Sebagai Wujud Solidaritas dengan Aksi di Daratan Tiongkok, Mahasiswa Tionghoa di Luar Negeri Meneriakkan “Partai Komunis Mundur”

Pada 27 November 2022, sejumlah besar mahasiswa Tiongkok yang belajar di luar negri bergegas ke seberang kedutaan PKT di London, Inggris, untuk memprotes tirani “Kebijakan Nol kasus” PKT. (Kredit gambar: Steven Leung)

Zhang Ting

Gelombang protes terhadap “kebijakan nol COVID-19” Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang ekstrem dan pembatasan kebebasan sipil terus meningkat. Terkini,  aksi protes meluas dengan cepat ke luar negeri. Lebih dari belasan kota utama di Eropa, Amerika Utara, dan Asia  meluncurkan kegiatan untuk mendukung masyarakat di daratan Tiongkok. Banyak mahasiswa internasional mengatakan bahwa partisipasi mereka  sebagai bentuk  tanggung jawab, dan mereka tak takut akan pembalasan Partai Komunis Tiongkok.

Unjuk rasa di luar negeri ini adalah contoh langka dari orang-orang Tionghoa yang bersatu di dalam dan luar negeri untuk mengungkapkan kemarahan mereka kepada Partai Komunis Tiongkok. Sejak Xi Jinping berkuasa satu dekade lalu, pihak berwenang telah menindak perbedaan pendapat dan memperketat kontrol terhadap masyarakat sipil, media dan internet. Oleh karena itu, perlawanan anti-blokade berskala besar yang pecah di banyak kota di Tiongkok merupakan peristiwa yang langka.

Aksi  di New York, AS

Pada  Minggu (27/11), di kampus Universitas Columbia dan di Lapangan Washington dekat Universitas New York, mahasiswa Tiongkok berkumpul untuk mendukung gerakan perlawanan rakyat di daratan Tiongkok  dan berduka atas korban kebakaran di Urumqi, Xinjiang pada  24 November .

Mahasiswa di Universitas Columbia memasang tanda di pusat kegiatan mahasiswa:

“Mendukung aksi protes kepada kebijakan Lockdown dan pengetesan wajin di semua Tiongkok, serta kediktatoran Satu Partai!. Dukung tuntutan rakyat Tiongkok akan demokrasi, supremasi hukum, dan kebebasan berekspresi!”

“Semoga tangisan ini terdengar di setiap sudut dunia, dan setiap orang yang mencintai kebebasan dapat mendengarnya!”

“Kemuliaan bagi semua yang tegak bersama dan menolak menjadi budak!”

Di Washington Square  di sebelah Universitas New York, sejumlah besar mahasiswa Tionghoa berkumpul di tengah angin dingin dan gerimis. Seperti rekan mereka di daratan Tiongkok, mereka mengangkat slogan dan kertas kosong serta meneriakkan slogan yang dikeluarkan oleh Peng Lifa, pahlawan Jembatan Sitong Beijing: “Kebebasan bukannya blokade, martabat bukan kebohongan, reformasi bukan Revolusi Kebudayaan, suara bukan pemimpin, warga negara bukan budak!”

Mahasiswa Tionghoa yang belajar di luar negeri, berkumpul di Washington Square di sebelah Universitas New York pada 27 November untuk mendukung gerakan perlawanan rakyat daratan. (Tangkapan layar video)

Aksi di Paris, Prancis

Beberapa pengunjuk rasa di luar negeri mengatakan, kini giliran mereka ikut serta mengambil beberapa tekanan dari teman dan keluarga.

“Inilah yang harus saya lakukan. Ketika saya melihat begitu banyak warga dan mahasiswa Tiongkok turun ke jalan, perasaan saya adalah mereka lebih menderita daripada kami,” kata seorang mahasiswa pascasarjana Chiang Seeta. Seeta adalah salah satu penyelenggara aksi protes solidaritas di Paris pada Minggu (27/11), yang dihadiri sekitar 200 orang.

“Kami sekarang berada di luar negeri dalam solidaritas dengan mereka.”

Para pengunjuk rasa meletakkan bunga dan menyalakan lilin untuk para korban kebakaran Urumqi di luar Pompidou Centre di Paris. Beberapa menyalahkan Xi Jinping dan Partai Komunis dan menuntut agar mereka mundur.

Aksi  di London, Inggris

Pada Minggu malam, sejumlah besar orang Tionghoa Inggris bergerak  ke seberang kedutaan Tiongkok di London, sebagian besar di antaranya adalah pelajar Tionghoa. Mereka memprotes tirani “kebijakan nol kasus” Partai Komunis Tiongkok, berbelasungkawa terhadap korban kebakaran di Urumqi, dan meneriakkan slogan-slogan seperti “Xi Jinping, mundur!” dan “Partai Komunis, mundur!”.

Pada malam 27 November, sejumlah besar mahasiswa Tiongkok bergegas ke seberang kedutaan besar PKT di London, Inggris, untuk memprotes tirani “pembersihan” PKT. (Kredit gambar: Steven Leung)

 Ma Jian, seorang penulis Inggris yang mengalami peristiwa Tiananmen pada tahun 1989, juga hadir. Dia mengatakan kepada The Epoch Times bahwa dia melihat begitu banyak anak-anak dari daratan Tiongkok berdiri, dan hatinya bergolak, “Saya sangat terharu. Kelompok mahasiswa luar negeri ini adalah anak-anak yang meneriakkan “Xi Da, Mama Peng”, setelah tiga tahun wabah. Kerabat, anggota keluarga, teman mereka di Tiongkok telah dianiaya, dan sekarang mereka merasa tidak punya apa-apa, semuanya nol.”

“Hal yang paling tidak biasa adalah hari ini mereka meneriakkan “Ganyang Partai Komunis, Ganyang Xi Jinping’,” katanya.

Selama bertahun-tahun, mahasiswa Tiongkok di luar negeri biasa melakukan unjuk rasa untuk mendukung pemerintah Tiongkok dan menentang kritiknya, yang dihasut oleh kedutaan besar Tiongkok, tetapi protes anti-PKT  jarang terjadi. Tetapi kebijakan lockdown telah mengubah semuanya, dan seperti yang ditunjukkan oleh aksi protes di London, mahasiswa asing lebih menyadarinya.

Aksi Protes Meletus di Seluruh Kanada

Pada Minggu malam, di kota-kota besar di Kanada: Toronto, Vancouver, Calgary, Halifax, Ottawa, Montreal, mahasiswa Tionghoa berdiri di jalan-jalan di berbagai kota, berteriak dengan marah: “Partai Komunis mundur!”

Di depan Konsulat Tiongkok di Toronto, massa anti-komunis berbaris di kedua sisi jalan, diperkirakan ada hampir seribu orang, hampir semuanya adalah pelajar muda Tionghoa yang belajar di luar negeri. Gerakan anti-komunis mengangkat kertas kosong dan berteriak: “Jangan tes asam nukleat, kami ingin kebebasan!” “Tidak mau pemimpin, mau pemilihan umum!” “Jangan jadi budak, jadilah warga negara! dan “bebaskan orang Shanghai”…

Host Ratio, Harrison Faulkner, men-tweet video aksi protes di Toronto. Slogan para pengunjuk rasa dengan suara keras dan menggemparkan dunia. Semua orang berteriak serempak: “Orang-orang Tiongkok, bangunlah melawan!” “jika tidak ada kebebasan lebih baik mati!” “Partai Komunis, mundur!”

Aksi di Tokyo, Jepang

Pada  Minggu, banyak pengunjuk rasa, termasuk mahasiswa Tiongkok, datang ke Shinjuku, Tokyo, untuk memprotes kebijakan blokade PKT. Kantor berita Reuters melaporkan bahwa salah satu mahasiswa dari Beijing mengatakan bahwa setiap aksi protes terhadap “kebijakan nol kasus” yang pecah di Tiongkok pasti akan memfokuskan tanggung jawab kepada Partai Komunis.

Seorang mahasiswa bernama Emmanuel menyampaikan pesan : “Intinya adalah sistem Tiongkok (PKT).”

Aksi di Sydney dan Melbourne, Australia

Mahasiswa Tionghoa dan internasional di Sydney, Australia juga menggelar aksi  protes. Orang-orang menyalakan lilin dan mengangkat kertas kosong yang melambangkan protes terhadap penyensoran di Tiongkok untuk mengenang para korban kebakaran di Urumqi. 

Pada Minggu, sebuah petisi aksi protes yang diorganisir oleh anak muda dari daratan Tiongkok diadakan di depan Perpustakaan Negara Bagian Victoria, Australia.

Aksi protes ini  diikuti oleh lebih dari 100 mahasiswa daratan Tiongkok dari berbagai universitas di Melbourne dan pemuda setempat. Terinspirasi oleh serangkaian aksi protes dan petisi publik di Urumqi, Zhengzhou, Shanghai, Nanjing dan tempat-tempat lain di Tiongkok, mereka secara spontan datang ke gerbang Perpustakaan Negara dari seluruh penjuru Melbourne, menempatkan lilin “11.24 Urumqi”.  Isi Poster dan slogan meneriakkan slogan-slogan yang telah lama tertanam di hati mereka: “jika tidak ada kebebasan lebih baik mati!” “Partai Komunis, mundur!”

Pada 27 November, mahasiswa Tiongkok memprotes dan mengajukan petisi di depan Perpustakaan Negara di Melbourne, Australia, menyerukan pengunduran diri Partai Komunis. (Takagi/Epoch Times)

Anne-Marie Brady, seorang ahli Tiongkok  dan profesor di University of Canterbury, men-tweet foto dirinya memegang selembar kertas kosong sebagai solidaritas dengan protes di Tiongkok. Ia menulis dalam bahasa mandarin “Saya mendukung orang-orang Tiongkok yang dengan berani memprotes. Biarkan pemerintah Tiongkok tahu bahwa dunia sedang menonton.”

Selama aski protes  pecah di Tiongkok baru-baru ini, banyak orang memprotes dengan membawa kertas kosong di tangan mereka, melambangkan perlawanan terhadap sistem sensor PKT yang meluas.

Aksi Protes di Taiwan

Pada Minggu malam, di Liberty Square di Taipei, orang-orang memegang kertas putih dan menyalakan lilin sebagai solidaritas dengan perjuangan rakyat Tiongkok. Peserta termasuk Hong Kong, Taiwan dan warga negara asing dan mahasiswa.

Sebuah spanduk besar di tempat kejadian menulis kata-kata “Berkabung” pada strip kain putih, mengatakan “jika tidak ada kebebasan lebih baik mati!”, “orang Tiongkok menginginkan kebebasan”, “Semoga yang wafat beristirahat dalam damai, semoga yang hidup melawan, dan semoga tangisan dalam diam terdengar.  “Kaki kami patah, tetapi kamu tidak bisa menutup mulutku”.  Poster solidaritas lainnya muncul di venue satu demi satu.

Kegiatan berkabung dimulai pukul 06.30 sore. Para pengunjung semakin banyak. Beberapa orang menulis ungkapan belasungkawa di atas kain putih, dan beberapa orang memegang papan  dengan kata-kata “jangan diam, jangan mati rasa, dan jangan takut”. Spanduk dan poster  juga semakin banyak, dengan kata-kata “Partai Komunis Mundur”.  Poster lainnya bertuliskan : “Turun pengkhianat Xi Jinping”. “Orang-orang yang bangkit dan menolak menjadi budak”. Poster lainnya adalah “Akulah yang runtuh dan melompat dari gedung”. Kemudian ada lagi poster lainnya : “Kami adalah generasi terakhir” dan seterusnya.

Pada malam 27 November, orang-orang secara spontan mendukung Tiongkok di Liberty Square di Taipei. (Kantor Berita Pusat)

Aksi di Hongkong

Pada Senin (28/11) malam, puluhan pengunjuk rasa berkumpul di kawasan pusat bisnis Hong Kong, salah satu lokasi demonstrasi anti-pemerintah di Hong Kong pada tahun 2019.

Menurut Reuters, Lam, seorang warga negara Hong Kong berusia 50 tahun, berkata: “Saya pikir ini adalah hak normal bagi orang untuk mengungkapkan pendapat mereka. Saya pikir mereka (PKT) tidak boleh menekan hak ini.”

Puluhan mahasiswa juga berkumpul di kampus Chinese University of Hong Kong berkabung dengan mereka yang tewas dalam kebakaran di Urumqi, Xinjiang, menurut video yang beredar online.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian  pada konferensi pers reguler mengatakan  bahwa dia tidak mengetahui aksi protes yang meletus di luar negeri yang mana menuntut agar PKT menghentikan “kebijakan nol COVID” -nya.

Ditanya tentang aksi protes domestik, Zhao Lijian mengatakan pertanyaan tak mencerminkan situasi sebenarnya. Ia menambahkan bahwa Beijing yakin perang melawan pandemi akan berhasil. (hui)