Negara-negara Barat Kutuk Iran yang Memperkaya Ulang Uranium Hingga Kemurnian 60%

Logo Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) terlihat di markas IAEA, di tengah pandemi penyakit virus corona (COVID-19), di Wina, Austria, pada 24 Mei 2021. (Lisi Niesner/Reuters)

CNA via NTD

 Setelah Iran mulai memperkaya uranium dengan kemurnian 60% di fasilitas nuklir lain, Amerika Serikat pada 22 November menyatakan “keprihatinan  mendalam” tentang kemajuan Iran dalam mengembangkan program nuklir dan misil balistiknya. Inggris, Jerman dan Prancis juga mengutuk Iran secara serempak.

“Kami akan memastikan presiden (Biden) memiliki semua opsi,” kata juru bicara keamanan nasional Gedung Putih, John Kirby dalam jumpa pers di Washington, menurut Agence France-Presse.

“Tentu saja kami tak mengubah posisi kami bahwa kami tidak akan membiarkan Iran memiliki kemampuan nuklir,” katanya.

Sementara itu, Iran telah mengumumkan kemajuan dalam pengayaan uranium, yang dikhawatirkan oleh pemerintah Barat sebagai bagian dari program nuklir rahasia.

Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA) melaporkan bahwa “untuk pertama kalinya di Iran, uranium yang diperkaya dengan kemurnian 60% diekstraksi di pembangkit nuklir Fordo. Hal demikian dibenarkan oleh Kepal Badan Nuklir Iran Mohammad Eslami. 

Memproduksi bom atom membutuhkan pengayaan uranium hingga kemurnian 90 persen, dan penyulingan uranium yang diperkaya hingga 60 persen merupakan langkah besar untuk mendapatkan bahan nuklir tingkat senjata.

Badan Energi Atom Internasional PBB (IAEA) mengkonfirmasi pada Selasa (22/11) bahwa Iran telah mulai menyempurnakan uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60% di fasilitas nuklir Fordo di bawah tanah.

Dalam sebuah pernyataan kepada AFP, IAEA mengatakan: “Dalam laporan terbarunya kepada negara-negara anggota, kepala badan tersebut, Rafael Mariano Grossi, mengatakan hari ini bahwa program nuklir Iran di Natanz akan dimulai pada April 2021. Selain pengayaan uranium hingga 60 persen di fasilitas tersebut, uranium pengayaan tinggi juga telah dimulai di Pabrik Pengayaan Bahan Bakar Fordo.”

Inggris, Prancis, dan Jerman  mengutuk perluasan program nuklir Iran, setelah Badan Energi Atom Internasional mengonfirmasi bahwa Iran memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen.

Pemerintah Inggris, Prancis dan Jerman, tiga raksasa utama Uni Eropa, mengatakan bahwa kemurnian uranium yang diperkaya dan disempurnakan oleh Iran telah “jauh melebihi” batas atas yang ditetapkan dalam perjanjian nuklir 2015. Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), umumnya dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran, bertujuan untuk mengekang ambisi Iran untuk mengembangkan senjata nuklir.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Iran sedang menyempurnakan 60% uranium murni di pembangkit nuklir Fordo untuk menantang larangan global terhadap proliferasi nuklir.

“Tidak ada pembenaran sipil yang kredibel untuk langkah ini, yang mana membawa risiko terkait proliferasi nuklir secara signifikan, Kami akan terus berkonsultasi dengan mitra internasional kami tentang cara terbaik untuk mengatasi eskalasi kegiatan nuklir Iran yang terus berlanjut,” demikian pernyataan kata ketiga negara tersebut. (hui)