Setelah Kebakaran di Urumqi, Sejumlah Besar Massa Turun ke Jalan untuk Melawan Blokade

Pada 26 November, warga Shanghai berkumpul di Jalan Tengah Urumqi untuk memprotes kebijakan pencegahan epidemi yang ekstrem.Slogan-slogan tersebut ditingkatkan menjadi pengunduran diri Partai Komunis dan pengunduran diri Xi Jinping. Pada 27 November, protes pecah lagi di Jalan Tengah Urumqi, dan mereka diusir lagi. (Tangkapan layar video)

Li Yun dan Wang Peihan

Pada 24 November malam, kebakaran terjadi di daerah pemukiman di Urumqi, Xinjiang, yang telah ditutup selama lebih dari tiga bulan, menyebabkan korban jiwa yang serius. Banyak penduduk setempat, khawatir tragedi itu menimpa mereka, bergegas keluar dari rumah mereka pada hari Jumat dan berkumpul di depan balai kota untuk menuntut pencabutan blokade. Pihak berwenang mengirim sejumlah besar polisi untuk menekan.

Penduduk Urumqi berteriak : “Buka segel, buka segel, buka segel. Buka segel, buka segel, buka segel.”

Pada 25 November, warga Urumqi, Xinjiang berama-ramai keluar dari rumah mereka untuk menuntut pencabutan lockdown. Beberapa orang bahkan berkumpul di depan balai kota untuk memprotes.

Sejumlah besar polisi militer datang ke tempat kejadian untuk menekan massa, orang-orang dengan amarah membara  berteriak: “kalau mau mati akan mati bersama”. Mereka menuntut pencabutan penuh penguncian.

Seorang warga Urumqi: “Polisi rakyat itu seharusnya untuk rakyat, tetapi mana yang untuk rakyat? Malahan Menekan rakyat!” tahun ini? Apakah kamu tidak punya hati nurani?”

Di sebuah lokasi aksi protes, seorang warga mempertanyakan kepada pimpinan pemerintah, berapa banyak orang yang meninggal dunia setelah disegel lebih dari 100 hari?

Pengunjuk rasa : “Apakah kami rakyat biasa benar atau salah, kalian tidak boleh menegakkan hukum dengan kekerasan.”

Pada malam itu, Yang Fasen, sekretaris Komite Partai Kota Urumqi, berpidato di tempat kejadian. Ia berjanji  membuka blokir semua komunitas berisiko rendah pada 26 November.

Pada 26 November, Ms. Wang, yang tinggal di Urumqi, mengatakan bahwa komunitas berisiko rendah belum dibuka blokirnya. 

Nona Wang,  penduduk Urumqi: (Suara telah disamarkan) “Urumqi diblokir pada bulan Agustus karena wabah. Orang-orang tak dapat menahan blokade sampai sekarang. Pada 24 November, terjadi kebakaran di bangunan  gedung tempat tinggal di Distrik Tianshan, menyebabkan banyak orang tewas terbakar. Pemerintah menyembunyikan fakta kebenaran. Banyak orang takut mereka juga akan menghadapi tragedi seperti itu, sehingga banyak orang mempertaruhkan hidup mereka untuk melawan.”

Menurut laporan lokal, pukul 19:49 waktu setempat pada 24 November, kebakaran terjadi di gedung tempat tinggal bertingkat tinggi di Urumqi. Insiden itu menewaskan 10 orang dan melukai 9 lainnya.

Seorang wanita dari Xinjiang memposting video tentang bencana yang disebabkan oleh lockdown di Xinjiang.

Wanita Xinjiang berkata : “Pintu-pintu di area berisiko tinggi semuanya disegel, dan orang-orang tidak dapat membuka pintu unit untuk keluar. Ada banyak pagar dan tumpukan kayu yang dipasang di lantai bawah. Setelah kebakaran terjadi, dibutuhkan lebih dari setengah jam mobil pemadam kebakaran memasuki pemukiman masyarakat, kemudian dibutuhkan waktu dua jam untuk memindahkan tumpukan kayu, pagar, dan lembaran besi ini.  Dikarenakan masyarakat sudah ditutup selama lebih dari 100 hari, banyak mobil pribadi tak dapat dinyalakan.  Mereka tak bisa memindahkan mobil mereka.”

Wanita itu mengatakan bahwa beberapa pemilik mobil bahkan dikarantina di tempat penampungan, sehingga mobil pemadam kebakaran tak dapat mencapai lokasi untuk memadamkan api. Sehingga mengakibatkan banyak kematian dan terluka. Ia juga mengatakan bahwa Xinjiang adalah penjara dan neraka, dan orang asing tidak boleh datang ke Xinjiang. (hui)