Jumlah Kematian Akibat COVID-19 di Tiongkok Melonjak, Tindakan Pencegahan Pandemi Ditingkatkan Hingga Pembukaan Blokade Tak Menentu

Pada 22 dan 23 November 2022, bentrokan besar-besaran antara polisi dan warga sipil pecah di pabrik Foxconn di Kota Zhengzhou, Provinsi Henan. (Tangkapan layar video)

Ruili

Hal pertama yang disoroti adalah pengendalian pandemi di Tiongkok. Kini, kasus COVID-10 meledak di daratan Tiongkok pada musim dingin. Jumlah kematian terus meningkat dalam beberapa hari terakhir, dan berbagai tempat juga kembali diberlakukan blokade. Pengeras suara di komunitas Tianxiacheng di Zhengzhou, Henan berbunyi : “Orang asing masuk, akan ditembak dan dibunuh.”

Baru-baru ini, di komunitas Tianxiacheng di Zhengzhou, Provinsi Henan, di gerbang properti berulang kali diumumkan melalui pengeras suara  bahwa “orang asing akan ditembak atau dibunuh, dan penduduk setempat akan dihukum di tempat.”

Petugas komunitas menjelaskan bahwa beberapa pemilik tak senang ketika orang luar datang ke komunitas untuk melakukan tes COVID-19, sehingga mereka memasang pengeras suara di pintu komunitas untuk mencegah orang luar memasuki komunitas.

Topik ini muncul di pencarian panas Baidu pada sore hari 22 November, menyebabkan diskusi hangat di kalangan netizen.

Seorang netizen berkata: “bukankah sudah diblokir, ini gila.”

Pencegahan epidemi berlebihan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dilakukan secara bergiliran di seluruh negeri.

Seorang personil pencegahan epidemi Yinchuan berkata : “bekerja sama dengan pekerjaan kami,  ini adalah peringatan pertama untuk Anda”

Warga menjawab: “Dengarkan saya dulu”

Personel pencegahan epidemi Yinchuan : “ angkat kedua tangan letakkan di dinding”

Warga menjawab: “Saya minum obat sekarang”

Personel pencegahan epidemi Yinchuan: “Saya memperingatkan Anda untuk kedua kalinya, jika tidak, saya akan menerapkan tindakan wajib”

Sebuah video menunjukkan bahwa di Yinchuan, Ningxia, seorang pria yang diduga pergi membeli obat dituduh melanggar peraturan pencegahan epidemi.

Personil pencegahan epidemi Yinchuan membentak : “berlutut, berlutut!”

Setelah itu, petugas mengabaikan rintihan dan menekan lengan pria yang terluka itu dan berlutut dengan punggung tangannya di tempat .

Petugas pencegahan pandemi Yinchuan berkata : “Anda harus patuh?”

Staf pencegahan epidemi Yinchuan: “Ayo, mengapa Anda keluar hari ini dan melanggar peraturan pencegahan epidemi?”

Warga : “Ah…lenganku terluka, ini lenganku yang sakit”

Staf pencegahan epidemi Yinchuan: “Ayo, beri tahu saya mengapa Anda keluar hari ini?”

Warga : “Saya membeli obat”

Pada 21 November, video tersebut menjadi viral di media sosial, menyebabkan ketidakpuasan yang luar biasa di kalangan netizen, namun dengan dengan segera dihapus. Beberapa netizen berkata dengan marah, “Siapa yang bisa bernafas lega setelah melihat adegan ini.”

Yang lain menyebutnya “menjinakkan orang biasa seperti ternak atas nama pencegahan pandemi.”

Saat negara-negara di seluruh dunia berangsur-angsur kembali ke kehidupan normal, kebijakan pencegahan epidemi PKT mulai goyah.

Penduduk di Shijiazhuang berkata : “Izinkan saya menunjukkan toko-toko di sini. Bank tidak buka, dan lampu di toko semuanya tidak dinyalakan hingga gelap.”

Penduduk Shijiazhuang: “Desa ini benar-benar seperti rumah bermain anak-anak.  Teman-teman, Shijiazhuang benar-benar seperti yang saya rasakan sekarang, dan sangat terkenal.”

Dalam waktu kurang dari 7 hari, Shijiazhuang beralih dari “seluruhnya terbuka”, membatalkan pengetesan COVID-19 wajib bagi semua warga, menjadi melanjutkan pengetesan massal semua warga, dan bahkan mengubah perpustakaan menjadi rumah sakit penampungan dalam semalam. Membuat dunia luar terkejut. 

Bahkan dikabarkan di Internet bahwa Sekretaris Partai dan Walikota Shijiazhuang sama-sama diberhentikan karena insiden “pembukaan blokir”. Namun demikian, kabar tersebut belum terkonfirmasi.

Setelah Beijing mengumumkan tiga kematian berturut-turut akhir pekan lalu, pada 22 November, Komisi Kesehatan dan Medis setempat memberitahukan lagi bahwa dua kematian baru ditambahkan, satu di Henan dan satu di Sichuan.

Laporan tersebut tak mengungkapkan rincian kasus kematian, tetapi karena Partai Komunis Tiongkok selalu menutupi kebenaran laporan, keaslian data ini  dipertanyakan.

Akun Weibo V yang terkenal “Jiang Benwei vs. Lawyer” memposting bahwa kondisi medis di banyak daerah jauh lebih buruk daripada di Beijing, bahkan jika ada orang lanjut usia yang meninggal dunia di Beijing, hal itu bisa dibayangkan jika terjadi di daerah lain.

Pada Selasa 22 November, otoritas Beijing sekali lagi meningkatkan langkah-langkah pengendalian pandemi, menandai 30 titik risiko di Distrik Xicheng, tempat Zhongnanhai berada.

Pada 21 November, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kota Beijing menyatakan secara terus terang bahwa Beijing menghadapi situasi pencegahan dan pengendalian pandemi yang “paling rumit dan parah” sejak wabah. Kereta bawah tanah Beijing, kawasan bisnis, dan area perkantoran seperti kota mati.

Warga Beijing: “Tak ada mobil di kawasan paling makmur di China World Trade Center”

Warga Beijing: “Wah, saya akan memotret Jalan Lingkar Ketiga pada pukul 3 sore untuk Anda. Ya Tuhan, arus lalu lintas seperti ini baru bisa dilihat setelah jam 12 malam. Apakah ini didalam rumah.”

Otoritas Beijing mengumumkan bahwa mulai 22 November, semua orang yang masuk dan kembali ke Beijing akan menjalani “tiga pemeriksaan dalam tiga hari”. Selama tiga hari pertama setelah tiba di Beijing, mereka harus menyelesaikan tes COVID-19 setiap hari. Jika hasilnya belum negatif, mereka tak diizinkan keluar. (hui)