Seorang Mahasiswi di Guangzhou, Tiongkok Tewas Melompat dari Gedung, Ibunya Dipukuli karena Meminta Penjelasan ke Kampus

Xia Dunhou dan Liu Fang – NTD

Di bawah kendali ketat Partai Komunis Tiongkok, insiden melompat dari gedung sering terjadi. Baru-baru ini, seorang mahasiswi dari Guangdong University of Finance & Economics melompat hingga tewas di kampus. Pada Senin (28/11), keluarga mendiang pergi ke kampus untuk meminta penjelasan, akan tetapi malah dipukuli.

Pada 23 November, di kampus Guangdong University of Finance & Economics  yang telah ditutup selama beberapa hari, Xu Xiaote, seorang gadis senior, melompat dari gedung hingga tewas. Ibunya mengungkapkan bahwa Xu Xiaote telah meminta untuk berobat pada 22 November, tetapi tak disetujui oleh pihak kampus. Pada 28 November, si ibu dan kakak laki-lakinya meminta penjelasan dari pihak kampus.  Namun demikian, mereka malah dipukuli oleh petugas penanggulangan wabah di gerbang kampus.

Saksi mata di Guangzhou berkata : “mereka dipukuli sampai terluka.”

Personil anti-epidemi membela diri dengan berkata : “Dia pasti melakukan tindakan ilegal.”

Para penonton mengungkapkan ketidakpuasan mereka dengan kata-kata kepada para petugas pencegahan epidemi.

Xu Xiaote sempat menghubungi hotline 120 pada 22 november, dan ambulans mengukur tekanan darahnya setelah tiba di kampus. Namun, pihak kampus menghindari mengungkapkan hal itu dan hanya mengatakannya dengan asal-asalan.

Warga di tempat berkata: “Seorang anak perempuan akan kuliah dan akan lulus pada tahun depan. Dia menghilang dari kampus ini karena pencegahan dan pengendalian pandemi. Sekarang pihak kampus tak bertanggung jawab.”

Postingan sang ibu di Weibo menarik perhatian netizen. Beberapa mahasiswa berkomentar, “Hujan sangat deras pada hari itu, dan dia masih memakai masker ketika dia melompat turun. Dia berbaring di bawah hujan lebat selama dua jam dan tidak ada yang peduli padanya. Beberapa mahasiswa juga mengatakan hal itu setelah pihak kampus mengkonfirmasi sebuah kasus pada 11 November, semua mahasiswa disegel di asrama.

Reporter melakukan empat panggilan telepon ke Guangdong University of Finance & Economics, tetapi hanya satu telepon yang dijawab dan hanya mengatakan tak terlalu mengerti perkara kejadiannya. 

Dalam beberapa hari terakhir, setelah kebakaran terjadi di Xinjiang, orang-orang di banyak tempat turun ke jalanan untuk memprotes. Di area Jembatan Haizhu dan Lapangan Haizhu di Guangzhou, banyak orang masih berkumpul pada 27 November. Mereka melambai-lambaikan kertas putih dan menyanyikan lagu, menyerukan pihak berwenang untuk mengakhiri lockdown secepat mungkin.

Ms. Li, penduduk Distrik Haizhu, Guangzhou berkata: “Banyak orang sudah tak tahan lagi, dan berharap lockdown dapat segera dicabut. Kami melihat beberapa gang kecil di komunitas tersebut ditutup dengan lembaran besi. Insiden kebakaran di Urumqi masih belum menjadi pelajaran.  Komunitas di kota itu, jalur jalannya sangat sempit dan masih dikelilingi dengan lembaran besi. Kalian telah menghalangi perjalanan hidup dan jika ada bencana, bagaimana kalian menyuruh orang-orang untuk melarikan diri?”

Sejumlah netizen mengatakan dibutuhkan banyak nyawa, sebanyak tragedi untuk mendapatkan sedikit hati nurani dari pihak berwenang. Reporter NTD menemukan bahwa postingan blog ibu Xu Xiaote telah dihapus pada (28/11) malam. (hui)