keseluruhan sedang runtuh dan hasilnya akan menjadi bencana. “Tanpa pajak, komune dan kantin rakyat tidak akan bertahan lama. Partai Komunis Tiongkok adalah kediktatoran dan tidak tunduk pada batasan apa pun. Saya tidak berpikir kita akan berada dengan kondisi ini alam waktu lama sebelum sesuatu terjadi. ”

‘Puluhan Ribu Orang Diseret’

“Tepat setelah pencabutan lockdown [kota] dilockdown lagi,” An Hua (nama samaran), seorang pemilik restoran di Haizhu, mengatakan kepada The Epoch Times. “Sekarang semua restoran tutup, dan Anda juga tidak bisa memesan takeaway.”

“Banyak industri yang terhenti. Pemilik usaha kecil dan menengah khususnya merasa cemas, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Pihak berwenang mengatakan bahwa wabah ini adalah yang paling serius dalam tiga tahun, dan tidak ada yang diizinkan keluar. Warga tidak ingin keluar, [bahkan] jika tidak ada yang terjadi, karena kode kesehatan  mungkin menjadi kuning jika lewat di suatu tempat, dan  akan menjadi masalah besar.”

“Banyak orang telah ditarik keluar dari sini dan dikarantina. Desa di kota kosong! Puluhan ribu orang  ditarik. Ratusan bus berjejer di pinggir jalan. Hujan hari ini [Nov. 4], dan orang-orang menunggu di tengah hujan untuk dikirim,” lanjut An.

“Test COVID-19 sedang dilakukan]setiap hari. Orang-orang tidak punya uang dan makan mie instan di rumah. Orang-orang penuh dengan ketidakpastian dan kekhawatiran tentang hidup mereka, tidak begitu berharap tentang masa depan seperti sebelumnya.” (asr)