Putra Osama bin Laden Mengisahkan Pengalaman Masa Kecilnya yang Mengerikan

Erabaru.net. Omar bin Laden, putra mendiang Osama bin Laden berada di Qatar untuk menonton pertandingan sepak bola Piala Dunia baru-baru ini menerima wawancara media Inggris. Putra keempat mantan pemimpin tertinggi Al Qaeda, Osama bin Laden ini mengisahkan pengalaman masa kecilnya yang mengerikan kepada reporter, dia secara blak-blakan mengatakan bahwa proses bergaul dengan ayahnya di masa kecilnya itu seperti sebuah mimpi buruk yang panjang.

Berdasarkan pemberitaan beberapa media Inggris seperti “The Sun”, “Daily Mail” dan “The Mirror”, Omar mengaku terus terang dalam sebuah wawancara dengan media di Qatar bahwa masa kecilnya dihabiskan dalam berbagai “konflik”. Yang masih segar dalam ingatannya adalah ayahnya memaksa dirinya yang masih kecil untuk menembak dengan senapan AK47, juga menggunakan anjing peliharaannya untuk menguji senjata kimia, bahkan dia pernah dipaksa untuk mendaftarkan sebagai pelaku bom bunuh diri.

Menurut penuturan Omar, dia tinggal bersama ayahnya di gua Dora Bora, Afghanistan ketika masih sangat muda, jiwanya terguncang dan fisiknya terluka karena sering dipukuli oleh ayahnya dan dipaksa menjalani pelatihan bertahan hidup yang keras. Misalnya, dia pernah “dibuang” oleh ayahnya di tengah padang pasir, di mana dia harus bertahan hidup selama beberapa hari dengan makanan dan air yang sangat sedikit, dan hanya bisa tidur di dalam gua pada malam hari.

Salah satu hal yang paling tak terlupakan oleh Omar adalah hewan peliharaannya yang digunakan oleh ayahnya untuk menguji senjata biologis dan kimia.

“Teman ayah saya membelikan saya seekor anak anjing, dan saya suka bermain dengannya. Tetapi pengikut ayah saya menangkapnya untuk digunakan dalam eksperimen senjata biologis dan kimia. Saya ketakutan, tetapi ini adalah perintah ayah saya,” tutur Omar.

Omar dipaksa ikut menyaksikan ayah dan para pengikutnya untuk mematikan anak anjing kesayangannya dengan menggunakan senjata kimia. Dan mengatakan bahwa di hari-hari kemudian dirinya mencoba untuk melupakan kejadian sadis itu, tetapi cukup sulit.

“Karena kejadian-kejadian yang menyakitkan hati bisa muncul setiap saat”, katanya.

Omar dan beberapa saudaranya menderita penyakit asma, tetapi ayahnya melarang semua produk buatan Amerika Serikat ada dalam rumah, termasuk AC atau inhaler untuk asma.

Pada saat Omar berusia 15 tahun, dia dipilih oleh ayahnya dan dibawa ke kamp pelatihan Al Qaeda di Pegunungan Tora Bora, Afghanistan, untuk menerima pelatihan, belajar menggunakan senapan AK47 dan mengemudikan tank Rusia. Ayahnya pernah berkeinginan untuk membimbingnya menjadi calon penerus kerajaan teroris.

Namun ketika Omar beranjak dewasa, dia membuat sebuah keputusan yang sangat berani, dia bertekad untuk melarikan diri dari kehidupan mengerikan yang diatur ayah untuk dirinya, bahkan dia memutuskan hubungan dengan ayahnya.

Kepada media Omar mengatakan : “Ketika ayah meminta saya untuk mendaftar menjadi pelaku bom bunuh diri, itulah saat terakhir bagi saya untuk mengukuhkan tekad, saya sudah muak.”

Pada tahun 2001, Omar melarikan diri dari Afghanistan dan kembali ke Arab Saudi. Dia memulai bisnis dengan pamannya, Bakr bin Laden, terutama bergerak dalam perdagangan besi tua. Osama Bin Laden tentu sangat marah atas pemberontakan putranya. Sejak saat itu, kedua belah pihak memutuskan komunikasi. Kata Omar, bahkan ketika ayahnya dibunuh oleh militer AS pada tahun 2011, dia hampir tidak merasakan kesedihan.

Ketika ditanya oleh reporter mengapa dia pernah dipilih oleh ayahnya sebagai penerus kerajaan teroris, Omar menjawab : “Saya tidak tahu, mungkin karena saya lebih pintar dan itulah sebabnya mengapa saya masih hidup sampai sekarang.”

Omar bin Laden kini adalah seorang seniman yang mahir dalam melukis lanskap. Dia dapat menjual lukisannya yang dijadikan sebagai sumber penghasilan hidup bersama istrinya yang berkebangsaan Inggris di Normandia,dan Prancis. (sin/yn)

Sumber: NTDTV