Riset dari Inggris : Jumlah Kematian di Tiongkok Mungkin Mencapai 5.000 Kasus Setiap Hari

Seorang warga Beijing sedang membawa kotak abu jenazah kerabatnya dari tempat perabuan pada 20 Desember 2022. (Noel Celis/AFP/Getty Images)

oleh Tang Zheng – NTD

Jumlah kasus infeksi dan kematian akibat COVID-19 di Tiongkok terus meningkat setiap hari. Namun, PKT hanya melaporkan digit tunggal kematian akibat COVID-19, hal mana menimbulkan pertanyaan masyarakat. Sebuah laporan analisis baru dari Inggris (tautan) menunjukkan bahwa Tiongkok dapat menghantarkan gelombang epidemi terbesar di dunia, dengan perkiraan 1 juta kasus infeksi dan 5.000 kasus kematian setiap harinya.

Pada 21 Desember, Airfinity, sebuah perusahaan riset berbasis di London yang memprediksi data kesehatan melalui model berdasarkan data dari Tiongkok berhasil menyimpulkan, jumlah infeksi harian di Tiongkok saat ini sudah mencapai lebih dari 1 juta kasus. Diantaranya, jumlah kasus di Beijing dan Guangdong adalah yang paling cepat meningkatnya.

Airfinity memprediksi bahwa gelombang epidemi ini mungkin memiliki dua buah puncak, yakni pada pertengahan Januari 2023 akan mencapai puncak pertamanya yang 3,7 juta infeksi baru per hari, sedangkan pada bulan Maret tahun depan akan mencapai puncak kedua yang 4,2 juta kasus infeksi baru per hari.

Laporan Airfinity menyebutkan bahwa angka perkiraan perusahaan sangat kontras dengan angka yang dilaporkan pihak berwenang dalam seminggu terakhir, yang menunjukkan 1.800 kasus infeksi baru dengan 7 kasus kematian. Sedangkan angka yang keluar dengan menggunakan pemodelan Airfinity menunjukkan, lebih dari 1 juta kasus infeksi baru dengan lebih dari 5.000 kasus kematian per hari.

Louise Blair, kepala vaksin dan epidemiologi di Airfinity mengatakan dalam sebuah pernyataan, bahwa Tiongkok telah menghentikan tes asam nukleat massal dan tidak lagi melaporkan kasus infeksi yang tanpa gejala. Ini berarti bahwa data pihak berwenang Tiongkok tidak mungkin benar-benar mencerminkan situasi epidemi yang sedang dialami negara saat ini.

Pihak berwenang Tiongkok juga telah mengubah cara pencatatan tentang kematian COVID-19. Yang dilaporkan saat ini hanya mereka yang meninggal dunia karena gagal napas atau akibat radang paru-paru setelah dinyatakan positif, kata Louise Blair. Perubahan itu jelas berbeda dari negara-negara yang mencatat kematian selama hasil tes menunjukkan pasien positif terinfeksi. Jelas hal ini akan membuat rendah jumlah kematian di Tiongkok.

Ketika epidemi merebak di kota-kota besar daratan Tiongkok, pihak berwenang Tiongkok melaporkan hanya beberapa kematian baru karena virus komunis Tiongkok (COVID-19). Hal ini menimbulkan keraguan dari masyarakat umum termasuk para pakar kesehatan masyarakat.

Menurut risalah rapat internal Komisi Kesehatan dan Medis Nasional Tiongkok pada 21 Desember, jumlah infeksi baru per hari pada 20 Desember telah tercatat mendekati 37 juta kasus. Dan angka kumulatif sejak 1 hingga 20 Desember adalah 248 juta kasus, atau 17,56% dari total populasi Tiongkok.

Menurut risalah rapat internal itu, pada 21 Desember sore, Komisi Kesehatan dan Medis Nasional Tiongkok mengadakan “Konferensi Video dan Telepon tentang Penguatan Perawatan Medis Pasien dengan Pneumonia Virus Korona Jenis Baru”. Pertemuan Komisi Kesehatan dan Medis menyimpulkan bahwa situasi epidemi di Tiongkok secara keseluruhan telah berada dalam tahap perkembangan pesat, terutama akhir-akhir ini. Dan tingkat infeksi baru dalam satu hari terus meningkat dengan pesat. Sejak bulan Desember, tingkat infeksi kumulatif populasi telah melebihi 17%. Diperkirakan pada akhir bulan Desember ini banyak provinsi dan wilayah di Tiongkok secara bertahap akan memasuki periode puncak epidemi.

Saat ini, provinsi dan daerah di mana situasi epidemi meningkat dengan cepat atau akan segera menunjukkan kecenderungan menyebar dari ibu kota provinsi menuju kota-kota kecil dan menengah sampai ke pedesaan. Kira-kira seminggu setelah puncak epidemi, akan memasuki puncak kasus yang parah dan yang tidak parah.

Pada 7 Desember, pemerintah pusat tiba-tiba mengumumkan pelonggaran tindakan pencegahan epidemi. Obat penurun demam di mana-mana langsung diserbu warga sehingga apotik dan toko obat kehabisan stok. Sistem medis dan pembakaran jenazah di banyak tempat kewalahan dalam menangani membludaknya permintaan.

Pada 14 Desember, Mike Ryan, Direktur Program Kedaruratan Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan pada konferensi pers bahwa jumlah infeksi COVID-19 di Tiongkok telah meningkat secara eksplosif.

Pada 22 Desember, Radio Free Asia yang mengutip seorang peneliti bermarga Li dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Kota Handan di Provinsi Hebei melaporkan bahwa pelonggaran pencegahan epidemi yang tiba-tiba di berbagai bagian Tiongkok telah menyebabkan infeksi silang yang sangat cepat. Menyebabkan infeksi silang yang cepat pada orang yang terinfeksi strain Omicron. Selain itu, strain Delta masih menyebar dan terus bermutasi, membuat situasi epidemi di Tiongkok menjadi lebih serius.

Peneliti tersebut menunjukkan bahwa karena blokade jangka panjang yang dilakukan PKT, jenis virus tidak memiliki waktu untuk bermutasi dari Delta ke Omicron, sehingga kedua jenis tersebut masih hidup berdampingan di Tiongkok. Setelah kedua strain mutan ini masuk ke dalam tubuh manusia, mereka dapat menginfeksi sel yang sama pada waktu yang bersamaan, sehingga memperparah kondisinya. Oleh karena itu, angka kematian di daratan Tiongkok lebih tinggi daripada di Hongkong, Singapura, dan wilayah lainnya. (sin)